Langsung ke konten utama

Sore (di) Tambak Oso Wilangun

Terminal Osowilangun Jam sudah menunjukkan pukul 17.45, langit juga mulai gelap. Mendung tampak rapat, hitam, dan menggelayut diatas awan. Sepertinya hujan akan segera tiba. Angkot dan mikrolet berbaris rapi, dilorong-lorong keberangkatan. Beraneka warna, mirip pelangi. Berharap mobil mereka penuh penumpang, pundi-pundi uang pun tak timpang. Beberapa kru bus, taksi dan angkot ngobrol tampak akrab. Sembari menunggu rejeki datang.

Lebih dua puluh menit lamanya, bus kota tujuan Purabaya, Kota Surabaya tak kunjung tiba. Dan angkot pun belum beranjak dari tempat semula. Itulah sekelumit gambaran Terminal Osowilangun. Terminal bus antarkota dan antar propinsi ini terletak dikawasan administratif Surabaya bagian barat, berbatasan langsung dengan Kota Pudak, Gresik. Jika dilihat sepintas dari jalan utama Surabaya-Gresik, terminal ini nampak terbengkalai. Entah salah arsitek atau pendanaan yang kurang, pembangunan gedung utama belum selesai hingga saat ini alias mangkrak.

Bangunan dua lantai tersebut hanya beratap rangka galvalum dan tampak mulai berkarat. Betonannya pun terlihat mulai berlumut dan dikelilingi rumput liar. Padahal, jika kita masuk ke area penurunan dan pemberangkatan penumpang, terminal ini sudah lengkap fasilitas umum (fasum). Mulai dari kantin, musholla, ruang tunggu hingga parkir kendaraan roda dua maupun roda empat. Area terminal ini cukup luas, namun beberapa titik dibiarkan terbengkalai. Andai saja pengelola terminal ini kreatif, bisa saja lahan kosong dimanfaatkan ruang terbuka hijau/ taman.

Atau apabila secara legalitas  diperbolehkan untuk komersial, lahan kosong bisa dimanfaatkan untuk sport center, misal untuk lapangan futsal maupun bulutangkis. Mengingat, terminal ini berada dikawasan industri dan pergudangan. Alternatif lainnya adalah perluasan area parkir untuk roda dua, tentunya dengan harga yang kompetitif dan ditunjang dengan tempat yang nyaman dan aman. Sebagai gambaran, parkir umum disekitar terminal jauh lebih murah dan tempatnya representatif. Tujuannya tak lain untuk menutup biaya operasional dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Pahlawan.

Pembangunan Terminal Wilangun ini untuk mengurangi kepadatan yang terjadi di Purabaya. Terpantau terminal ini terlihat crowded memasuki weekend dan momen libur panjang Idul Fitri, Nataru dan gelaran nasional (pemilu). Sedangkan untuk rutenya, terminal ini support untuk kota-kota di Provinsi Jawa Tengah serta Jawa Timur seperti Gresik, Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semesta Berdaya: Monolog Kersen di Tengah Krisis Ekologis

Masa keemasan dan Nostalgia Bukannya ingin menyombongkan diri, aku adalah tumbuhan favorit di era tahun 90-an, bahkan hingga awal milenium. Keberadaanku sangat dicari, terutama anak-anak. Mereka harus bersaing dengan kompetitor: burung, unggas dan berbagai satwa lainnya.  Aku termasuk pohon yang sangat mudah beradaptasi, terbukti aku bisa tumbuh di lanskap apapun—kadang di atas atap sekali pun, aku mampu bertahan hidup. Dari sisa feses hewan pun, aku bisa tumbuh dan berkembang biak. Di mana pun, aku cukup mudah dijumpai.  Namun, seperti makhluk hidup lainnya, jika aku boleh memilih, aku akan menunjuk tempat yang teduh, dengan suplai air yang melimpah. Konon, buahku sangat dinanti. Dari selentingan kabar yang beredar, ada khasiat istimewa: mencegah penyakit beri-beri. Konflik Manusia dan Burung Meskipun mulanya aku bagian dari rantai makanan burung-burung kecil, namun akibat ledakan jumlah manusia, kini habitat burung harus bertarung dengan mereka. Membludaknya populasi manusi...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Bali The Last Paradise

Boarding di Soekarno Hatta Menjelang Pagi Hari pertama, langsung gas. Tak kendor sedikitpun meski mata terasa berat. Kantuk melanda sebagian peserta. Efek berangkat dini hari, bahkan rombongan flight pertama (jam 05:00) sudah stand by di bandara Soetta sejak pukul 03:00 dini hari! Hebat bukan? Ya, peserta harus berada di titik kumpul sesuai arahan dari travel agent dua jam sebelum pesawat lepas landas. Hal ini untuk mempermudah baik panitia, agen perjalanan dan peserta koordinasi, dan pastinya tak ketinggalan pesawat!  Berangkat di pagi buta memang tak mudah bagi sebagian peserta (termasuk saya pribadi hehehe ). Dibutuhkan kemauan, semangat dan tekad yang luar biasa untuk bangkit dari tempat tidur, bersih badan alias mandi dan gosok gigi, jangan lupa pakai baju dan semprot parfum yang wangi! 😂 Beruntung itinerary sudah di share komite dari jauh hari. Jadi tak perlu bingung dan bimbang, bawaan yang “wajib” dibawa pada saat workshop berlangsung pun sudah lengkap diinformasikan,...