Langsung ke konten utama

Postingan

Bapak, Swargi Langgeng

 Jika aku bisa menyebutnya pahlawan, Jika aku bisa memanggilnya ksatria, Jika aku bisa memeluknya penuh sayang,  Jika aku bisa mencium keningnya,  pipinya, tangannya, kakinya   Namun tak bisa! Raga telah berpisah dengan ruh suci.  Mataku nanar melihat beliau pertama kali sakit parah, semua bermula ketika lomba  pitulasan  di kampung, mancing. Lomba yang rutin digelar sejak puluhan tahun lalu. Dan tak sekalipun Bapak absen! Mancing adalah hobi beliau, bahkan Bapaklah yang mengenalkanku mancing. Saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), beliau mengajakku ke kota untuk berjalan-jalan, masih pagi, ketika libur. Aku kira hanya sekedar jalan-jalan seperti biasa, tak tahunya  mampir  ke toko pancing. Hanya bisa membaca, tak tahu menahu bentuk dan model pancing. Bayangkanku pancing itu hanya sekedar lonjoran bambu yang dimodifikasi sedemikian rupa, hingga membentuk mirip galah, runcing dibagian depannya. Nyatanya, joran pancing...

Pikulan dan Pengemudi Ojol

Pikulan Riuh pagi selalu sama, tapi jangan salah, lakon setiap peristiwa bisa beda! Tak terkecuali pagi ini. Meskipun rutinitas berangkat kerja yang begitu-begitu saja, dan bisa jadi bertemu orang, bahkan armada yang sama, selalu terselip cerita unik dibaliknya.  Arloji menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, terminal seakan menolak sepi. Baru juga turun dari bus AKDP, pasukan opang sudah menyerbu. Pemandangan lumrah di pagi yang tak cerah.  Diantara lalu lalang pengunjung terminal, Bapak tua itu melangkah penuh harapan. Tubuh rentanya masih kuat menggendong tomblok di pundak.  Dua keranjang berisi penuh dengan buah. Pisang, mangga hingga sukun ada di sana. Bisa dibayangkan berapa beban yang harus di panggul?  Secepat-cepat langkah kaki ini, ternyata bertemu jua di bus kota. Beliau ternyata satu arah denganku. Suasana dalam bus masih landai, tak ramai seperti biasa. Gerakan tangannya seperti sudah terbiasa. Pikulan kayu sepanjang satu meter setengah itu dilepasnya...

Semesta Berdaya: Monolog Kersen di Tengah Krisis Ekologis

Masa keemasan dan Nostalgia Bukannya ingin menyombongkan diri, aku adalah tumbuhan favorit di era tahun 90-an, bahkan hingga awal milenium. Keberadaanku sangat dicari, terutama anak-anak. Mereka harus bersaing dengan kompetitor: burung, unggas dan berbagai satwa lainnya.  Aku termasuk pohon yang sangat mudah beradaptasi, terbukti aku bisa tumbuh di lanskap apapun—kadang di atas atap sekali pun, aku mampu bertahan hidup. Dari sisa feses hewan pun, aku bisa tumbuh dan berkembang biak. Di mana pun, aku cukup mudah dijumpai.  Namun, seperti makhluk hidup lainnya, jika aku boleh memilih, aku akan menunjuk tempat yang teduh, dengan suplai air yang melimpah. Konon, buahku sangat dinanti. Dari selentingan kabar yang beredar, ada khasiat istimewa: mencegah penyakit beri-beri. Konflik Manusia dan Burung Meskipun mulanya aku bagian dari rantai makanan burung-burung kecil, namun akibat ledakan jumlah manusia, kini habitat burung harus bertarung dengan mereka. Membludaknya populasi manusi...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Pororo, Pop-Up, dan Perpustakaan: Cerita Akhir Pekan Bersama Anak

Percakapan pagi hari Ide itu memang datang tiba-tiba, tak perlu diundang, namun masalahnya, kadang "eksekusinya" yang kurang. Benar kata orang kebanyakan, ide itu melayang di pikiran, tinggal kitanya saja, mau "petik" ide itu, atau membiarkannya hilang bersama bayang-bayang.  Ide tak perlu muluk-muluk, sederhana saja, yang penting Anda bisa langsung "beraksi". Termasuk pagi ini, selepas mengantar anak lanang  untuk ekskul, otak ini seolah berbisik, "bagaimana kalau setelah ini, kalian pergi ke perpustakaan kota?" Begitu godanya pagi itu.  Sementara dari balik telepon, emaknya anak-anak mengingatkan pesanannya, "jangan lupa beli obat dan vitamin " menutup percakapan. Sebelumnya tentu saja memastikan posisiku dimana, padahal jelas-jelas sedang perjalanan ngantar tole ke sekolahan.  Sambil mengendalikan motor beat hitam yang masih kinclong, bergegaslah menuju apotek, sesuai pesanan dewan pengawas rumah tangga. Boleh juga tawaran berakhir ...

Piknik dan Olahraga di Hutan Kota Terbesar di Kota Malang

Malang semriwing Pagi ini Malang hawanya semriwing , bahkan sejak semalam. Ditambah anginnya yang cukup kencang, merontokkan dedaunan tanaman di depan rumah. Meskipun Agustus adalah puncak kemarau, namun fakta di lapangan, hujan masih saja turun dari intensitas ringan hingga sedang.  Hujan tak merata ini, sudah cukup mendukung hawa anyeb  di Kota Pendidikan . Kemarau tak selalu kering kerontang. Salah satu cara terbaik untuk melawan dingin pagi ini ya tentu saja berjemur. Beruntung mentari pagi ini cukup terik, dengan mendung tipis menggantung di atas langit. Mumpung pada off di weekday dari rutinitas, spontan aku mengajak keluar bocil dan emaknya. Tak jauh-jauh, kami meluncur ke Lapangan Rampal .  Anak wedok memilih mengenakan sepatu dengan kaos kaki panjang, menutup hingga persis di bawah lutut. Sepatu putihnya itu menantang warna kaos kakinya yang kontras, merah menyala! Lucunya dia menggunakan daster tanpa lengan. Emaknya langsung komplain, "Sebentar ku ambil jaket"...