Langsung ke konten utama

Postingan

Mengupas Tips dan Trik untuk Memulai Menulis (Lagi)

Resensi:  Free Writing  Tulis Dulu, Salah Belakangan Penulis: Nurudin Penerbit: Selaksa Media Tahun: 2026 Tebal: 114 halaman Free Writing, Buku Karya Nurudin, Dosen UMM dan juga penulis buku.  Membaca judulnya saja, saya langsung penasaran. Tulis dulu, salah belakangan. Maksudnya gimana sih? Sudah capek bikin tulisan panjang lebar dan penuh drama, tiba-tiba diminta untuk revisi? Pasti sudah pada pernah kan? Entah itu waktu mengerjakan skripsi, tesis, atau bahkan di pekerjaan juga? Pernah merasakan hal yang serupa? Tak perlu khawatir, buku ini hadir untuk kalian yang kerap menghadapi kondisi tersebut. Buku ini dirancang tak hanya untuk penulis pemula, tapi penulis kawakan pun bisa mengambil ilmu dari buku Free Writing ini, yang mungkin sering mengalami “kemacetan” di tengah penulisan.  Orang menulis itu ibarat belajar berenang. Kalau ingin bisa, ya tidak ada pilihan lain selain terjun langsung ke kolam renang. Bukan hanya belajar tentang teorinya saja, tapi praktek! ...

Dari Unsur Terkecil di Tubuh Manusia, Ada Tanda Kebesaran-Nya

Kalau di logika, hidup ini hanya pengulangan. Hakikatnya berarti manusia itu mati setiap saat. Beliau melanjutkan narasinya. Suara lantang itu memecah keheningan di ruangan yang mungil.  Disusul tawa renyah kemudian. Bener nggak, Mas? Tanya beliau. Ruangan tak sunyi, kami ngobrol dengan rileks. Setiap ambil nafas misalnya, apa yang masuk dan keluar, berbeda.  Katanya sel manusia itu saling menggantikan, regenerasi. Lha kalau sel melakukan itu, pada dasarnya manusia itu mati setiap saat. Sistem tubuh kan butuh restart .  Setiap detik bisa saja henti jantung, tapi karena saking cepatnya pemulihan sel, tidak terasa kalau kita sebenarnya sedang "mati". Teman sebelah hanya mengangguk, sambil melempar senyum.  Justru yang ada dalam hatiku timbul tanya, apakah kecepatan regenerasi sel, lebih cepat dari cahaya? Entahlah.  Dari pembaruan sel, aku jadi mikir, berarti dunia dan seisinya ini melakukan daur ulang atas kehendak-Nya, yang maha segala-galanya.  Termasuk k...

Obrolan Satu Jam yang Penuh Skakmat

Obrolan itu mengalir dengan santai. Inilah yang dimaksud kerja sambil "luruh ilmu". Bertemu dengan seseorang, dimanapun itu, bukanlah sebuah kebetulan. Bertatap muka dengan berbagai macam manusia di lapangan itu, lebih berharga, daripada perjumpaan maya yang tiada nyata.  Interaksi itu akan "hidup" apabila tema yang disampaikan tak monoton, itu-itu saja. Feedback akan ada ketika frekuensi sinyal itu seirama, bukan menggurui, tapi lebih ke berbagi.  Berbagi pun, tak melulu soal materi. Bisa informasi, bisa juga ilmu. Bertemu dengan beliau di bulan baik, Ramadan, tepatnya di akhir Februari. Kesannya sederhana, kaos oblong putih tanpa kerah, dengan sepatu sporty .  Selintas mengingatkan saya dengan salah satu keluarga nyonya di Surabaya. Mirip. Namun, kalau ditamatkan, berbeda. Anda mesti pernah merasakan hal yang sama dalam menilai wajah seseorang dalam sepersekian detik.  Perawakannya tak terlalu gempal, biasa saja. Namun itu kelebihannya, lincah dan gesit. Langkahny...

Tempe, Amarah dan Darah!

Srintil sengaja menenteng tempe yang ia beli dari pasar, namun kali ini agak beda. Dia membawanya tanpa kantong plastik, ada lima biji. Tangan kanan kirinya pun penuh tempe di genggaman. Semuanya dibungkus daun pisang, mirip klepon bulang tanpa kotaknya. Ke pasar sendiri, hanya untuk membeli tempe.  Pasar yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya itu, sudah ramai, bahkan sebelum Subuh, geliat pasar rakyat mulai terlihat. Dari puluhan pedagang tempe yang tersebar di pasar itu, Srintil telah menjatuhkan pilihan alias berlangganan ke salah satu lapak, Tempe Ngisi Roso. Bukan tak beralasan, Srintil kerap membeli tempe di TNR, karena mengikuti jejak mendiang ibunya.  Tempe Ngisi Roso ini memang berhasil bertahan sampai ke generasi ketiga, setara dengan cucu hingga kini. Rasanya pun cukup terjaga, hanya saja mereka mulai sedikit mengikuti trend masa kini, tempe kemasan plastik! Selain lebih praktis dan efisien, tentu harganya lebih murah jika dibandingkan daun pisang atau jati....

Angon

Cuaca lagi dingin-dinginnya, curah hujan yang tinggi di tambah angin cukup kencang, membuat pohon pisang dan beberapa ranting pohon dengan batang yang rapuh, tampak tak berdaya. Berguguran. Sapuan angin itu juga memporak porandakan tanaman padi yang mulai menguning. Beruntung tak satupun hewan ternak Panjul jadi korban terjangan angin sore itu.  Kondisi cuaca memang tak menentu ditengah musim pancaroba, kadang panasnya menyengat, sejurus kemudian hujan turun dan petir menyambar. Situasi pelik tahunan ini sudah betul-betul dipahami Panjul, maklum dengan beranekaragam hewan ternak, membuat dia harus jeli membaca “petunjuk alam”.  Ayam, kambing, bebek dan juga lele adalah mata pencaharian bagi Panjul. Dari keempatnya, hanya ayam dan bebek lah yang menjadi andalannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Telur-telur yang dihasilkan dari hasil ternaknya itu memang tak menentu, tapi setidaknya bisa menyokong ekonominya dan keluarga.  Ayam kampung yang dilepas liarkan masih men...

Dollar oh Dollar, yuk Melunak

Nilai tukar rupiah terus terdepresiasi terhadap dolar Amerika, bahkan hari ini (03 Juni 2026) tembus hingga 17.962 per USD! Apa yang salah? Faktor geopolitik menjadi "pendukung" rupiah terus tunduk kepada dolar. Apa yang perlu dipersiapkan? Tentu ikat pinggang harus ditarik kencang, agar isi dompet tak gampang hilang. Naiknya harga dolar akan berdampak langsung pada kenaikan harga barang.  Transaksi antar negara saat ini masih sangat bergantung pada ketersediaan dolar di pasar. Masalahnya, dolar banyak beredar di negerinya sendiri, tempat dimana dolar di cetak, Amerika!  Ketika dolar menjadi barang komoditas layaknya beras, saat itu ketergantungan negara sangat tinggi, berapa pun harganya akan dibeli, karena kebutuhan.  Hukum ekonomi memang berjalan sempurna di sini, ada permintaan, ada harga yang mesti dibayar, apalagi jumlahnya terbatas.  Itulah sebabnya mengapa bank sentralnya Amrik, The Fed, menjadi sangat tenar ketika akan mengumumkan suku bunga. Alasannya satu,...

Bali The Last Paradise

Boarding di Soekarno Hatta Menjelang Pagi Hari pertama, langsung gas. Tak kendor sedikitpun meski mata terasa berat. Kantuk melanda sebagian peserta. Efek berangkat dini hari, bahkan rombongan flight pertama (jam 05:00) sudah stand by di bandara Soetta sejak pukul 03:00 dini hari! Hebat bukan? Ya, peserta harus berada di titik kumpul sesuai arahan dari travel agent dua jam sebelum pesawat lepas landas. Hal ini untuk mempermudah baik panitia, agen perjalanan dan peserta koordinasi, dan pastinya tak ketinggalan pesawat!  Berangkat di pagi buta memang tak mudah bagi sebagian peserta (termasuk saya pribadi hehehe ). Dibutuhkan kemauan, semangat dan tekad yang luar biasa untuk bangkit dari tempat tidur, bersih badan alias mandi dan gosok gigi, jangan lupa pakai baju dan semprot parfum yang wangi! 😂 Beruntung itinerary sudah di share komite dari jauh hari. Jadi tak perlu bingung dan bimbang, bawaan yang “wajib” dibawa pada saat workshop berlangsung pun sudah lengkap diinformasikan,...