Pagi yang biasa saja, lalu lalang kendaraan seolah mirip air, mengalir. Kadang deras, namun tiba-tiba berhenti, bukan karena sepi, tapi terhenti karena lampu menyala merah. Jawa Timur, khususnya Surabaya, masih "lebih" patuh pada rambu lalu lintas, dibandingkan Jakarta, meskipun peluang untuk sama, masih ada. Kalau sudah seperti itu, mobil dan motor berjajar rapi, padat. Mungkin kalau diambil gambar dari atas, kerumunan kendaraan itu mirip ular raksasa. Prinsipnya sama dengan air, akan teratur dengan sendirinya, sesuai wadahnya. Lalu lintas akan terasa seru ketika pagi dan sore, di Bundaran Waru yang tak pernah ingkar janji. Titik temu perlintasan antar kota, gerbang masuk dan keluar Kota Pahlawan. Area tersibuk dan terpadat, karena perlambatan akibat crossing yang terjadi. Bedanya, Surabaya tak punya bundaran semegah Jakarta, layaknya Bundaran HI. Namun, tak perlu meniru untuk sesuatu yang iconic. Biarkan saja Bundaran Waru menjadi dirinya sendiri, terlihat hijau nan...
Socio Article
Menulis bukan sekedar hobi, tapi berbagi! Saya datang, saya lihat (baca), saya tulis dan saya ingat! Tulisan itu abadi.