Angin menyapu debu jalanan, menghambur serupa percikan air dikala hujan. Kemarau membawa debu, hujan berteman banjir. Alam tak balas dendam, tapi mencoba menyeimbangkan keadaan. Manusia semakin kebablasan. Tanah dikeruk, air dieksploitasi, hutan dibakar, sungai beralih fungsi. Pepohonan tak luput dari penebangan, semua demi satu tujuan, kemajuan dan pembangunan. Se-modern apapun kehidupan, kalau tak respek sama alam, buat apa? Percuma. Toh manusia tak akan berkutik melawan semesta. Tak perlu kampanye tentang perlindungan alam kalau sekelumit dari kita menganggap bahwa selain manusia itu tak ada, mati. Pohon yang usianya ratusan tahun saja kau tebang tanpa ampun. Manusia tak mengenal adab, cenderung biadab. Memang tak semuanya, hanya segelintir yang punya nafsu angkara. Kalau tak percaya, coba tengok aktivitas manusia pada umumnya. Senin pagi. Senin selalu meriah meskipun berat mengawalinya. Jeda sehari atau dua hari dalam sepekan, membuat tubuh dan otak seolah enggan diajak ...
Socio Article
Menulis bukan sekedar hobi, tapi berbagi! Saya datang, saya lihat (baca), saya tulis dan saya ingat! Tulisan itu abadi.