Langsung ke konten utama

Postingan

Penggalan Cerita Kehidupan Kota

Seorang ibu dan putra kecilnya, menerobos pagi yang masih gelap. PJU masih menyala, kuning. Selintas baju yang dikenakan sama merahnya.  Berjalan begitu cepat, hingga kaki mungilnya tak mampu mengejar. Berhenti si Ibu sambil mengulurkan tangan. “Ayo Nak, buruan” mungkin kata-kata itu yang terlontar.  Tak ada jaket, mereka berdua menembus dinginnya Malang pagi itu. Di lengan kirinya, si Ibu menenteng beberapa tas plastik, dan tempat duduk.  Kursi plastik dengan empat kaki yang jenjang, juga berwarna merah. Merah, artinya berani. Termasuk menerjang gelap dan dingin Subuh hari.  Seolah tak mau membebani lelaki kecilnya, semua barang bawaan melekat di tubuh sang Ibu. Bergegas, bukan menyeret, demi rezeki menjelang pagi. Jalan menurun dan menanjak, tak mudah. Namun, itulah perjuangan, yang terpenting hijrah  saja dulu, untuk hasil pasrahkan saja pada-Nya.  Pintu gerbang pabrik terbuka, menunggu pekerja datang. Saat itu waktu yang pas menggelar barang dagang....

Wira-wiri dan Patas Abal-abal

Ada dua hal baru yang sedang ku coba hari ini, praktek di lapangan sebagai penumpang.  Pertama, nyoba naik Patas abal-abal. Seperti Senin biasanya, sebagai pekerja antar kota yang laju setiap hari, membaca momen itu penting. Suatu hari pernah ngobrol dengan bapak-bapak yang kit pack-nya sama, bawa ransel, berjaket dengan penutup kepala, serta masker menempel di mulut.  Percakapan itu muncul setelah kami sama-sama pindah bus karena ternyata kru busnya belum lengkap. Imbasnya harus nunggu lama, sedangkan denting waktu terus berjalan. Saya kira bus ini tadi Patas, Pak, karena tidak di jalur atau koridor yang benar, sambil menunjuk arah ke jalur Wilangun.  Kalau Senin mah bebas, Mas. Siapa yang siap, itu yang berangkat duluan. Karena kendala kalau Senin Subuh seperti ini, antara kru atau armadanya yang tidak siap. Aku hanya mengangguk, sembari menggali informasi. Saya juga sempat ditawari naik bus Patas di depan, tapi khawatir di getok. Meskipun kondekturnya sempat bilang sam...

Mengupas Tips dan Trik untuk Memulai Menulis (Lagi)

Resensi:  Free Writing  Tulis Dulu, Salah Belakangan Penulis: Nurudin Penerbit: Selaksa Media Tahun: 2026 Tebal: 114 halaman Free Writing, Buku Karya Nurudin, Dosen UMM dan juga penulis buku.  Membaca judulnya saja, saya langsung penasaran. Tulis dulu, salah belakangan. Maksudnya gimana sih? Sudah capek bikin tulisan panjang lebar dan penuh drama, tiba-tiba diminta untuk revisi? Pasti sudah pada pernah kan? Entah itu waktu mengerjakan skripsi, tesis, atau bahkan di pekerjaan juga? Pernah merasakan hal yang serupa? Tak perlu khawatir, buku ini hadir untuk kalian yang kerap menghadapi kondisi tersebut. Buku ini dirancang tak hanya untuk penulis pemula, tapi penulis kawakan pun bisa mengambil ilmu dari buku Free Writing ini, yang mungkin sering mengalami “kemacetan” di tengah penulisan.  Orang menulis itu ibarat belajar berenang. Kalau ingin bisa, ya tidak ada pilihan lain selain terjun langsung ke kolam renang. Bukan hanya belajar tentang teorinya saja, tapi praktek! ...

Dari Unsur Terkecil di Tubuh Manusia, Ada Tanda Kebesaran-Nya

Kalau di logika, hidup ini hanya pengulangan. Hakikatnya berarti manusia itu mati setiap saat. Beliau melanjutkan narasinya. Suara lantang itu memecah keheningan di ruangan yang mungil.  Disusul tawa renyah kemudian. Bener nggak, Mas? Tanya beliau. Ruangan tak sunyi, kami ngobrol dengan rileks. Setiap ambil nafas misalnya, apa yang masuk dan keluar, berbeda.  Katanya sel manusia itu saling menggantikan, regenerasi. Lha kalau sel melakukan itu, pada dasarnya manusia itu mati setiap saat. Sistem tubuh kan butuh restart .  Setiap detik bisa saja henti jantung, tapi karena saking cepatnya pemulihan sel, tidak terasa kalau kita sebenarnya sedang "mati". Teman sebelah hanya mengangguk, sambil melempar senyum.  Justru yang ada dalam hatiku timbul tanya, apakah kecepatan regenerasi sel, lebih cepat dari cahaya? Entahlah.  Dari pembaruan sel, aku jadi mikir, berarti dunia dan seisinya ini melakukan daur ulang atas kehendak-Nya, yang maha segala-galanya.  Termasuk k...

Obrolan Satu Jam yang Penuh Skakmat

Obrolan itu mengalir dengan santai. Inilah yang dimaksud kerja sambil "luruh ilmu". Bertemu dengan seseorang, dimanapun itu, bukanlah sebuah kebetulan. Bertatap muka dengan berbagai macam manusia di lapangan itu, lebih berharga, daripada perjumpaan maya yang tiada nyata.  Interaksi itu akan "hidup" apabila tema yang disampaikan tak monoton, itu-itu saja. Feedback akan ada ketika frekuensi sinyal itu seirama, bukan menggurui, tapi lebih ke berbagi.  Berbagi pun, tak melulu soal materi. Bisa informasi, bisa juga ilmu. Bertemu dengan beliau di bulan baik, Ramadan, tepatnya di akhir Februari. Kesannya sederhana, kaos oblong putih tanpa kerah, dengan sepatu sporty .  Selintas mengingatkan saya dengan salah satu keluarga nyonya di Surabaya. Mirip. Namun, kalau ditamatkan, berbeda. Anda mesti pernah merasakan hal yang sama dalam menilai wajah seseorang dalam sepersekian detik.  Perawakannya tak terlalu gempal, biasa saja. Namun itu kelebihannya, lincah dan gesit. Langkahny...

Tempe, Amarah dan Darah!

Srintil sengaja menenteng tempe yang ia beli dari pasar, namun kali ini agak beda. Dia membawanya tanpa kantong plastik, ada lima biji. Tangan kanan kirinya pun penuh tempe di genggaman. Semuanya dibungkus daun pisang, mirip klepon bulang tanpa kotaknya. Ke pasar sendiri, hanya untuk membeli tempe.  Pasar yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya itu, sudah ramai, bahkan sebelum Subuh, geliat pasar rakyat mulai terlihat. Dari puluhan pedagang tempe yang tersebar di pasar itu, Srintil telah menjatuhkan pilihan alias berlangganan ke salah satu lapak, Tempe Ngisi Roso. Bukan tak beralasan, Srintil kerap membeli tempe di TNR, karena mengikuti jejak mendiang ibunya.  Tempe Ngisi Roso ini memang berhasil bertahan sampai ke generasi ketiga, setara dengan cucu hingga kini. Rasanya pun cukup terjaga, hanya saja mereka mulai sedikit mengikuti trend masa kini, tempe kemasan plastik! Selain lebih praktis dan efisien, tentu harganya lebih murah jika dibandingkan daun pisang atau jati....

Angon

Cuaca lagi dingin-dinginnya, curah hujan yang tinggi di tambah angin cukup kencang, membuat pohon pisang dan beberapa ranting pohon dengan batang yang rapuh, tampak tak berdaya. Berguguran. Sapuan angin itu juga memporak porandakan tanaman padi yang mulai menguning. Beruntung tak satupun hewan ternak Panjul jadi korban terjangan angin sore itu.  Kondisi cuaca memang tak menentu ditengah musim pancaroba, kadang panasnya menyengat, sejurus kemudian hujan turun dan petir menyambar. Situasi pelik tahunan ini sudah betul-betul dipahami Panjul, maklum dengan beranekaragam hewan ternak, membuat dia harus jeli membaca “petunjuk alam”.  Ayam, kambing, bebek dan juga lele adalah mata pencaharian bagi Panjul. Dari keempatnya, hanya ayam dan bebek lah yang menjadi andalannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Telur-telur yang dihasilkan dari hasil ternaknya itu memang tak menentu, tapi setidaknya bisa menyokong ekonominya dan keluarga.  Ayam kampung yang dilepas liarkan masih men...