Langsung ke konten utama

Dollar oh Dollar, yuk Melunak

Nilai tukar rupiah terus terdepresiasi terhadap dolar Amerika, bahkan hari ini (03 Juni 2026) tembus hingga 17.962 per USD! Apa yang salah? Faktor geopolitik menjadi "pendukung" rupiah terus tunduk kepada dolar.

Apa yang perlu dipersiapkan? Tentu ikat pinggang harus ditarik kencang, agar isi dompet tak gampang hilang. Naiknya harga dolar akan berdampak langsung pada kenaikan harga barang. 

Transaksi antar negara saat ini masih sangat bergantung pada ketersediaan dolar di pasar. Masalahnya, dolar banyak beredar di negerinya sendiri, tempat dimana dolar di cetak, Amerika! 

Ketika dolar menjadi barang komoditas layaknya beras, saat itu ketergantungan negara sangat tinggi, berapa pun harganya akan dibeli, karena kebutuhan. 

Hukum ekonomi memang berjalan sempurna di sini, ada permintaan, ada harga yang mesti dibayar, apalagi jumlahnya terbatas. 

Itulah sebabnya mengapa bank sentralnya Amrik, The Fed, menjadi sangat tenar ketika akan mengumumkan suku bunga. Alasannya satu, dampak jumlah uang dolar beredar di pasar dunia semakin ketat. 

Ketika imbal hasil di negara asalnya lebih menggiurkan, investor dan spekulan akan berbondong-bondong memulangkan dana mereka dari negara lainnya. 

Termasuk "eksodus" dari pasar saham di Indonesia yang saat ini masih berlangsung, imbasnya IHSG tertekan, terus memerah. Arus dana keluar tak terbendung.

Mereka (investor dan spekulan) lebih percaya pada imbal hasil dan keamanan uang investasi mereka di negeri sendiri.

Sebegitu rumitnya dunia ini jika tergantung hanya pada satu mata uang. Dolar. 

Kalau Amerika kekurangan uang, tinggal cetak saja sebanyak-banyaknya. Tujuannya bukan untuk pemenuhan dalam negeri, tetapi "dijual" ke pasar.

Indonesia bukan sekali ini saja menghadapi hal serupa. Kondisi global yang tak menentu karena perang berkepanjangan, membuat rantai pasok terganggu. Tahun 2008, Indonesia mampu melewatinya dengan baik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.  Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan!  Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat.  Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya ...

Masjid Merah Pandaan: Wisata Unik di Jawa Timur yang Layak Dikunjungi!

Playground Eat and Play Layar handphone tiba-tiba berdering, dari nadanya memang bukan panggilan telepon, tapi pesan singkat yang masuk. "Sudah otw kah?", pertanyaan singkat yang mengingatkanku pada janji. "Sudah di parkiran" jawabku singkat lengkap dengan emoticon senyum lebar. Pesan super "penting"itu datang dari emak-nya anak-anak alias nyobes (singk: nyonya besar) . Libur sekolah sudah lewat hampir dua minggu, namun sore ini baru berencana jalan. Hampir empat bulan bocil tak main ke playground , layaknya rutinitas yang kami jalani selama merantau ke Jakarta. Setiap bulan, minimal sekali, "ritual" sambang tempat bermain di Blok M Square, Eat and Play. Selain taman kota yang jadi andalan kami sekeluarga. Jika dihitung, lebih "hemat" daripada harus pergi ke wisata ke Bogor atau Bandung. Dari namanya saja jelas, eat and play. Selepas main dengan puas, yang jelas perut dan mulut akan timbul rasa lapar dan dahaga hahaha Hal lumrah ketik...

Pengamen, Pengantar Paket, dan Pekerja Urban

Suasana pagi itu tak terlalu cerah. Mendung tipis menghalangi mentari pagi, sendu begitu orang kebanyakan menyebutnya. Meskipun udara pagi terasa begitu dingin, namun sebagai “pekerja keras”, dilarang kendor untuk menjemput rejeki. Nyaris tak ada yang istimewa dengan hari sebelumnya. Diantara sekian banyak penumpang di pagi hari, 20-40 persennya adalah orang yang sama, repetitif. Namun inilah yang membuat istimewa. Guratan cerita akan selalu ada tersimpan rapi di ingatan. Termasuk pagi ini di atas bus kota.  Ada kebiasaan sederhana yang bisa diamati selama perjalanan singkat di dalam bus kota. Hadirnya TWS atau headset nirkabel, membuat muda-mudi sekarang lebih memilih “menyumpal” telinga, daripada ngobrol dengan sebelahnya. Tak sedikit juga yang scrolling layar smartphone mereka, sekedar menikmati algoritma sekian, entah itu medsos atau portal berita. Namun dari sekian kebiasaan, ada satu kebiasaan yang menjadi perhatian, berdzikir.  Ibu-ibu berjilbab itu naik dari halte yan...