Langsung ke konten utama

Mengupas Tips dan Trik untuk Memulai Menulis (Lagi)

Resensi: Free Writing Tulis Dulu, Salah Belakangan

Penulis: Nurudin

Penerbit: Selaksa Media

Tahun: 2026

Tebal: 114 halaman

Free Writing, Buku Karya Nurudin, Dosen UMM dan juga penulis buku. 

Membaca judulnya saja, saya langsung penasaran. Tulis dulu, salah belakangan. Maksudnya gimana sih? Sudah capek bikin tulisan panjang lebar dan penuh drama, tiba-tiba diminta untuk revisi? Pasti sudah pada pernah kan? Entah itu waktu mengerjakan skripsi, tesis, atau bahkan di pekerjaan juga?

Pernah merasakan hal yang serupa? Tak perlu khawatir, buku ini hadir untuk kalian yang kerap menghadapi kondisi tersebut. Buku ini dirancang tak hanya untuk penulis pemula, tapi penulis kawakan pun bisa mengambil ilmu dari buku Free Writing ini, yang mungkin sering mengalami “kemacetan” di tengah penulisan. 

Orang menulis itu ibarat belajar berenang. Kalau ingin bisa, ya tidak ada pilihan lain selain terjun langsung ke kolam renang. Bukan hanya belajar tentang teorinya saja, tapi praktek! Meskipun harus menenggak air kolam, atau hidung panas dan telinga budek (kemasukan air), semua “kesakitan” itu bagian dari proses. 

Coba bayangkan kalau calon atlet renang itu berhenti belajar, apa yang terjadi? Kegagalan. Pun begitu dengan menulis. Jangan patah semangat ketika karya tulis kita diejek dan dibully habis-habisan entah itu di medsos atau di platform manapun. Menulis tidak untuk menyenangkan semua orang, ujar Nurudin dalam buku ini. 

Tulisan setiap individu selalu punya “pasar”-nya sendiri. Sebagai dosen dan penulis senior, beliau tidak pernah pelit untuk berbagi ilmu. Bahkan saya baru ngeh yang dimaksud pasar tulisan itu ya di buku Free Writing ini.

Menariknya dalam buku ini juga mengungkap mitos bahwa menulis itu bakat. Dengan bahasa yang ringan dan mengalir, membuat buku ini seolah mengajak kita kembali ke tahun 90-an. Bagaimana struggle-nya beliau hingga bisa seperti saat ini. Terbukti, meski tak terlahir dari keluarga sastrawan, beliau mahir menulis seperti saat ini. 

Keterbatasan bukanlah alasan untuk terus tertinggal. Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan beliau dalam buku ini. Menulis naskah dengan mesin ketik jadul, mengirimkan hasil tulisan dengan perangko, semuanya pernah diperjuangkan. Demi satu cita-cita yang sempat diremehkan, kamu tidak berbakat dalam menulis.

Tulis saja dulu, koreksi belakangan

Banyak di antara penulis pemula yang ngetik-hapus-ngetik-hapus yang ujungnya tak ada karya yang dihasilkan. Sayang bukan? Dalam buku ini juga dibagikan tentang cara penulisan, baik itu tulisan bebas atau tulisan ilmiah.

Syarat untuk bisa menulis cukup simpel, kemauan dan keberanian. Tapi untuk menghasilkan karya tulis yang bagus, tentu butuh input atau masukan yang bagus juga. Beliau menganalogikan menulis itu ibarat kendi kosong atau ilmu kendi. 

Kendi akan terasa nikmat dan segar (tentu saja dingin) apabila diisi dengan air yang bersih dan jernih. Sebaliknya, kalau diisi dengan air yang kotor dan berbau, kendi akan mengikuti isinya. Analogi kendi ini unik, karena mayoritas menggunakan gelas kosong.

Setelah naskah selesai jangan buru-buru untuk lakukan koreksi atau editing. Kasih jeda agar pikiran dan otak cooling down. Tak ada salahnya meminta koreksi ke teman atau pasangan, untuk membaca karya tulis kita.

Free Writing untuk Pemula

Free writing bukan berarti bebas dari penggunaan kaidah bahasa Indonesia atau EYD. Free writing yang dimaksud adalah bebas menulis apa saja, entah yang sedang kita lihat, dengar atau baca. Libatkan panca indera.

Menulis apa adanya, mungkin itu maksudnya. Tulisan akan terasa jujur dan apa adanya ketika penyampaiannya dilakukan secara sederhana dan tak bertele-tele. Justru tulisan seperti inilah yang mempunyai “nyawa”.

Sayangnya buku setebal 114 halaman ini mirip buku cerita yang tamat sebelum selesai dibaca. Meskipun sudah ada beberapa contoh penulisan kalimat ilmiah dan menulis bebas, tapi menurut saya seperti ada yang kurang. Harapannya ada buku lanjutan untuk menjelaskan detail teknis tulis menulis, terutama untuk pemula.

Tertolong Buku Free Writing

Menulis itu butuh konsistensi. Tulis apa saja asal bisa menjaga asa untuk menjadi penulis, setidaknya buat diri sendiri. Lima menit, sepuluh menit dengan satu kalimat atau satu paragraf, lebih baik daripada tak menulis sama sekali.

Semangat memang sering naik turun mirip rute trekking di kaki Gunung Gede Pangrango, tapi setelah membaca buku ini menjadi paham, bahwa ajeg dalam menulis itu sangat penting. Menyerah itu jika tak ada satu kata pun terangkai menjadi karya (naskah). 

Jadi setelah membaca buku ini, Anda tak hanya ingin menulis, tapi benar-benar menulis detik ini juga (kalau hitungan hari khawatir lupa hehehe). 

Tulis saja dulu, daripada bengong, bener nggak?

Resensi oleh Randy Herlambang

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang

Website https//:www.besongol.xyz

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragunan: Kebun Binatang yang Mustahil Dikunjungi Sekali Saja

Berkesempatan berkunjung ke Kebun Binatang Ragunan atau Taman Margasatwa Ragunan (TMR) menjadi pengalaman unik sekaligus menarik. Dibalik bangunan tinggi menjulang di Jakarta, keberadaan TMR menjadi pembeda! Kawasan hijau nan asri di Selatan Jakarta ini bisa dibilang "paru-paru kota" yang cukup luas. Keberadaan pepohonan yang rimbun dan bermacam-macam jenisnya jadi hal unik untuk dipelajari. Disamping fauna yang jumlahnya ribuan, flora yang tersebar di TMR ini juga tak kalah jumlah dan ragamnya. Setiap pohon yang ditanam, disediakan papan informasi dan profilnya, pun begitu dengan hewannya. Kesan pertama yang terlintas begitu menginjakkan kaki di Ragunan, meneduhkan!  Dari sejarahnya, taman yang memiliki luas kurang lebih 147 hektar ini merupakan relokasi dari taman Cikini yang dulu bernama Planten en Dierentuin. Didirikan oleh Culturele Vereniging Planten en Dierentuin diatas tanah 10 Ha yang merupakan pemberian Raden Saleh dimasa pendudukan Belanda, atau dikenal dengan nama...

Bali The Last Paradise

Boarding di Soekarno Hatta Menjelang Pagi Hari pertama, langsung gas. Tak kendor sedikitpun meski mata terasa berat. Kantuk melanda sebagian peserta. Efek berangkat dini hari, bahkan rombongan flight pertama (jam 05:00) sudah stand by di bandara Soetta sejak pukul 03:00 dini hari! Hebat bukan? Ya, peserta harus berada di titik kumpul sesuai arahan dari travel agent dua jam sebelum pesawat lepas landas. Hal ini untuk mempermudah baik panitia, agen perjalanan dan peserta koordinasi, dan pastinya tak ketinggalan pesawat!  Berangkat di pagi buta memang tak mudah bagi sebagian peserta (termasuk saya pribadi hehehe ). Dibutuhkan kemauan, semangat dan tekad yang luar biasa untuk bangkit dari tempat tidur, bersih badan alias mandi dan gosok gigi, jangan lupa pakai baju dan semprot parfum yang wangi! 😂 Beruntung itinerary sudah di share komite dari jauh hari. Jadi tak perlu bingung dan bimbang, bawaan yang “wajib” dibawa pada saat workshop berlangsung pun sudah lengkap diinformasikan,...

Topeng: Antara Ngopi dan Melamun

"Bro, weekend kita jalan kemana?" "Ngopi bareng yuk, Sob?", "Bagaimana kalau kita hiking tipis-tipis, nyari hawa segar?". " Jogging rame-rame yuk di car free day !" Atau ajakan lain yang sifatnya "kolektif", pastinya familiar dong dengan kalimat-kalimat itu?  Sewajarnya manusia memang hidup secara berkelompok dan berinteraksi satu sama lain. Manusia memang tercipta saling bergantung, tak hanya dengan sesama, tapi juga dengan sekitarnya, termasuk alam.  Saking sosialnya, terkadang jelema lupa untuk menjadi diri sendiri. Takut ditolak, takut tak "sefrekuensi", takut berbeda pendapat, dan masih banyak ketakutan-ketakutan lain, yang menjadi momok masing-masing individu.  Makhluk sosial itu lebih memilih berdamai dengan keadaan diluar dirinya, demi satu tujuan, penerimaan! Mereka cenderung bertahan dan menerima begitu saja kondisi yang dihadapi. Beruntungnya Tuhan memberikan kemampuan adaptasi yang luar biasa itu!  Banyak bertan...