Langsung ke konten utama

Transportasi umum itu kebutuhan, bukan pilihan!

Kalau ditanya produktif mana berangkat kerja, naik moda transportasi umum atau kendaraan pribadi? Setiap orang akan menjawab dengan sudut pandang masing-masing. 

Bagi sebagian orang menggunakan moda transportasi publik lebih produktif dibanding harus menyetir sendiri. Namun mesti ada yang berpendapat, berkendara dengan  kendaraan pribadi jauh lebih produktif daripada harus "susah payah" berjibaku di halte atau terminal bus atau angkot. 

Kedua jawaban itu valid dan tidak ada yang paling benar. Produktif bagi penikmat transportasi publik bisa jadi dari sisi finansial, lebih hemat. Apalagi pemerintah sedang mendorong masyarakat untuk menggunakan fasilitas itu. Kemacetan yang timbul di tengah kota besar, salah satu pemicunya, ya membludaknya kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat. Saat ini, Jawa Timur, sedang fokus terhadap perbaikan sarana dan prasarana transportasi umum.

Pemprov Jatim bahkan aktif berupaya untuk mendorong mobilisasi masyarakatnya menggunakan Trans Jatim. Terobosan ini layak diacungi jempol, mengingat kehadirannya sangat membantu pekerja yang berdomisili di area sekitar Gerbangkertasusila.

Bahkan terakhir, koridor I juga mulai masuk ke Kota Malang. Antusiasme warga juga luar biasa. Terlihat pada saat launching, antrian mengular di setiap halte bus. Koridor ini akan selalu ramai, karena menghubungkan Kota Malang dan Kota Wisata Batu (akronim: KWB). Berakhir pekan cuma Rp. 10.000? Ya naik TransJatim saja! Itu ongkos PP per orang ya. 

Lantas apa hubungan produktivitas dan kondisi lalu lintas? 

Sederhananya, ketika kita sudah menyiapkan semuanya, mulai dari bekal makanan, materi dan waktu, tiba-tiba ada kejadian diluar dugaan, lalu lintas di tol maupun jalur reguler macet. Imbas dari volume yang tinggi. Pernah nggak kita menghitung, waktu dan biaya yang dihabiskan ketika macet? Dua sampai tiga jam di jalanan tak hanya menguras emosi, tapi juga uang!

Mari berhitung. Dua jam itu setara dengan upah Rp.66.000 di DKI Jakarta. Ini baru sehari ya! tinggal dikalikan saja sebulan berapa? Asumsi sebulan adalah 22 hari kerja, setara Rp.1.450.000,- Angka yang sering tak kita sadari, namun diam-diam menggerogoti penghasilan setiap bulan!

Di kota besar, pemandangan ini menjadi biasa dan normal, hanya perlu menyesuaikan jam keberangkatan. Semakin pagi, tentu untuk menjangkau tempat kerja lebih cepat dan mudah. Bahkan di Jakarta tak ada istilah jarak, yang ada ya cuma waktu tempuh. Jarak tak penting, namun detik, menit, dan jam jauh lebih penting! Dulu ketika masih berdinas di ibukota Jakarta, mendapati sejumlah rekan kerja harus berangkat selepas subuh itu lumrah. Katanya untuk kenyamanan dan menjaga mental agar tetap waras.

Rutinitas itu bahkan dijalani sepanjang berkarir, puluhan tahun lamanya. Meski tak semua orang memilih cara yang sama, namun patut diacungi jempol dengan konsistensinya, istiqomah. Ajeg kalau orang Jawa bilang. Selain waktu yang terbuang sia-sia, ongkos yang dikeluarkan pun bisa berlipat, terutama pengguna kendaraan pribadi. 

Tenaga terkuras untuk konsentrasi saat nyetir, sementara liter demi liter menguap begitu saja tiada guna. Akan diperparah ketika mood yang kurang mendukung, jadilah "otak" berantakan. Perjalanan yang seharusnya biasa saja, justru berubah menjadi ujian mental! Tentu kondisi ini tak ideal bagi pekerja, lantas adakah solusi untuk mengatasinya?

Transportasi umum, kebutuhan primer masyarakat

TransJatim, KRL, Wira-wiri dan sejenisnya, saat ini menjadi kebutuhan primer masyarakat urban. Terutama yang tinggal di pinggiran atau kota satelit. Selain berbiaya murah, moda transportasi ini memiliki ketepatan waktu yang baik dibanding moda yang lainnya. Keberadaan armada bisa dipantau secara real-time alias setiap saat! 

Melalui aplikasi yang dikembangkan oleh pemangku kebijakan dan pemerintah, calon penumpang lebih tenang tanpa cemas sedikitpun memikirkan ketersediaan armadanya. Memang di peak hour atau puncak-puncaknya jam sibuk, harus berjibaku dengan calon penumpang lainnya! Tak perlu khawatir, karena setiap sepuluh menit armada dibelakangnya menyusul.

Sistem transum yang terletak di timur jawa ini bukan tak ada celah, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki. Perbaikan yang kontinyu, akan membuat masyarakat tergerak untuk ikut berpartisipasi menggunakan transportasi umum. Kemudahan akses serta fasilitas yang tersedia, akan menjadi pertimbangan, sebelum memutuskan untuk "loyal" dengan moda tersebut. Tentu yang terpenting adalah faktor keamanan dan kenyamanan selama perjalanan.

Hidup di tengah hiruk pikuk kota dengan mobilitas yang tinggi menuntut kita selalu adaptif. Bertahan dengan ketidakpastian di jalan, atau beralih pada sistem transportasi terintegrasi dan tentu efisien. Di titik ini transum bukan lagi alternatif--melainkan kebutuhan.

#Transum #Jatim #Transportasi #Pekerja #Karyawan #UrbanEmployee #Surabaya #Suroboyo



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semesta Berdaya: Monolog Kersen di Tengah Krisis Ekologis

Masa keemasan dan Nostalgia Bukannya ingin menyombongkan diri, aku adalah tumbuhan favorit di era tahun 90-an, bahkan hingga awal milenium. Keberadaanku sangat dicari, terutama anak-anak. Mereka harus bersaing dengan kompetitor: burung, unggas dan berbagai satwa lainnya.  Aku termasuk pohon yang sangat mudah beradaptasi, terbukti aku bisa tumbuh di lanskap apapun—kadang di atas atap sekali pun, aku mampu bertahan hidup. Dari sisa feses hewan pun, aku bisa tumbuh dan berkembang biak. Di mana pun, aku cukup mudah dijumpai.  Namun, seperti makhluk hidup lainnya, jika aku boleh memilih, aku akan menunjuk tempat yang teduh, dengan suplai air yang melimpah. Konon, buahku sangat dinanti. Dari selentingan kabar yang beredar, ada khasiat istimewa: mencegah penyakit beri-beri. Konflik Manusia dan Burung Meskipun mulanya aku bagian dari rantai makanan burung-burung kecil, namun akibat ledakan jumlah manusia, kini habitat burung harus bertarung dengan mereka. Membludaknya populasi manusi...

Ragunan: Kebun Binatang yang Mustahil Dikunjungi Sekali Saja

Berkesempatan berkunjung ke Kebun Binatang Ragunan atau Taman Margasatwa Ragunan (TMR) menjadi pengalaman unik sekaligus menarik. Dibalik bangunan tinggi menjulang di Jakarta, keberadaan TMR menjadi pembeda! Kawasan hijau nan asri di Selatan Jakarta ini bisa dibilang "paru-paru kota" yang cukup luas. Keberadaan pepohonan yang rimbun dan bermacam-macam jenisnya jadi hal unik untuk dipelajari. Disamping fauna yang jumlahnya ribuan, flora yang tersebar di TMR ini juga tak kalah jumlah dan ragamnya. Setiap pohon yang ditanam, disediakan papan informasi dan profilnya, pun begitu dengan hewannya. Kesan pertama yang terlintas begitu menginjakkan kaki di Ragunan, meneduhkan!  Dari sejarahnya, taman yang memiliki luas kurang lebih 147 hektar ini merupakan relokasi dari taman Cikini yang dulu bernama Planten en Dierentuin. Didirikan oleh Culturele Vereniging Planten en Dierentuin diatas tanah 10 Ha yang merupakan pemberian Raden Saleh dimasa pendudukan Belanda, atau dikenal dengan nama...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...