Obrolan itu mengalir dengan santai. Inilah yang dimaksud kerja sambil "luruh ilmu". Bertemu dengan seseorang, dimanapun itu, bukanlah sebuah kebetulan. Bertatap muka dengan berbagai macam manusia di lapangan itu, lebih berharga, daripada perjumpaan maya yang tiada nyata.
Interaksi itu akan "hidup" apabila tema yang disampaikan tak monoton, itu-itu saja. Feedback akan ada ketika frekuensi sinyal itu seirama, bukan menggurui, tapi lebih ke berbagi.
Berbagi pun, tak melulu soal materi. Bisa informasi, bisa juga ilmu. Bertemu dengan beliau di bulan baik, Ramadan, tepatnya di akhir Februari. Kesannya sederhana, kaos oblong putih tanpa kerah, dengan sepatu sporty.
Selintas mengingatkan saya dengan salah satu keluarga nyonya di Surabaya. Mirip. Namun, kalau ditamatkan, berbeda. Anda mesti pernah merasakan hal yang sama dalam menilai wajah seseorang dalam sepersekian detik.
Perawakannya tak terlalu gempal, biasa saja. Namun itu kelebihannya, lincah dan gesit. Langkahnya saja mirip atlet jalan cepat di lintasan perlombaan.
Pertemuan pertama dan kedua, mungkin masih kaku, tak banyak yang dibicarakan. Namun, akan berbeda jika pertemuan ketiga dan seterusnya. Terhitung sudah lima kali bertatap muka, namun pertemuan hari ini berbeda.
Setelah hampir dua jam membahas pekerjaan, entah apa yang menggiring kami membicarakan filsafat dan logika. Tema yang dalam dan mungkin bikin kebanyakan orang mengantuk.
Namun bagi saya, inilah waktunya ngluruh ilmu. Secara usia, beliau sudah matang, hampir kepala lima, namun jangan ditanya kalau tentang hobinya, baca buku sejarah dan filsafat!
Menariknya, beliau menjadikan ayat pembuka Al-Quran sebagai pedoman, Al-Fatihah. Beberapa literasi yang sudah ditamatkan "hanya" untuk membedah ayat 1-7, termasuk Basmallah. Butuh satu tahun! Semua beliau lakukan demi sebuah "pencarian" kesejatian.
Usia nol sampe empat puluh satu tahun, saya berdoa tanpa mengerti maknanya. Ujar beliau. Saya sholat, tapi saya tidak tau apa isi doa yang saya baca.
Hingga pada titik terendahnya divonis dokter usia beliau hanya tersisa beberapa jam. Itulah titik balik saya. Beliau mengenang.
Terlihat dari raut muka, air mata itu memilih tertahan di kantung mata, daripada harus menetes ke pipi.
Seorang laki-laki yang visioner
Gaya bicaranya lugas, tak ada yang ditutupi. Meskipun jebolan salah satu universitas negeri ternama di negeri ini, beliau tetap sederhana dan membumi.
Beliau punya beberapa saham di perusahaan, namun menganggap itu adalah tabungan, yang bisa saja dibutuhkan ketika keadaan memaksa. Dari seorang karyawan perusahaan ternama, sampai akhirnya resign, memilih untuk berusaha sendiri.
Saya resign lebih ke panggilan hati, Mas. Antara hati dan pekerjaan yang saya lakukan, tidak sinkron. Sampai suatu saat, beliau dikirim mengikuti training di salah satu negara di Benua Eropa, tepatnya di Skotlandia.
Tiga bulan beliau belajar untuk memperdalam ilmu kimia, sesuai background ijazah strata 1-nya. Tiga minggu saya jet lag dan penyesuaian suhu. Demam.
Orang teknik memang detail, tapi biasanya hanya terkait dengan bidangnya, bukan menganalisa keadaan. Inilah yang berbeda dari beliau, membaca, menganalisa, dan menyimpulkan suatu keadaan.
Saya sakit, bukannya saya ke klinik, tapi dokternya nyamperin saya ke rumah. Hari pertama, tanpa resep. Hanya disarankan istirahat dan banyak minum air putih.
Jika dalam tiga hari tidak sembuh, maka wajib tes darah, tak perlu ke laboratorium, dokternya datang lagi, ambil sampel darah. Dari hasil lab inilah, nanti baru muncul resep dokternya!
Belum lagi tentang restoran di sana. Semuanya self service. Tak ada ceritanya meja berserakan sisa makanan dan tisu, semua bersih seperti sediakala. Bahkan kantong sampah pun bawa sendiri.
Saya yang sok yes di negara sendiri, ternyata pengetahuan saya setara dengan anak sekolah kejuruan! Sertifikasi profesi di sana sangat dihargai.
Tulisan ini ku buat sebagai pengingat dan motivasi, yang mungkin sebelumnya belum pernah ku dapat. Luruh ilmu tak melulu dari ruang kelas dan diskusi formal, dari rekan kerja pun kita bisa menemukan "guru" yang tak pernah ada di sekolah.
Semoga tulisan himbauan tentang sampah, harap siram yang bersih setelah kencing dan berak, akan segera hilang di dinding ponten (red: toilet) umum dan masjid.
Sejatinya bukan himbauan yang dibutuhkan, tapi kesadaran.
Di atas bus Restu Panda yang melaju dari Kota Surabaya menuju Malang
10 Juni 2026

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Untuk saran dan kritik perbaikan sangat terbuka. Silahkan tinggalkan komentar