Langsung ke konten utama

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi

Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.

 Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan! 

Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat. 

Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya diisi. 

Bekal nasi dan lauk pauk selalu siap sedia,  jangan sampai ketinggalan. Selain hemat, bawa makanan dari rumah itu lebih ekonomis, higienis dan praktis. Meskipun memang di pinggir jalan atau di kantin masakannya lebih menggoda. 

Namun, tak sedikit pun aku bergeming. Hanya menggumam dalam hati ketika mendapati penjual nasi berjajar di sepanjang jalan yang ku lalui pagi ini, “Maaf belum beli, sudah bawa bekal dari rumah”. Sembari mendoakan, semoga dagangannya laris PakDhe, Budhe. 

Elf

Perjalanan tak lebih dari sepuluh menit untuk menjangkau terminal tipe A di Jatim ini. Elf dengan nama Vegas di depan, dan Dora di belakang, lamat-lamat dari kejauhan lampu kota yang mirip ublik itu menyala, rupanya si sopir sudah menyalakan mesinnya. 

Sama dengan arloji, elf yang ku tumpangi ini tak pernah mempercepat jam keberangkatannya. Jam 05:30 melesat ke terminal Purabaya. Entah isi 2-3 penumpang, pasti berangkat, tak perlu ngetem lama menunggu penumpang. 

Inilah yang membuat kedatangannya ditunggu. Karyawan yang mengejar waktu, akan setia bersamanya. Sampai-sampai saling mengenal satu sama lain. Pagi ini, tak banyak langganan yang ikut. Hanya berisi sembilan penumpang. Entah karena sedang cuti, atau memang berangkat siang, tak tau. 

Deret kursi yang biasanya hampir penuh, kali ini melompong. Si sopir sudah biasa dengan kondisi ini, wajar katanya. Meskipun dari mulutnya terlontar kata-kata sambat! Dia tau, waktu adalah berkah, dan ketepatan adalah amanah yang harus dijaga. 

Kondisi lalu lintas tol juga cukup lengang, jadi bisa melaju dengan kecepatan maksimal. Bahkan keluar dari gate tol dibutuhkan waktu hanya empat puluh menit, dari normalnya satu jam. Hemat dua puluh menit dari biasanya. 

Copet

Di perempatan tak jauh dari Purabaya, ada gerombolan bapak-bapak dengan membawa tas, mengenakan topi dan masker, mirip pekerja yang hendak ke tempat kerja. Namun, ada yang aneh, kenapa mereka naik dari tempat yang “tak wajar”? Awal mulanya duduk-duduk, lantas mereka memberhentikan mobil yang kami tumpangi. “Awas dompet, ini copet semua” tukas si sopir mengingatkan. 

Kalau driver mah angkut aja, yang penting ketika turun, mereka bayar, urusan selesai. Wow, aku sedang berhadapan dengan kawanan copet! Ada empat orang, usianya tak lagi muda, rambutnya memutih, namun tangannya begitu lihai untuk mencuri. Entah terpaksa karena keadaan, atau memang pilihan hidup, tetap saja hal itu tak bisa dibenarkan! 

Dua orang memepet ibu-ibu yang duduk sendirian persis di belakang sopir. Satu orang duduk di kursi belakangnya, bersebelahan dengan dua bapak-bapak langganan. Dan orang keempat, duduk di kursi paling belakang. Modus operandinya cukup rapi, bahkan ketika ibu-ibu ini akan turun dari mobil, si komplotan copet ini sengaja menahan langkahnya, dengan berpura-pura kakinya terinjak! Gila kan?

Dia “men-delay” beberapa menit agar rekan sebelahnya beraksi, namun, karena bisikan dari sopir sebelumnya, kami semua sudah waspada! Aku melihatnya dengan seksama, setiap gerak-gerik keempat bajingan ini. Pembawaan mereka  tenang, sangat tenang, seperti pemain drama yang sedang berada di atas panggung sedang pementasan. Posisinya sudah paten, pasti berjajar dan ada yang di belakang, untuk memindahkan barang hasil curian. 

Ternyata tayangan televisi di zaman itu benar adanya, kerap kali mereka beraksi secara berkelompok, tentu dengan jobdesk masing-masing. Keterampilan dan kecepatan tangan serta mental, pastinya cukup mumpuni. Karena mereka sadar dengan resiko yang harus dihadapi, babak belur kalau kedapatan mencopet. Sejenak teringat ilmu sap, sap, sapnya film animasi Jumbo. Pagi ini mereka beraksi dengan mengalihkan perhatian dengan berpura-pura kaki terinjak! 

Bekal tertinggal

Saking fokusnya pada pesan “awas copet” perhatian ku hanya pada barang bawaan. Belum lagi ada adegan “penghadangan” oleh komplotan yang duduk di deretan kedua, bersama dua rekan langganan yang duduk di depanku. Padahal sudah jelas kami bergerak dan permisi untuk turun, tapi seolah tak mendengar. Sontak saja PakDhe rambut putih sedikit nyolot dengan nada sewot ke copet “Minggir dulu dong, kasih jalan, kita gak bisa keluar!”.

Perlahan kami diberi jalan untuk keluar. Satu orang ini duduk persis di pintu keluar. Aku yang bergegas ingin segera turun, sampai lupa meninggalkan bekal yang sedari awal ku taruh di samping tempat duduk. Baru tersadar ketika naik bus kota! Ah sial, kalau pun hilang diambil komplotan copet tadi, biarlah, yang penting dompet dan barang lainnya aman. Trauma kejadian kecopetan di acara Malang Tempo Doeloe, handphone melayang di sikat si tangan jahil.

Perjalanan pagi ini sangat lancar, hamdalah. Hemat waktu hampir tiga puluh menit lamanya, alhasil sampai di kerjaan masih cukup pagi. Jam masih menunjukkan pukul tujuh. Artinya masih ada waktu setengah jam untuk bersiap memulai aktivitas bekerja. Tiba-tiba panggilan hati itu datang, dhuha. Daripada merenungi dan menyesali bekal makan siang tertinggal di elf, lebih baik sholat. 

Muhasabah

Memang tak semua manusia memiliki peran yang sama dalam menjalani hidup, tapi setidaknya tak menjauh dari dzat yang menciptakan kehidupan itu sendiri. Terlepas dari komplotan copet pagi ini, dengan usia yang tak lagi muda, hanya doa terselip, semoga suatu saat menjadi mantan copet dan menemukan jalan pulang. Siapa tahu kelak beliau-beliau ini bisa buka kursus sulap, ya kan? Semoga saja.






Komentar

Posting Komentar

Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Silahkan tinggalkan komentar

Thank you for visiting
www.besongol.xyz
Please leave the comment

Postingan populer dari blog ini

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Semesta Berdaya: Monolog Kersen di Tengah Krisis Ekologis

Masa keemasan dan Nostalgia Bukannya ingin menyombongkan diri, aku adalah tumbuhan favorit di era tahun 90-an, bahkan hingga awal milenium. Keberadaanku sangat dicari, terutama anak-anak. Mereka harus bersaing dengan kompetitor: burung, unggas dan berbagai satwa lainnya.  Aku termasuk pohon yang sangat mudah beradaptasi, terbukti aku bisa tumbuh di lanskap apapun—kadang di atas atap sekali pun, aku mampu bertahan hidup. Dari sisa feses hewan pun, aku bisa tumbuh dan berkembang biak. Di mana pun, aku cukup mudah dijumpai.  Namun, seperti makhluk hidup lainnya, jika aku boleh memilih, aku akan menunjuk tempat yang teduh, dengan suplai air yang melimpah. Konon, buahku sangat dinanti. Dari selentingan kabar yang beredar, ada khasiat istimewa: mencegah penyakit beri-beri. Konflik Manusia dan Burung Meskipun mulanya aku bagian dari rantai makanan burung-burung kecil, namun akibat ledakan jumlah manusia, kini habitat burung harus bertarung dengan mereka. Membludaknya populasi manusi...