Genap tiga hari Dobleh “perang dingin” dengan teman sekelasnya. Termasuk pagi ini, dia datang dengan muka masam. Alisnya yang mirip celurit itu sekarang lebih seperti anak panah yang siap meluncur ke sasaran tembak. Tubuhnya yang gempal, tampak begitu nyata, karena pagi ini dia sengaja “ psywar ” di kelas. Semua bermula ketika kepala sekolah memutuskan untuk mengajak seluruh pengurus kelas, termasuk ketua dan wakilnya, serta pembantu-pembantunya seperti bendahara dan sekretaris. Acara makan-makan yang biasa diselenggarakan setahun sekali, untuk merayakan malam pergantian tahun. Namun, apa daya, Dobleh tak ada di daftar tamu undangan, persis di tanggal tiga puluh satu Desember yang kurang dua hari lagi. Dobleh memang tak memiliki “posisi strategis” di kelas. Dia hanya berperan sebagai pembantu umum. Berbekal tubuhnya yang tinggi besar, dia menjadi andalan teman-temannya di kala suka dan duka. Bahkan, terkadang wali kelas dan kepala sekolah tak sungkan meminta tolong padanya. ...
Menulis bukan sekedar hobi, tapi berbagi! Saya datang, saya lihat (baca), saya tulis dan saya ingat! Tulisan itu abadi.