Upacara bendera dan dangdutan Sebelum dangdut masuk “istana”, saya begitu menikmatinya. Sampai sekarang pun sama, namun berbeda ketika dangdut dijadikan “lagu wajib”, saat acara sakral seperti upacara bendera. Sejak bocah kecil yang viral karena “lagu dewasa” dinyanyikan, sejak saat itu saya mulai kehilangan selera. Meskipun lagunya sedang hits, namun menurut saya tak layak ditampilkan di panggung kemerdekaan. Apalagi itu acara inti, sakral. Setelah khidmat mengenang jasa pahlawan, langsung disuguhkan joged-joged nggak jelas. Rasanya arwah pahlawan malu melihat penerusnya seperti itu. Tak seperti pepatah, isuk dele, sore tempe . Herannya peserta juga larut dalam acaranya, begitu cepat berubah, karena tak butuh waktu seharian untuk mengubah "mode", cukup hitungan menit! Dari tahun ke tahun, undangan untuk tamu yang sedang viral selalu muncul. Hedonisme mulai menjamah negeri, termasuk peringatan detik-detik proklamasi. Menurut saya, acara yang pantas disajikan ya presta...
Menulis bukan sekedar hobi, tapi berbagi! Saya datang, saya lihat (baca), saya tulis dan saya ingat! Tulisan itu abadi.