Langsung ke konten utama

Sales, dunia seru yang jarang orang tahu!

"Pantesan si Togog gampang banget promosinya, baru tiga tahun kerja sudah lompat beberapa tangga"

"Kalau sales mah jalur cepat untuk promosi jabatan, beda dengan kita-kita. Sampe beruban pun masih di posisi yang sama"

"Sales mah anak emasnya direksi, ga kaget kalau jalan-jalannya pun sampe ke luar negeri"

"Mau minta apa pun, sales juaranya, karena selalu nomor satu diturutin sama manajemen"

Bla.. Bla.. Bla... Masih banyak lagi curhatan karyawan kantor yang bekerja di balik meja, ghibah tentang temannya di posisi sales, apapun  levelnya. Karena aku pun pernah berada di posisi yang sama (bahkan sampe hari ini hehehe). 

Namun setelah mencoba terjun sendiri ke lapangan, menawarkan produk dari toko ke toko, dari project ke project, semuanya tak mudah. 

Terlebih saat ini produk yang aku tawarkan tergolong newbie. Brand belum ada, pembeli juga masih terbatas, kwalitas juga pasti masih menjadi tanda tanya bagi calon konsumen. 

Namun dari pengalaman di lapangan, ada fakta menarik tentang ilmu penjualan dan pemasaran, yang tentu saja menarik untuk di tulis dan dibagikan. 

1. Tidak semua pembeli adalah pelanggan. 

Awalnya aku sangat awam dengan kalimat tersebut, karena mindset yang terbentuk selama ini, pembeli sama dengan pelanggan! Kenyataan di lapangan bisa berbeda. 

Pembeli adalah orang yang baru pertama membeli dan menggunakan produk kita, namun belum tentu kembali lagi (repeate order). Bisa jadi faktor "pertemanan", bisa juga karena coba-coba. 

Pertemanan dalam bisnis, ternyata sampai dengan hari ini masih berjalan. Faktor kedekatan pribadi bisa membuat pembeli mencoba produk yang kita jual.

"Ya sudah aku coba dulu deh, tapi gak banyak ya!". Kata-kata ini menjadi angin surga bagi tenaga penjual. 

Kelemahannya satu, kalau testimoninya akan selalu "baik", kalau pun jelek, jarang diungkapkan secara gamblang. Seolah tidak mau mencampur adukkan antara urusan pribadi dan bisnis. Masukan yang sebenarnya dibutuhkan, justru tak akan kita dapat. 

Berbeda dengan pelanggan, biasanya mereka datang dari luar "circle" kita. Afirmasi yang diberikan lebih jujur, blak-blakan dan lebih berani. Tipe customer seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan. 

Produk baru dengan prestasi zero complain itu mirip racun, antara produk diterima pasar atau tidak, blank. Pelanggan itu ibarat kompas yang selalu tahu arah produk kita. Bagi tenaga penjual atau sales, komplain adalah kesempatan. 

Sadar atau tidak, dari komplain yang diterima, akan ada edukasi untuk pelanggan kita. Bisa jadi produk yang dibeli, tidak sesuai dengan kebutuhan yang sesungguhnya, atau tidak menutup kemungkinan salah dalam pengaplikasian, sehingga hasilnya kurang optimal. 

Komplain adalah guru terbaik untuk menghasilkan produk yang lebih berkualitas, dampaknya pada sustainability produk itu sendiri. Pembeli akan berubah menjadi pelanggan jika produk dan layanan berjalan beriringan. 

2. Beda kepala, beda persepsi dan penilaian. 

Mengenalkan produk baru memang menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika barang yang ditawarkan sudah majemuk alias menjamur di pasaran. Memahami posisi produk kita cukup penting, untuk menata posisi di market

Segmen yang akan disasar menjadi pondasi penting sebelum melakukan action di outlet. Sadar posisi, mungkin kata yang tepat untuk mewakilinya. Survey pasar menjadi sangat penting agar daya tawar produk kita, "lain daripada yang lain".

Mengapa market selalu menarik untuk dipelajari? Karena ternyata setiap produk akan menemukan "jalannya" sendiri. Dengan sengitnya kompetisi  dipasar, ternyata ada relung pasar yang menurutku "mengambang". Siapa pun bisa masuk! Hanya saja strategi apa yang akan dijalankan. 

Datang ke toko ABC yang notabene prospek, karena dari "luar" terlihat wah, menarik, display nya banyak, dan iklan terpampang hampir di setiap sudutnya. Tidak ada salahnya di tawari dengan membawa, ya, setidaknya selembar brosur dan kartu nama. 

Permisi mau menawarkan produk kami, merk X. Dan tunggu jawaban dari pengambil keputusan di store itu. Dengarkan setiap kalimat yang disampaikan, jika perlu tanyakan produk serupa yang sudah dijual, syukur-syukur kalau di kasih harga beli dan jualnya (hampir mustahil sih, kalau hanya sekali kunjungan).

Pemilik toko itu bermacam-macam pemikirannya, ada yang tipe setia atau loyal pada satu brand tertentu, ada yang semi-loyal, dan ada yang suka challenge untuk memasarkan produk pendatang baru. Alasannya satu, margin tetap aman! 

3. Berjualan itu tak melulu tentang produk, bisa jadi pelayanan. 

Produk yang bagus, belum tentu diterima oleh pasar dengan baik. Dalam satu kondisi, layanan purna jual itu lebih "bernilai". Harapannya setiap kali closing dengan customer, mereka akan mencari kita lagi ketika stok sudah menipis. 

Penyampaian informasi produk ke toko, pendekatan dengan pramuniaga dan owner atau pengambil keputusan, adalah hal yang wajib dimiliki tenaga penjualan atau sales. Toko kadang antipati dengan salesman apabila ketika ada permintaan atau pun komplain slow response alias lemot. 

Toko akan berhadapan langsung dengan user, untuk itu kecepatan dan ketepatan response sangat diperlukan. Banyak outlet yang akhirnya hopeless karena umpan balik yang lama, dan memutuskan untuk tidak repeat order. 

Hoping! Kata sakti mandraguna bagi tenaga penjual. Toko atau outlet  menaruh perhatian lebih kepada sales yang dapat dipercaya. Mau menawarkan produk baru pun, mereka akan menerima dan memutuskan membeli produknya. Bukan karena produk kita terkenal, tapi karena pelayanan yang optimal dan sat-set.

Kamu yang lagi berjuang, semangat ya! Tuhan pasti kasih jalan,  bukan kemudahan. Masalah itu tantangan dan pembelajaran, bukan hambatan. Selamat belajar dan menjadi juara, kawan! 

Disclaimer on


Foto hanya pemanis 

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Silahkan tinggalkan komentar

Thank you for visiting
www.besongol.xyz
Please leave the comment

Postingan populer dari blog ini

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.  Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan!  Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat.  Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya ...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Piknik dan Olahraga di Hutan Kota Terbesar di Kota Malang

Malang semriwing Pagi ini Malang hawanya semriwing , bahkan sejak semalam. Ditambah anginnya yang cukup kencang, merontokkan dedaunan tanaman di depan rumah. Meskipun Agustus adalah puncak kemarau, namun fakta di lapangan, hujan masih saja turun dari intensitas ringan hingga sedang.  Hujan tak merata ini, sudah cukup mendukung hawa anyeb  di Kota Pendidikan . Kemarau tak selalu kering kerontang. Salah satu cara terbaik untuk melawan dingin pagi ini ya tentu saja berjemur. Beruntung mentari pagi ini cukup terik, dengan mendung tipis menggantung di atas langit. Mumpung pada off di weekday dari rutinitas, spontan aku mengajak keluar bocil dan emaknya. Tak jauh-jauh, kami meluncur ke Lapangan Rampal .  Anak wedok memilih mengenakan sepatu dengan kaos kaki panjang, menutup hingga persis di bawah lutut. Sepatu putihnya itu menantang warna kaos kakinya yang kontras, merah menyala! Lucunya dia menggunakan daster tanpa lengan. Emaknya langsung komplain, "Sebentar ku ambil jaket"...