Pikulan
Riuh pagi selalu sama, tapi jangan salah, lakon setiap peristiwa bisa beda! Tak terkecuali pagi ini. Meskipun rutinitas berangkat kerja yang begitu-begitu saja, dan bisa jadi bertemu orang, bahkan armada yang sama, selalu terselip cerita unik dibaliknya.
Arloji menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, terminal seakan menolak sepi. Baru juga turun dari bus AKDP, pasukan opang sudah menyerbu. Pemandangan lumrah di pagi yang tak cerah.
Diantara lalu lalang pengunjung terminal, Bapak tua itu melangkah penuh harapan. Tubuh rentanya masih kuat menggendong tomblok di pundak.
Dua keranjang berisi penuh dengan buah. Pisang, mangga hingga sukun ada di sana. Bisa dibayangkan berapa beban yang harus di panggul?
Secepat-cepat langkah kaki ini, ternyata bertemu jua di bus kota. Beliau ternyata satu arah denganku. Suasana dalam bus masih landai, tak ramai seperti biasa. Gerakan tangannya seperti sudah terbiasa. Pikulan kayu sepanjang satu meter setengah itu dilepasnya dari temali.
Tali yang terpasang menyilang di kedua sisi keranjang itu tertambat di kedua ujung kayu. Tali biru itu dirapikannya, digulung agar tidak mengganggu kenyamanan penumpang lainnya. Pemandangan yang mungkin asing bagi pekerja kantoran, namun itulah yang jadi pembeda.
Beliau tampak berbisik dengan sesama penumpang di sebelahnya, usia yang sama-sama tak lagi muda, seorang ibu-ibu, bahkan bisa disebut nenek. Kerutan di wajah dan kulit tangannya tak bisa mengelak, sesekali Bapak penjual pisang itu membuka masker kain warna hitam yang menempel, menutupi wajahnya.
Entah apa yang beliau obrolkan, sesekali kepala keduanya mengangguk, seolah meng-iya-kan sesuatu yang mereka pahami bersama. Raut wajah keriput itu mengingatkan pada tembang “Ibu” dan “Ayah”, lagu yang akan terus relevan dari masa ke masa.
–Ibuku sayang masih terus berjalan. Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah–karya Iwan Fals
–Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras, namun kau tetap tabah. Meskipun nafasmu kadang tersengal, memikul beban yang makin sarat. Kau tetap bertahan--karya Ebiet G Ade.
Achmad Husaini, Pengemudi Ojol
Pengemudi driver online yang membawaku menuju terminal, tampak sudah Sepuh. Rambut putihnya terurai keluar dari helm yang menutupi kepalanya. Entah, memang Tuhan sedang tunjukkan padaku yang seringkali berkeluh kesah. Kerjaan numpuk, sambat, kerjaan sepi, apalagi, nggak selesai kalau curhat!
Dari awal cari pengemudi, memang tak langsung nyantol, aplikasi hanya memberitahu–kami sedang mencari driver terdekat--Hampir lima menit lamanya. Otak sudah berasumsi yang dia mau. Mungkin faktor ada demo buruh ya, jadi mitra ojol pada matiin aplikasinya? Mungkin karena jam sibuk, jadi yang cari ojeg melalui aplikasi serupa juga banyak? Mungkin karena sudah pada gajian, banyak yang ambil order go food? Dan bisa disambungkan dengan mungkin-mungkin yang lain!
Hampir saja ku pencet batalkan pesanan, tetiba ada yang nyangkut. Sejak saat itu mata ini tak hentinya menatap layar handphone, maklum saja bus yang ku tumpangi persis jam delapan malam, kondisi lalin sedang ramai-ramainya. Estimasi waktu lima menit pun sangat berharga, ketika seseorang “mengejar waktu”, bahkan satu detik pun.
Ya memang se-heroik itu bagi pengguna transportasi publik. Waktu dan kesempatan. Ada dua hal yang diperjuangkan. Waktunya tepat, tapi kesempatan tak datang, ya jadi sia-sia. Pun begitu dengan kesempatan. Jika ada kesempatan, namun waktunya gak pas, bisa ketinggalan tumpangan, dampaknya? Tak bisa datang atau pulang tepat waktu.
Lima menit pun tiba, sejurus kemudian pengemudinya juga datang. Lusuh. Begitu kesan pertama yang ada dalam hati kecil. Jaketnya terlihat begitu kumal, warna hijaunya tak lagi seperti daun warna daun yang baru tumbuh. Noda tampak di mana-mana, bahkan di sudut siku, sobekan cukup lebar, mengangah.
Tas punggung yang tergantung di bawah kemudi juga kumal. Entah apa isinya. “Mau pakai helm, Pak?” buka percakapan senja itu. Itupun aku harus mendekatkan telinga ke sumber suara. Lirih, kalah dengan desingan mesin mobil dan motor yang sedang melintas. Dua kali aku mengulanginya. Sebuah helm hitam disodorkan padaku.Entah sudah berapa banyak penumpang yang diangkut, helm itu terasa menyimpan sejuta kisah.
Berangkatlah kami menuju terminal. Baru sejengkal jalan, si Bapak nampak bingung dengan jalur yang akan dilalui. Sempat berputar di bundaran depan kantor, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengambil rute tercepat yang aku tahu. Dari cara mengemudi, beliau seperti tak cakap. Pelan. Niat hati ngintip kecepatan dari speedometer, namun terhalang tali tas punggung yang tergantung di setir.
Trauma Masa Lalu
Setelah berputar, kami kembali ke jalur yang semestinya. Lurus. Hingga sampai di pertigaan, suara lirih itu kembali menyapa gendang telingaku. “Jalur ini dulu sering saya lewati, Pak” beliau membuka cerita. “Saya hampir setiap hari mengantar cucu pulang ke rumah, ya di daerah sini” tambahnya. Sejenak berhenti berpikir, sambil memandangi rambut putih yang sempurna di balik helm warna hijau. “Oh, begitu ya Pak” timpalku.
“Sudah penumpang yang keberapa saya ini, Pak?” mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ini baru penumpang pertama, Pak. Dari jam dua siang saya online” jawab si Bapak. Ya Rabb, hampir empat jam baru dapat satu penumpang. Di usia yang tak lagi muda, tapi beliau tetap produktif, meskipun kerja di jalanan yang penuh resiko.
“Anak saya tiga, Pak, dua putra dan satu putri. Anak pertama saya rumahnya di daerah sini” sambil menunjuk gerbang pintu perumahan di seberang jalan. “Cucu saya dua dari anak pertama saya, dia beli perumahan di situ. Dulu waktu anak saya masih ada, saya sering main ke situ” cerita itu berlanjut, bertarung dengan jalanan yang semakin ramai. “ Kalau lewat sini, saya mesti teringat anak sulung, dulu waktu anaknya masih kecil-kecil, hampir tak pernah absen melintas di jalan ini” kenangnya.
“Sekarang, Pak?” tanyaku. “Sejak tahun lalu, saya mulai jarang kemari. Anak saya sudah meninggal, Mas” tukasnya. “Innalillahi, sakit atau kenapa Pak?” sahutku. “Anak saya meninggal kecelakaan motor Pak, padahal malam sebelumnya baik-baik saja. Saya ajak ngobrol seperti biasa. Sempat saya wejangi, kerjamu yang rajin, agar bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi”. “Bahkan waktu itu sampai larut malam, ketika dia berkunjung ke rumah saya” imbuhnya.
“Usianya belum genap empat puluh tahun. Dia masih rajin bekerja. Entah karena ngantuk setelah shift malam, ketika pulang kerja, dia menabrak truk yang parkir di badan jalan dan meninggal ditempat” ucapnya lirih. Aku hanya bisa menghela nafas panjang mendengar cerita si Bapak.
“Saat ini cucu saya yang paling besar, anaknya si Sulung, Alhamdulillah sudah lulus SMA. Rencananya mau langsung bekerja” lanjutnya. “Cucu saya yang nomor dua, sekarang masih SD, usianya terpaut jauh, makanya saya kasihan” si Bapak melanjutkan ceritanya. Tak ingin terlarut dalam kesedihan, aku coba mengobrol tentang profesinya.
“Bapak sudah lama online-an?” tanyaku. “Hampir lima tahunan, Pak. Saya dulu punya usaha kayu Kalimantan tapi sekarang sudah tutup. Saya asli kelahiran Kalimantan, tapi besar di Surabaya. Saya ikut orang tua pindah ke sini” tandasnya. Pantas saja dari dialeknya tak menggambarkan Wong Jawa Tulen. “Ketiga anak saya ya kelahiran Surabaya semua” imbuhnya.
“Sudah lama tinggal di Surabaya, kok dialeknya nggak ikutan, Pak?” tanyaku sambil senyum. “Iya, dari kecil sama orang tua diajak bahasa Indonesia campur Kalimantan”. “Saudara saya banyak juga yang usaha toko kayu, bahkan dulu pas puncaknya, sebulan bisa beli mobil atau rumah” ungkapnya. “Tapi karena yang namanya usaha keluarga, ada saja tantangannya. Sampai akhirnya bangkrut dan tutup semua tokonya” kenang si Bapak.
“Rumah yang saya tempati sekarang juga hasil dari dagang kayu, Alhamdulillah masih tersisa” ucap syukur beliau.
Tak terpikir lagi jam berapa akan sampai di terminal, mendengar kisah hidup si Bapak. Sempat sedikit memakan jalan dari arah berlawanan dan kata-kata “maut” khas Surabaya pun lantang terdengar. Hanya bisa mengelus dada, seandainya pemuda yang misuh-misuh tadi tau akan usia si Bapak, mungkin dia akan menarik kembali kata-katanya, meskipun harus bersimpuh di hadapannya.
Mungkin masih banyak kisah yang heroik, tentu dengan lakon dan jalan cerita yang mungkin sama, atau bahkan berbeda sama sekali, namun satu yang sama, ambil hikmahnya. Sehat selalu pejuang keluarga, sehat selalu Bapak Tua.
Diatas bus Restu Panda, menuju Surabaya
07 April 2026

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Untuk saran dan kritik perbaikan sangat terbuka. Silahkan tinggalkan komentar