Pagi yang biasa saja, lalu lalang kendaraan seolah mirip air, mengalir. Kadang deras, namun tiba-tiba berhenti, bukan karena sepi, tapi terhenti karena lampu menyala merah. Jawa Timur, khususnya Surabaya, masih "lebih" patuh pada rambu lalu lintas, dibandingkan Jakarta, meskipun peluang untuk sama, masih ada.
Kalau sudah seperti itu, mobil dan motor berjajar rapi, padat. Mungkin kalau diambil gambar dari atas, kerumunan kendaraan itu mirip ular raksasa. Prinsipnya sama dengan air, akan teratur dengan sendirinya, sesuai wadahnya.
Lalu lintas akan terasa seru ketika pagi dan sore, di Bundaran Waru yang tak pernah ingkar janji. Titik temu perlintasan antar kota, gerbang masuk dan keluar Kota Pahlawan. Area tersibuk dan terpadat, karena perlambatan akibat crossing yang terjadi.
Bedanya, Surabaya tak punya bundaran semegah Jakarta, layaknya Bundaran HI. Namun, tak perlu meniru untuk sesuatu yang iconic. Biarkan saja Bundaran Waru menjadi dirinya sendiri, terlihat hijau nan asri.
Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa kota besar masalahnya selalu sama? Dibalik kemegahan gedung tinggi bertingkat dan gemerlap lampu yang menyilaukan, ada kriminalitas dan ketimpangan sosial yang tinggi?
Pemandangan itu sangat mudah dijumpai, bahkan di jantung kota sekalipun. Rumah penduduk jadi terlihat "kerdil" karena dikepung bangunan tinggi menjulang. Terkesan seadanya, tanpa syarat yang muluk, sederhana!
Kontras, begitulah adanya. Dua kota besar, Surabaya dan Jakarta menawarkan view yang kurang lebih sama. Kemewahan gedung tinggi nan modern, seolah berdiri diantara "kurcaci" yang mungkin sudah puluhan tahun berdiri di sana.
Rumah berhimpitan, jumlah kepala dalam satu rumah juga entah berapa, yang jelas ketika jam atau momen tertentu, terlihat begitu meriah, ramai dan berjejalan.
Gang sempit yang mirip labirin, dapur dijalan, hingga tempat pengeringan pakaian pun berjajar, mirip konter thrifting. Semua itu terjadi karena apa? Kebutuhan hidup atau sekedar bertahan hidup?
Panas tak masalah, engap? Tak mengapa, semua bisa diatasi. Kalau kipas angin tak mempan untuk mengusir hawa panas, tinggal nyeberang jalan, masuk ke mall.
Jalan-jalan, nongkrong, tentu dengan segelas es teh jumbo atau kopi hangat. Nge-mall bukan lagi pilihan, tapi menjadi bagian hidup.
Polanya seperti itu, dan mungkin akan sama antara kota satu dengan yang lainnya. Ruang sosial menyempit, ruang terbuka hijau juga terhimpit, tentu dilengkapi dengan keberadaan pemukiman elit.
Standar hidup yang "tinggi" akan diikuti pola konsumsi dan gaya hidup, formulanya sama. Setinggi apapun penghasilan, akan tetap habis tak bersisa tanpa menyesuaikan kemampuan. Alih-alih menabung, dompet bisa buntung kalau setiap nongkrong harus bakar uang.
Kondisi itu terkesan "dipaksa" karena tidak ada pilihan. Kebutuhan dasar manusia itu sama, yang membedakan adalah cara mengelolanya, antara kebutuhan dan keinginan, seringkali samar.
Imbasnya mayoritas diantara kita terjebak, tau-tau masih pertengahan bulan, dompet atau rekening "kehabisan tenaga". Bijak dalam mengelola finansial, kata yang selalu muncul di timeline medsos.
Berbicara teori memang mudah, namun dalam prakteknya, pasrah saja. Jangan-jangan gaji bulanan kita tak cukup untuk membiayai semua? Pilah saja, mana kebutuhan dan keinginan.
Hal terbesar yang susah dikendalikan apalagi kalau bukan keinginan? Ingin kaya, ingin mapan, ingin beli mobil, ingin beli rumah, ingin ini dan ingin itu. Silahkan di list semuanya, lalu bikin skenario pencapaiannya (ini bagian paling susah).
Kalau boleh memilih, tinggal di desa dengan keterbatasannya? Atau lebih baik di kota dengan kelengkapan fasilitasnya? Dua kondisi yang tak akan bertemu pada sisi yang sama.
Sama halnya antara rupiah dan dolar, nilainya tak pernah bertemu, tapi saling menyesuaikan. Pun begitu kita, tinggal mau memilih jalan yang mana? desa atau kota?
#Desa #Kota #Dolar #Surabaya #Jakarta #Kurcaci #UlarRaksasa #Live #Life #Financial #Keuangan #BacaanSantai

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Untuk saran dan kritik perbaikan sangat terbuka. Silahkan tinggalkan komentar