Kalau di logika, hidup ini hanya pengulangan. Hakikatnya berarti manusia itu mati setiap saat. Beliau melanjutkan narasinya. Suara lantang itu memecah keheningan di ruangan yang mungil.
Disusul tawa renyah kemudian. Bener nggak, Mas? Tanya beliau. Ruangan tak sunyi, kami ngobrol dengan rileks. Setiap ambil nafas misalnya, apa yang masuk dan keluar, berbeda.
Katanya sel manusia itu saling menggantikan, regenerasi. Lha kalau sel melakukan itu, pada dasarnya manusia itu mati setiap saat. Sistem tubuh kan butuh restart.
Setiap detik bisa saja henti jantung, tapi karena saking cepatnya pemulihan sel, tidak terasa kalau kita sebenarnya sedang "mati". Teman sebelah hanya mengangguk, sambil melempar senyum.
Justru yang ada dalam hatiku timbul tanya, apakah kecepatan regenerasi sel, lebih cepat dari cahaya? Entahlah.
Dari pembaruan sel, aku jadi mikir, berarti dunia dan seisinya ini melakukan daur ulang atas kehendak-Nya, yang maha segala-galanya.
Termasuk kehidupan saat ini. Saya percaya, bahwa jauh sebelum kita, ada kehidupan yang sama modernnya dengan hari ini.
Pikirkanku langsung flashback ke artikel yang ku baca tentang keajaiban bumi pagi tadi. Misteri bumi banyak yang belum terpecahkan. Banyak karya "manusia kuno" yang ditemukan, di berbagai belahan dunia.
Diantaranya miniatur manusia mengenakan helm yang diperkirakan dibuat puluhan ribu tahun sebelum masehi oleh Suku Maya. Uniknya, helmnya bisa dilepas! Rasanya cukup masuk akal dari statemen yang beliau sampaikan.
Hidup itu daur ulang
Lalu pertanyaannya, kemana pendahulu kita itu? Sehingga lenyap tak bersisa. Manusia memiliki akal yang luar biasa. Mereka mampu menciptakan apapun yang mereka mau, tapi satu, mereka tak akan pernah menyamai Tuhannya!
Makjleb! Ketika manusia mengarah ke sana, Tuhan punya hak prerogatif untuk me-reset dan me-restart alam semesta. Peradaban akan mulai dari awal, kembali ke nol.
Alam dan manusia itu sama. Keduanya melewati siklus daur ulang. Selaras, begitu yang ku baca dari buku Filosofi Teras, karya Hendrik Manampiring.
Alam bekerja sesuai dengan kodratnya. Matahari, angin, air, tumbuhan, hewan dan makhluk lainnya itu semua bekerja dan mempunyai peran masing-masing.
Tak ada yang diam di dunia ini, semua bergerak. Dalam Islam, disebut Sunatullah.
Manusia itu sama Mas, tidak ada beda. Karena unsur pembentuknya juga sama, dari alam. Setiap hari, kita makan dari urin dan feses yang kita buang!
Hmmm.. Dalem kan? Urin dan feses kalau sudah diserap tumbuhan, apakah buah dan daunnya bau? Lantas apakah akan mengubah rasa? Misal apel kita pupuk pakai kotoran sapi, apakah nanti buahnya bau celetong (kotoran sapi) ? Enggak kan?
Tawa riuh kembali menggema. Aku hanya meng-iya-kan semua statemen beliau, sesekali mengangguk. Karena berkat kasih-Nya semua berjalan begitu sempurna.
Manusia punya kebebasan, tergantung cara memanfaatkan
Bahkan buto ijo yang gede dan serakah pun, kalau sedang dipegang dalang, tak ada satupun yang berani menyentuh atau mengganggunya.
Analogi yang beliau sampaikan langsung ngena! Mau separah dan sebejat apapun tingkah laku manusia, selama Tuhan masih dihatinya dan tidak menduakan-Nya, tetap akan dalam kasih-Nya.
Bukankah menyekutukannya adalah syirik, ya nggak Mas?
Maling, akan tertangkap kalau dia bercerita dengan sesama kawan maling kalau dia habis nyolong.
Itulah kenapa ada ayat, jangan suka membuka aib sendiri dan orang lain. Orang akan "aman", kalau aibnya disimpan sendiri, tak perlu menceritakannya kepada siapa pun. Coba berlogika, Mas.
Percakapan tak akan berhenti di ruang mungil itu, karena otak ku bertubi-tubi mencoba mencerna pernyataan-pernyataan beliau sampai saat ini. Bukan takut karena akan ada reset dan restart, tapi mampukah aku berbuat sesuai yang di kehendaki-Nya?
Karena manusia tempatnya lupa.
![]() |
| Animasi by Gemini.ai |

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Untuk saran dan kritik perbaikan sangat terbuka. Silahkan tinggalkan komentar