Langsung ke konten utama

Karut Marut Standar Stadion Sepak Bola Nasional

Menjelang tahun politik, 2024, apa pun akan dilakukan politikus untuk menggaet suara di gelaran pemilu. Tak terkecuali dari sumber pendulang suara yang cukup banyak, termasuk cabang olahraga "merakyat. Ya, bisa ditebak, sepak bola!

Basis suporter bola di negeri ini cukup besar, dan menjadi "sasaran empuk" bagi pemangku kepentingan, terutama mereka yang akan mencalonkan diri menjadi "abdi negara". Drama kegagalan Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia U-20 menjadi puncaknya!!!

Banyak rumor yang digulirkan ke "permukaan", mulai dari isu penolakan keikutsertaan Israel oleh "pejabat publik", hingga kusutnya pengungkapan Tragedi Kanjuruhan, 01 Oktober 2022, di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Namun yang paling santer beredar di masyarakat luas, termasuk media internasional, adalah kegagalan federasi dalam menyelenggarakan kompetisi yang aman dan nyaman. Sehingga menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit, 135 nyawa melayang di stadion!

Tragisnya, sebagian besar korban adalah anak-anak dan remaja. Rata-rata korban adalah siswa/ siswi yang sedang menempuh pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Semoga perbaikan dan pengusutan tragedi sepak bola terbesar kedua di dunia ini dapat di proses seadil-adilnya! aamiin...

Terlepas dari itu, ada faktor yang perlu diperhatikan menyangkut keamanan dan standar stadion, agar ketika terjadi force majeure dapat mengurangi atau meminimalisir kerugian, baik berupa materi atau nyawa sekalipun!

Edukasi tentang prosedur evakuasi jika terjadi keadaan darurat menjadi hal yang wajib diketahui seluruh perangkat pertandingan, tak terkecuali pemain kedua belas, alias suporter! Kejadian yang tak terduga seperti bencana alam bisa saja terjadi ketika pertandingan tengah berlangsung!

Berikutnya adalah standar stadion. Standar stadion menurut FIFA sebagai berikut:

1. Luas Lapangan Penuh:

Ukuran lapangan sepak bola menurut FIFA harus memiliki panjang antara 100 hingga 110 meter (100-110 m) dan lebar antara 64 hingga 75 meter (64-75 m).

2. Kapasitas Penonton:

FIFA memiliki beberapa kategori stadion berdasarkan kapasitas penontonnya:

   - Stadion Kelas A: Kapasitas minimal 40.000 penonton.

   - Stadion Kelas B: Kapasitas minimal 20.000 penonton.

   - Stadion Kelas C: Kapasitas minimal 10.000 penonton.

3. Fasilitas Pendukung:

FIFA mengharuskan stadion yang disetujui untuk turnamen dan kompetisi resmi mereka memiliki fasilitas pendukung yang memadai, termasuk kantong parkir, ramah bagi penyandang disabilitas, fasilitas medis, ruang ganti pemain dan official, tribun penonton yang aman, tempat penjualan makanan dan minuman, serta keamanan yang memadai.

4. Pencahayaan yang memadai:

Stadion yang akan digunakan untuk menggelar pertandingan malam hari atau pertandingan yang ditayangkan di media televisi harus memiliki sistem pencahayaan yang memenuhi standar FIFA agar memungkinkan pertandingan berlangsung dengan baik dan aman.

Pencahayaan yang baik bisa diukur melalui jumlah cahaya, yakni tingkat iluminasi permukaan lapangan. Berikutnya adalah konsistensi pencahayaan, yakni kondisi penerangan yang stabil tanpa ada naik atau turun tingkat cahayanya. 

Warna cahaya juga menjadi penting karena menyangkut visualisasi dan kejelasan setiap detail yang ada di lapangan. Warna cahaya matahari menjadi warna ideal untuk memberikan visibilitas yang tinggi dan jelas.

Berikutnya adalah tinggi cahaya. Tinggi cahaya ini biasanya berada pada ketinggian 30-50 meter dari permukaan lapangan. Tentu saja ini bergantung juga pada jumlah cahaya dan teknologi lampu yang dipakai. 

5. Drainase dan Permukaan Lapangan:

Stadion harus memiliki sistem drainase yang baik untuk mengatasi genangan air saat hujan dan permukaan lapangan yang sesuai standar, misalnya rumput alami atau rumput buatan (artificial turf) yang telah disetujui oleh FIFA.

6. Fasilitas Media dan Komunikasi:

Stadion yang dianjurkan oleh FIFA juga harus memiliki fasilitas media/ media officer dan komunikasi yang memadai untuk menampung pers dan keperluan siaran televisi selama pertandingan.

Perlu dicatat bahwa standar stadion FIFA dapat berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kebijakan dan regulasi yang diberlakukan oleh badan sepak bola tersebut. Standar-stadion ini berlaku untuk pertandingan sepak bola internasional dan turnamen resmi FIFA, seperti Piala Dunia FIFA.




Komentar

Posting Komentar

Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Silahkan tinggalkan komentar

Thank you for visiting
www.besongol.xyz
Please leave the comment

Postingan populer dari blog ini

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.  Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan!  Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat.  Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya ...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Piknik dan Olahraga di Hutan Kota Terbesar di Kota Malang

Malang semriwing Pagi ini Malang hawanya semriwing , bahkan sejak semalam. Ditambah anginnya yang cukup kencang, merontokkan dedaunan tanaman di depan rumah. Meskipun Agustus adalah puncak kemarau, namun fakta di lapangan, hujan masih saja turun dari intensitas ringan hingga sedang.  Hujan tak merata ini, sudah cukup mendukung hawa anyeb  di Kota Pendidikan . Kemarau tak selalu kering kerontang. Salah satu cara terbaik untuk melawan dingin pagi ini ya tentu saja berjemur. Beruntung mentari pagi ini cukup terik, dengan mendung tipis menggantung di atas langit. Mumpung pada off di weekday dari rutinitas, spontan aku mengajak keluar bocil dan emaknya. Tak jauh-jauh, kami meluncur ke Lapangan Rampal .  Anak wedok memilih mengenakan sepatu dengan kaos kaki panjang, menutup hingga persis di bawah lutut. Sepatu putihnya itu menantang warna kaos kakinya yang kontras, merah menyala! Lucunya dia menggunakan daster tanpa lengan. Emaknya langsung komplain, "Sebentar ku ambil jaket"...