Langsung ke konten utama

Naik Bus? Bawa Santuy Aja Lurs!

Ada saja kelakuan penumpang bus, entah itu bus kota atau antarkota. Masih pagi, sudah ribut karena salah “terima”. Kondisi penumpang selepas libur Sabtu, Minggu,  Senin dan memang terbilang sangat ramai. 

Pagi itu bus AKDP atau bus kota, jumlah penumpangnya membludak. Tak pelak, demi mengejar waktu, calon penumpang rela untuk berdesakan, yang penting sampai di tujuan, tak terlambat. 

Saat berangkat dari terminal, jumlah penumpang memang dibatasi, tidak terlalu penuh, meskipun satu atau dua orang terpantau tak kedapatan kursi alias berdiri. Area penumpang berdiri memang cukup “longgar”, untuk mengangkut penumpang di halte-halte kecil sepanjang rute tujuan. Jam masih menunjukkan sekira setengah tujuh. Raut wajah para penumpang terlihat ceria setelah libur empat hari lamanya. 

Tiba di halte pertama selepas terminal, pengguna transportasi umum saat itu cukup meriah. Mereka berburu bus yang lewat, sekaligus berpacu dengan waktu, meskipun begitu, awak bus yang bertugas, juga tak serta merta mengangkut seluruh penumpang yang ada. Dibatasi. “Maaf, hanya untuk lima orang ya, silahkan ikut bus dibelakang”, kata-kata yang sampai ku hafal hehehe

Dari sinilah “keributan” kecil dimulai. Penumpang yang berdiri saat ini cukup berjubel. Barang bawaan seperti tas dan helm membuat ruang gerak semakin terbatas. Tetiba bapak-bapak berambut putih dengan nada meninggi, “kalau gak mau kesenggol, jangan naik kendaraan umum!”, “bawa kendaraan sendiri sana, kalau perlu beli pesawat pribadi, biar gak kesenggol-senggol”. 

Seperti berbicara tanpa jeda. Bapak-bapak yang komplain karena kepalanya terbentur itu hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. 

“Saya minta maaf kalau memang bapak tersakiti, saya nggak sengaja, kondisi penumpang juga ramai” kembali bapak tua beruban itu menyambung pembicaraannya.

“Kalau ada yang luka, sini tak obati, kalau perlu biaya rumah sakit saya yang bayarin” terus saja nyerocos kata-kata si Bapak Tua itu. Aku yang berada beberapa baris dari titik kejadian hanya bisa diam. Hanya mbathin, itu orang kenapa emosinya menjadi-jadi ya! 

Sampai-sampai bapak-bapak yang mungkin seusianya, persis duduk berdampingan dengan saya berucap “wes tuwo kok ngamukan (sudah sepuh kok masih suka marah-marah). 

Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar celotehan bapak yang duduk di sebelahku. Tak lama kondektur atau helper yang bertugas, menenangkan bapak sepuh yang emosi tadi. “Sudah Pak, jangan ribut, ini tempat umum”. 

Tak lama berselang pemuda yang duduk persis di TKP bapak tua ngomel, ngasih tempat duduk. “Terima kasih Nak, sudah ngasih tempat duduk” emosi itu seketika redah.

Malam harinya, ceritanya berbeda lagi. Bus yang membawa saya menuju Malang, hari itu cukup sepi. Berbanding terbalik dengan situasi pagi harinya yang sangat ramai. Hari pertama masuk kerja setelah libur empat hari, ya pasti belum ada orang yang pulang kampung! Lengang. 

Menunggu penumpang satu jam lamanya di terminal, berharap bus bisa terisi penuh. Namun, ekspektasi memang tak selalu selaras dengan kenyataan. Penumpang tak terlalu signifikan penambahannya.

Seperti biasa, kondektur bus mulai narikin ongkos. Satu per satu penumpang di samperin. Bahkan karena ada beberapa penumpang yang berlangganan, sudah saling kenal, termasuk dengan crew bus. 

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kondektur bus sudah tau, si A si B si C ini turun dimana. Pun begitu dengan penumpangnya, bayar dengan uang pas. Ciri-ciri bus mania hahaha

Sampai di satu titik, entah darimana awal mula pembicaraan tiba-tiba kondektur nadanya sedikit ngegas. “Sampean enak Pak, bayar ongkos, turun, selesai urusan, lha saya?”. 

“Kalau memang nggak mau nambah dua ribu, ya sudah turun di titik sesuai tarif saja, karena kalau enggak, saya yang didenda” kembali kondektur menjelaskan. “Ada CCTV nya, gajian 150, denda 300, gak mangan aku Pak (gak makan saya Pak)”. Penumpang yang awalnya ngeyel, hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

Pengalaman dompet jatuh di bus AKDP

Ini pengalaman pribadiku, menggunakan moda transportasi umum memang “bukan” pilihan utama banyak orang. Selain jamnya yang tak menentu, dalih efisiensi waktu adalah yang membuat kebanyakan orang lebih memilih kendaraan pribadi. 

Kondisi kendaraan juga menjadi faktor penentu bagi sebagian orang. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, armada yang jalan cukup mumpuni, bahkan bisa dibilang baru. 

Berbanding terbalik dengan bus AKDP, terutama PO bus yang sudah Malang melintang di jalan aspal Jawa Timur. Body bus tak penyok saja sudah tergolong keren, belum lagi bunyi-bunyi atau suara “misterius” ketika di dalam bus. Terkesan seadanya dan tak dirawat. 

Namun, sekali lagi, waktu jadi pertimbangan. Kalau mau cepat, ya sudah naik armada seadanya. Pilih yang nyaman, berarti anda merelakan waktu untuk menunggu. Ya itulah pilihan. 

Pengalaman kurang mengenakkan terjadi ketika perjalanan dari Kota Malang. Dompet yang sedari pagi ada di saku celana, tetiba hilang tanpa jejak. Namun, aku sadar kemungkinan besar jatuh di bus yang saya tumpangi. Terakhir kali mengeluarkan dompet, ya ketika bayar karcis bus. 

Isinya sih tak ada uang, tapi yang terpenting adalah dokumen pribadi. KTP, SIM dan kartu ATM! Semuanya bisa diurus kembali, tapi mesti butuh waktu ekstra. hehehe

Sadar dompet jatuh di bus, bergegas menghubungi nomor yang tercantum di karcis. Ternyata karcis ini punya peran penting sebagai bukti bahwa kita adalah penumpang resmi atas armada yang ada. Ada baiknya simpan dulu karcis yang kita terima, sampai bisa di pastikan semuanya “aman”. 

Aman dari barang tertinggal atau hilang. Selain pengaduan via WhatsApp, aku coba mencari akun medsos resminya. Beruntung, response via DM IG, ditanggapi dengan cepat (dibanding via WA). Empat jam setelah hilang, hamdalah, dompet dipastikan aman. 

Tepat jam setengah sebelas malam, PO bus mengabarkan via WA, bahwa dompet saya sudah diamankan crew bus, lengkap dengan foto KTP dan dompetnya. Lega rasanya! Surat Keterangan Kehilangan Kepolisian pun kusimpan rapi-rapi. 

Perut mules dan keringat yang datang mendera hilang begitu saja setelah mendapat berita kejutan itu. Kalau rejeki memang tak kemana, pasti kembali. Syukurlah! 

Emosi bisa saja datang tiba-tiba, hanya karena sedikit "letupan" kecil, entah itu ucapan, senggolan atau bahkan bahasa tubuh. Keramaian memang selalu mengajarkan kita untuk selalu waspada, bijak dan pandai mengelola emosi. 

Bahkan sengaja atau tidak, terkadang kita lupa bahwa masing-masing dari kita sedang berjuang dengan waktu dan tenaga untuk diri sendiri dan keluarga. Sehat selalu pejuang nafkah! 

"Berkaryalah dengan bahagia"~anonim

#Busmania #AKDP #JawaTimur #Jatim #Cerita #Kisah 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.  Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan!  Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat.  Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya ...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Semesta Berdaya: Monolog Kersen di Tengah Krisis Ekologis

Masa keemasan dan Nostalgia Bukannya ingin menyombongkan diri, aku adalah tumbuhan favorit di era tahun 90-an, bahkan hingga awal milenium. Keberadaanku sangat dicari, terutama anak-anak. Mereka harus bersaing dengan kompetitor: burung, unggas dan berbagai satwa lainnya.  Aku termasuk pohon yang sangat mudah beradaptasi, terbukti aku bisa tumbuh di lanskap apapun—kadang di atas atap sekali pun, aku mampu bertahan hidup. Dari sisa feses hewan pun, aku bisa tumbuh dan berkembang biak. Di mana pun, aku cukup mudah dijumpai.  Namun, seperti makhluk hidup lainnya, jika aku boleh memilih, aku akan menunjuk tempat yang teduh, dengan suplai air yang melimpah. Konon, buahku sangat dinanti. Dari selentingan kabar yang beredar, ada khasiat istimewa: mencegah penyakit beri-beri. Konflik Manusia dan Burung Meskipun mulanya aku bagian dari rantai makanan burung-burung kecil, namun akibat ledakan jumlah manusia, kini habitat burung harus bertarung dengan mereka. Membludaknya populasi manusi...