Perjalanan yang tak pernah usang

Gambar
Hamdalah , bisa kembali beraktivitas di tanah kelahiran. Diberi kesempatan untuk menikmati ibukota Jakarta, tak dimiliki semua pekerja profesional (red: karyawan). Genap lima tahun, akhirnya “dikembalikan” ke East Java , kalau kata orang “ Jowo Wetan ” alias Jawa Timur. Masih segar diingatan, ketika teman-teman di pabrik melepas kepergianku ke kantor pusat, sedih. Namun yang pasti kami selalu mendoakan yang terbaik satu sama lain.  Tawaran yang ku terima dari manajemen, adalah bagian dari restrukturisasi organisasi. Ya beruntung masih ditawari, daripada tanpa pekerjaan. Prosesnya memang tak mudah, tapi bersyukur, akhirnya restu itu ku terima, setelah hampir setahun penantian. Meskipun dalam hati bergumam, “semakin lama ditunda, semakin bagus pula”, toh ya aku masih bekerja di tempat yang sama. hehehe Kata orang, setiap pilihan itu mesti ada rasa “sakitnya”, tergantung masing-masing orang menerjemahkannya. Termasuk aku yang saat itu galau tingkat dewa. Menuju Jakarta, meninggalkan ...

Adakah Solusi?

Surabaya,penghujung July '09

Siapa yang tidak kenal dengan wilayah "setren" Kali Jagir??ya,tempat yang dulu indah kini menjadi pemukiman yang kumuh. Pinggiran kali yang seharusnya ditumbuhi pepohonan yang hijau dan rindang,kini berubah menjadi hunian yang padat penduduk. Seolah tergerus oleh zaman, "setren" Kalijagir kini mulai beralih fungsi. 

Mulai dari gubug peyot hingga bangunan permanen bermunculan di pinggiran sungai. Anehnya, dari pihak Pemkot kurang ada perhatian terhadap bangunan liar yang sekarang marak berdiri megah dimana-mana. Bagaimana dengan aturan Perda yang ada? Apakah karena ijin IMB <Ijin Mendirikan Bangunan> yang terlalu mudah? Atau karena ada oknum tertentu yang mempunyai kepentingan individu dalam memberikan IMB?

Permasalahan ini kerap kali muncul karena belum adanya titik temu antara Pemkot <dalam hal ini sbg pemegang wewenang pemerintahan> dan Lembaga terkait untuk lebih tertib administrasi dalam menerbitkan IMB.

Belum lama ini, Pemprov bekerjasama dengan Pemkot Surabaya melakukan eksekusi terhadap bangunan liar yang berada di sepanjang Kalijagir. Penertiban ini sangat beralasan, yakni untuk tata kota Surabaya, yang semakin hari semakin semrawut. Setren Kalijagir bisa jadi sebagai tempat obyek wisata keluarga yang cukup menarik dan eksotis, mengingat letaknya persis di bantaran sungai.

Awal mula munculnya bangunan liar disekitar bantaran Kalijagir bisa jadi karena arus urbanisasi yang tak terkendali. Makin minimnya lahan di tengah perkotaan mendorong seseorang untuk mendirikan bangunan semi permanen. Kebanyakan bangunan disepanjang bantaran kali adalah sebagai tempat usaha,mulai dari besi tua, tambal ban, cuci motor hingga warung. Awalnya memang bangunannya semi permanen, tetapi lama kelamaan bangunan-bangunan tersebut menjadi permanen. Satu bangunan berdiri, maka ribuan lainnya akan menyusul. Beralih fungsilah bantaran kali tersebut.

Baru beberapa bulan ditertibkan, bibit-bibit bangunan itu kini mulai muncul kembali. Efektifkah penertiban yang telah dilakukan?Atau bahkan akan muncul masalah baru? Pengangguran akan bertambah karena tempat usaha mereka di eksekusi. Adakah solusi buat mereka? Mereka yang mengais rejeki ditengah hiruk pikuk dan kerasnya kehidupan di kota. Mereka masih mempunyai sejumput harapan untuk hidup yang lebih layak. Semoga saja,Amien...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bali The Last Paradise

Pandu

Angon