Langsung ke konten utama

Restu Panda, Bus Antar Kota Dalam Provinsi yang Masih Eksis Hingga Kini

Ditengah gempuran persaingan bisnis transportasi, PO Restu Panda masih saja eksis, melayani penumpang antar kota dalam provinsi, Jawa Timur. Dulu sebelum bermetamorfosis menjadi Restu Panda, PO ini bernama Restu. Satu yang tak berubah, warna hijaunya mendominasi di badan bus!

Bus ini menjangkau hampir di seluruh wilayah Jawa Timur. Bus berkapasitas 50 penumpang ini termasuk tahan "goncangan". Dulu ada puluhan "pemain" rute Surabaya-Malang, namun kini hanya tersisa beberapa nama lama, seperti Tentrem, Kalisari, Jaya Utama dan Pelita. Namun, dari jumlah armada yang berseliweran, Restu Panda dan Tentrem adalah jawaranya.

Keberadaan bus antar kota masih sangat dibutuhkan, terutama bagi pekerja. Jalur yang dilintasi hampir semuanya adalah kawasan padat industri. Sebut saja Kecamatan Pandaan, Gempol, Sidoarjo, Surabaya hingga Gresik. 

Restu Panda bisa bertahan karena sistem pengawasan dan kontrolnya cukup ketat. Setiap peraturan selalu ditempel di kaca jendela kiri dan kanan. Transparansi tarif, begitu bisa dibilang. Tak ada istilah "main tarif", penumpang juga merasa terbantu akan informasinya.

Secara umum, pelayanan dan kondisi armada cukup baik. Full AC, televisi dan CCTV. 

Setiap menggunakan jasa PO Restu Panda, ada petugas "audit" yang memiliki tanggung jawab menghitung kecocokan data antara karcis yang diterbitkan dengan nominal yang tercantum pada laporan kondektur. Tak jarang, "controller" meminta karcis yang dipegang oleh penumpang untuk diambil sobekan kecil sebagai sampel. Ya, memang agak ribet, tapi hal kecil inilah yang membuat Restu Panda terus eksis hingga sekarang.

Rute Restu Panda Surabaya-Malang ini meliputi Surabaya - Porong - Pandaan - Sukorejo - Purwosari - Lawang - Singosari - dan finish di terminal Arjosari, Malang.

Naik Bus, ya Restu Panda! 

#AyoNaikBus #RestuPanda #Restu #JawaTimur #BusMania #Surabaya #Malang







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.  Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan!  Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat.  Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya ...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Piknik dan Olahraga di Hutan Kota Terbesar di Kota Malang

Malang semriwing Pagi ini Malang hawanya semriwing , bahkan sejak semalam. Ditambah anginnya yang cukup kencang, merontokkan dedaunan tanaman di depan rumah. Meskipun Agustus adalah puncak kemarau, namun fakta di lapangan, hujan masih saja turun dari intensitas ringan hingga sedang.  Hujan tak merata ini, sudah cukup mendukung hawa anyeb  di Kota Pendidikan . Kemarau tak selalu kering kerontang. Salah satu cara terbaik untuk melawan dingin pagi ini ya tentu saja berjemur. Beruntung mentari pagi ini cukup terik, dengan mendung tipis menggantung di atas langit. Mumpung pada off di weekday dari rutinitas, spontan aku mengajak keluar bocil dan emaknya. Tak jauh-jauh, kami meluncur ke Lapangan Rampal .  Anak wedok memilih mengenakan sepatu dengan kaos kaki panjang, menutup hingga persis di bawah lutut. Sepatu putihnya itu menantang warna kaos kakinya yang kontras, merah menyala! Lucunya dia menggunakan daster tanpa lengan. Emaknya langsung komplain, "Sebentar ku ambil jaket"...