Langsung ke konten utama

Bagong: Tuwuh Lan Ngrembaka

Angin menyapu debu jalanan, menghambur serupa percikan air dikala hujan. Kemarau membawa debu, hujan berteman banjir.

Alam tak balas dendam, tapi mencoba menyeimbangkan keadaan. Manusia semakin kebablasan. 

Tanah dikeruk, air dieksploitasi, hutan dibakar, sungai beralih fungsi. Pepohonan tak luput dari penebangan, semua demi satu tujuan, kemajuan dan pembangunan.

Se-modern apapun kehidupan, kalau tak respek sama alam, buat apa? Percuma. Toh manusia tak akan berkutik melawan semesta.

Tak perlu kampanye tentang perlindungan alam kalau sekelumit dari kita menganggap bahwa selain manusia itu tak ada, mati.

Pohon yang usianya ratusan tahun saja kau tebang tanpa ampun. Manusia tak mengenal adab, cenderung biadab. Memang tak semuanya, hanya segelintir yang punya nafsu angkara.

Kalau tak percaya, coba tengok aktivitas manusia pada umumnya.

Senin pagi. 

Senin selalu meriah meskipun berat mengawalinya. Jeda sehari atau dua hari dalam sepekan, membuat tubuh dan otak seolah enggan diajak kompromi, kembali bekerja! 

Dihari biasa, penumpang cenderung memilih armada bus sesuka hati, maklum, penumpang tak seramai hari money day alias monday. 

Tak seperti bus Bagong lainnya, kursi belakang persis di pintu masuk, dibiarkan melompong. Sejatinya masih bisa diisi satu deret kursi lagi untuk penumpang bangku tiga (posisi kanan). 

Walhasil, penumpang berjubel di area ini. Meskipun harus duduk di lantai bus, beliau-beliau ini cukup menikmati perjalanan. Idealnya hanya untuk 3 orang penumpang, namun kali ini 4 dengan mode lesehan. 

Tiga diantaranya bapak-bapak, dan satu anak muda, dengan alis kirinya diiris, khas potongan French Crop, mirip selebriti dan atlet.

Banyak tema yang dibicarakan, mulai dari naik bus, duduk lesehan, percakapan tak berhenti. Salah satu yang kuingat, bus Patas versus bus ekonomi. 

Bapak-bapak profesional yang memanggul tas punggung, berikut jaket kulitnya, berujar bahwa bus Patas, terutama trayek Surabaya Malang, kalah dengan bus ekonomi.

Pertama, dari unit bus. Ekonomi AKDP kondisinya lebih bagus, modern, dari sisi interior dan body bus. Belum lagi ditambah fasilitas hiburan seperti layar televisi dan musik sepanjang perjalanan. 

Kedua, tarif bus ekonomi lebih murah dibandingkan karcis Patas. Harga tiket Patas dua kali lipat kelas ekonomi!

Ketiga, waktu ngetem bus kelas ekonomi tak selama kelas Patas. Meski secara "kelas" masih di bawah Patas, namun layanan dan fasilitasnya lebih bagus.

Keempat, meski tarifnya murah, rute yang dilalui sama dengan Patas. Tol panjang via Karanglo. Dari segi waktu juga lebih baik kelas ekonomi.

Slogan Bagong bikin Melongo

Perusahaan otobus ini pertama kali aku tahu ya dari rute Blitar dan Batu. Busnya kecil dengan kapasitas 26 penumpang. Bus mini, begitu sebutan orang-orang.

Kini setelah puluhan tahun, Bagong Dekaka Makmur ini mulai merajai jalanan Jawa Timur. Hampir seluruh koridor di Terminal Purabaya, ada bus kebanggaan warga Kepanjen, Malang. 

Satu per satu rute mulai digarap oleh bus yang dinamai dari tokoh pewayangan, Bagong. Bahkan jurusan Banyuwangi atau area tapal kuda "tertolong" oleh PO satu ini. 

Entah berapa orang yang bercerita, bahwa jalur ke Bumi Blambangan ini kerap getok tarif. Ongkos semaunya, tak ada patokan pasti layaknya rute yang lain.

Diperparah dengan unit yang jalan, terlihat mulai usang. Tentu kedatangan bus Bagong di rute timur ini membawa angin segar bagi penumpang. Tak khawatir digetok tarif!

Dibalik kisah suksesnya menantang PO lama seperti Tentrem, Restu, Pelita dan Akaz, ada satu yang unik dari perusahaan otobus ini, tagline atau slogannya "Tuwuh lan Ngrembaka".

Jawa banget!

Dari nama PO nya saja dari tokoh pewayangan ditambah lagi jargon perusahaan, Tuwuh lan Ngrembaka. Otomatis otak yang penasaran ini langsung browsing makna dibalik slogan tersebut.

Tulisan ini terpampang pada seragam crew yang bertugas pagi itu. Sudah beberapa kali menggunakan jasa bus ini, namun siapa sangka ada kalimat "sakti" yang melekat di baju para crew busnya. 

Begitu tanya metaAI jawabannya langsung makjleb

Tuwuh lan Ngrembaka berasal dari frasa bahasa Jawa.

Tuwuh artinya tumbuh
Ngrembaka bisa diartikan berkembang/ berkembang biak/ meluas

Tak perlu tagline bahasa asing, cukup dengan bahasa sendiri, cita-cita itu kini tercapai. Siapa wong Jatim yang sekarang tak kenal bus Bagong? Atau tak pernah lihat dijalanan nasional? 

Mereka kini sedang menikmati masa panen. Selain menjadi idola baru, PO ini mengikuti perkembangan teknologi. Penumpang tak harus bayar tunai, tapi bisa QRIS!

Ditambah fasilitas free charging ketika dalam perjalanan. Jadi tak perlu khawatir kalau baterai handphone mu mati, bisa nge-charge di bus. Penak toh? Semoga langkah ini bisa diadopsi perusahaan otobus lainnya!


Tangkapan layar dari Instagram Jrc_Bagong
https://www.instagram.com/p/DdMWSSAzVTx/?stkn=MXBxbzllYmc5MmQ4bw==

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragunan: Kebun Binatang yang Mustahil Dikunjungi Sekali Saja

Berkesempatan berkunjung ke Kebun Binatang Ragunan atau Taman Margasatwa Ragunan (TMR) menjadi pengalaman unik sekaligus menarik. Dibalik bangunan tinggi menjulang di Jakarta, keberadaan TMR menjadi pembeda! Kawasan hijau nan asri di Selatan Jakarta ini bisa dibilang "paru-paru kota" yang cukup luas. Keberadaan pepohonan yang rimbun dan bermacam-macam jenisnya jadi hal unik untuk dipelajari. Disamping fauna yang jumlahnya ribuan, flora yang tersebar di TMR ini juga tak kalah jumlah dan ragamnya. Setiap pohon yang ditanam, disediakan papan informasi dan profilnya, pun begitu dengan hewannya. Kesan pertama yang terlintas begitu menginjakkan kaki di Ragunan, meneduhkan!  Dari sejarahnya, taman yang memiliki luas kurang lebih 147 hektar ini merupakan relokasi dari taman Cikini yang dulu bernama Planten en Dierentuin. Didirikan oleh Culturele Vereniging Planten en Dierentuin diatas tanah 10 Ha yang merupakan pemberian Raden Saleh dimasa pendudukan Belanda, atau dikenal dengan nama...

Bali The Last Paradise

Boarding di Soekarno Hatta Menjelang Pagi Hari pertama, langsung gas. Tak kendor sedikitpun meski mata terasa berat. Kantuk melanda sebagian peserta. Efek berangkat dini hari, bahkan rombongan flight pertama (jam 05:00) sudah stand by di bandara Soetta sejak pukul 03:00 dini hari! Hebat bukan? Ya, peserta harus berada di titik kumpul sesuai arahan dari travel agent dua jam sebelum pesawat lepas landas. Hal ini untuk mempermudah baik panitia, agen perjalanan dan peserta koordinasi, dan pastinya tak ketinggalan pesawat!  Berangkat di pagi buta memang tak mudah bagi sebagian peserta (termasuk saya pribadi hehehe ). Dibutuhkan kemauan, semangat dan tekad yang luar biasa untuk bangkit dari tempat tidur, bersih badan alias mandi dan gosok gigi, jangan lupa pakai baju dan semprot parfum yang wangi! 😂 Beruntung itinerary sudah di share komite dari jauh hari. Jadi tak perlu bingung dan bimbang, bawaan yang “wajib” dibawa pada saat workshop berlangsung pun sudah lengkap diinformasikan,...

Topeng: Antara Ngopi dan Melamun

"Bro, weekend kita jalan kemana?" "Ngopi bareng yuk, Sob?", "Bagaimana kalau kita hiking tipis-tipis, nyari hawa segar?". " Jogging rame-rame yuk di car free day !" Atau ajakan lain yang sifatnya "kolektif", pastinya familiar dong dengan kalimat-kalimat itu?  Sewajarnya manusia memang hidup secara berkelompok dan berinteraksi satu sama lain. Manusia memang tercipta saling bergantung, tak hanya dengan sesama, tapi juga dengan sekitarnya, termasuk alam.  Saking sosialnya, terkadang jelema lupa untuk menjadi diri sendiri. Takut ditolak, takut tak "sefrekuensi", takut berbeda pendapat, dan masih banyak ketakutan-ketakutan lain, yang menjadi momok masing-masing individu.  Makhluk sosial itu lebih memilih berdamai dengan keadaan diluar dirinya, demi satu tujuan, penerimaan! Mereka cenderung bertahan dan menerima begitu saja kondisi yang dihadapi. Beruntungnya Tuhan memberikan kemampuan adaptasi yang luar biasa itu!  Banyak bertan...