Jika aku bisa menyebutnya pahlawan,
Jika aku bisa memanggilnya ksatria,
Jika aku bisa memeluknya penuh sayang,
Jika aku bisa mencium keningnya,
pipinya, tangannya, kakinya
Namun tak bisa! Raga telah berpisah dengan ruh suci.
Mataku nanar melihat beliau pertama kali sakit parah, semua bermula ketika lomba pitulasan di kampung, mancing. Lomba yang rutin digelar sejak puluhan tahun lalu. Dan tak sekalipun Bapak absen! Mancing adalah hobi beliau, bahkan Bapaklah yang mengenalkanku mancing.
Saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), beliau mengajakku ke kota untuk berjalan-jalan, masih pagi, ketika libur. Aku kira hanya sekedar jalan-jalan seperti biasa, tak tahunya mampir ke toko pancing. Hanya bisa membaca, tak tahu menahu bentuk dan model pancing. Bayangkanku pancing itu hanya sekedar lonjoran bambu yang dimodifikasi sedemikian rupa, hingga membentuk mirip galah, runcing dibagian depannya.
Nyatanya, joran pancing yang ku dapati di toko pagi itu beda dari dugaanku. Lebih modern! begitu gumam dalam hati. Joran pancing ditata begitu rapi, melingkar. Ditengahnya ada semacam batangan kayu diameter sekira dua puluh sentimeter-an. Lalu dibagian atasnya ada cantolan melingkar mengikuti keliling batangan kayu tadi.
Palesan yang berwarna-warni itu sepintas mirip pelangi. Karena warnanya yang cukup mencolok. Penataan yang keren itu membuat mata terpanah, dari kejauhan cukup menggoda. Bapak meminta ku memilih salah satu joran, tentunya menyesuaikan dengan postur tubuhku yang saat itu masih mungil.
Aku yang pemalu dan penakut, hanya mengangguk tanpa memilih. Sejurus kemudian Bapak menyodorkan salah satu joran. Warnanya bening, panjang sekira satu meter. Joran fiber ini cukup bagus, gagangnya dari kayu, cukup digenggaman tangan.
Itulah pertama kali punya palesan "modern". Tak berpikir panjang, aku meng-iya-kan saja pilihan Bapak. Selesai memilih joran, aku ditawari mata kail. Mau mancing wader atau dengel (red: ikan gabus) tanyanya waktu itu. Karena aku yang hobi ngluthus ke kali dan sawah, aku memilih mata kail untuk ikan wader.
Ada lagi yang membangkitkan penasaranku saat itu. Bentuknya bermacam-macam rupa, warnanya cukup cerah. Ada banyak pilihan di etalase toko. Setiap model/ bentuk ditaruh di wadah plastik kotak berbeda. Berjajar disepanjang etalase. Saking asyiknya melihat satu per satu barang dagangan di toko pancing itu, ternyata Bapak sudah selesai transaksi.
Diajaknya aku pulang. Naik vespa PX tahun 90'an. Vespa itu menjadi memori tersendiri bagiku. Kendaraan roda dua yang cukup lama dipunyai Bapak. Kendaraan yang selalu menemani kami, kemana pun kami pergi. Entah berdua, atau bertiga bersama Ibu. Mungkin sekarang menjadi barang langkah, tapi kenangan naik Vespa tiada dua.
Banyak drama dengan Vespa PX itu. Mulai dari mogok di tengah jalan, knalpot lepas, hingga harus miring kalau mau kick stater. Satu lagi yang unik, harus diganjal dingklik atau apapun untuk menyalakan mesin.
Jauh sebelum Vespa PX, motor Yamaha tahun 70'an sudah parkir terlebih dahulu di teras rumah. Motor kece nan mengkilap itu juga sempat terabadikan dalam album keluarga. Bagaimana aku mejeng duduk di jok motor sambil sedikit mengernyitkan dahi, dengan bedak yang cukup tebal. Menurut Ibu, foto itu diambil sesaat setelah mandi. Dasar aku yang cengeng, mau difoto pun "menyempatkan" untuk menangis ðŸ˜
Entah berapa kali aku tertimpa olehnya, yang jelas dalam memoriku, waktu itu siang hari, motor di parkir di depan rumah. Radio juga sedang di setel dengan kerasnya, hingga akhirnya gubrak!!! motor keren itu menimpa tubuh mungilku disaat mencoba untuk menaikinya. Nangis sejadi-jadinya, namun apa daya, suara tangisku masih kalah dengan suara radio saat itu.
Sisi unik dari Bapak adalah ketika berkendara. Bisa jadi karena sangat berhati-hati, atau memang grogi. Pengguna jalan raya waktu itu tak banyak, jalanan cenderung melompong, tak seperti sekarang, macet tak mengenal waktu dan tempat.
Menyeberang jalan raya Surabaya-Malang bisa sampai lima menit, sempat waktu itu aku agak snewen. Dari arah kanan dan kiri sudah kosong, tapi Bapak tak melaju kendaraan. Hanya bisa ngedumel dalam hati, andai saja aku bisa nyetir sendiri, mungkin sudah sampai tujuan dari tadi.
Sepanjang perjalanan ke rumah, Bapak bercerita banyak tentang masa mudanya, awal mula bisa masuk Kota Pandaan, hingga menikah dengan gadis desa, primadona desa, Ibuku. Laju kendaraan Vespa tak terlalu kencang, sangat pelan, mirip kura-kura. Napak tilas masa muda Bapak pagi itu. Kami tak melewati jalur seperti ketika kami berangkat, tapi masuk ke gang-gang pedesaan sekitar.
Ada patung legendaris di jalan Stadion Plumbon, Pandaan, atau orang sekitar menyebutnya perempatan Gelang atau patung sapi. Ya, Bapak pertama kali menginjakkan kakinya di Dusun Gelang, Desa Tawangrejo, Kecamatan Pandaan.
Sempat terhenti di salah satu warung di pinggir jalan. Sambil memanggil-manggil nama, Bapak sedikit berteriak. Namun, berkali-kali dipanggil, tak satu orang pun menunjukkan batang hidungnya.
Sementara Aku masih asyik duduk di belakang, sambil mengelus joran baruku.
Beliau mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi. Bapak memanggil salah satu teman akrab semasa indekost di Gelang. Sebuah warung semi permanen dan arena karambol ada di warung itu. Beberapa kursi diletakkan melingkar di setiap sisi. Nampak warung baru saja tutup, karena gelas kopi dan wadah kacang yang belum sempat dibersihkan. Puntung rokok juga berserakan.
Itulah salah satu tempat favorit Bapak menghabiskan waktunya selepas kerja. Baru sekali aku diajak Bapak mampir ke situ. Tempat yang cukup sederhana tapi melahirkan banyak kisah masa muda Bapak. Bahkan adik-adiknya Bapak, sampai kenal dengan pemuda sekitar. Cukup beralasan sih, ketika libur sekolah tiba, mereka sering bermalam di Gelang.
Selepas sekolah SMEA Katolik di Kediri, Bapak merantau ke Pandaan. Berbekal ijazah SMEA dan informasi dari saudara, Bapak melamar ke salah satu pabrik minyak milik Keluarga Cendana! Dan itulah pertama kali Bapak bekerja di swasta. PT Mercu Buana/ Merbacal, milik Probosutedjo. Pabrik ini memproduksi minyak sawit. Sangat populer di jamannya.
Masa muda Bapak tak mudah, beliau menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Adik-adiknya yang masih kecil membutuhkan biaya untuk sekolah. Alhasil, Bapak baru melepas lajang di usia sangat matang, tiga puluh dua tahun!
Setiap usaha ada konsekuensi yang harus dibayar, entah susah atau senang. Tanggung jawab Bapak sebagai anak mbarep tak perlu diragukan. Semua dilakukan demi keluarga dan adik-adiknya, agar tetap bersekolah.
Di Merbacal inilah bapak berkarya dan berkenalan dengan calon mertua. Letak pabriknya tak terlalu jauh dengan kampung Ibuku, hanya sekira dua kilometer. Mbah Dok satu bagian dengan Bapak saat bekerja. Berawal dari sinilah Bapak dan Ibuku berkenalan. Bukan jaman Siti Nurbaya, tapi ya begitulah adanya saat itu.
Ibu berkenalan dengan Bapak karena di-makcomblangi oleh Mbah Dok. Gayung pun bersambut. Ibu yang saat itu baru lulus SMEA, dipersunting oleh Bapak. Meski awalnya sangat alot, namun hati Ibuku luluh juga. Ditahun 1982, Bapak dan Ibuku melepas lajang. Jodoh memang tak akan kemana, bahkan orang tua pun bisa jadi perantara.
Selisih keduanya kurang lebih dua belas tahun. Bapak jauh lebih matang dari segi usia. Namun itu tak menjadi penghalang untuk Bapak dan Ibuku melanjutkan ke pelaminan. Tepat di tanggal 24 September 1984 resepsi dilangsungkan.
Masa muda Bapak sangat mirip dengan si Raja Dangdut Rhoma Irama. Tahun 80'an masih musim cutbray dengan kancing baju hanya sebatas dada. Rambutnya kribo, sepatunya dari kulit kebo, macho!
Foto lampau masih tersimpan rapi di rumah, sungguh beruntung. Dulu aku sering meng-explore profil satu per satu anggota keluarga, tak terkecuali Bapak. Musik favoritnya ya dangdut, terutama karya Bang Haji Rhoma. Koleksi kaset pita lusinan jumlahnya, disimpan dalam box kayu, masih lengkap dengan cover albumnya.
Bahkan kecintaan beliau terbawa hingga akhir hayat. Ketika CD cakram mulai mewabah, piringan yang dicari ya mp3 Bang Haji. Aku masih ingat betul, ketika Video Compact Disc (VCD), pertama kali booming di awal tahun 2000'an, Bapak bisa memborong sampai lima keping kaset CD.
Beberapa yang Aku ingat adalah karya Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Rita Sugiarto, Koes Plus, Doel Sumbang, Panbers dan Guns & Roses. Hampir setiap hari Bapak selalu memutar lagu-lagu karya musisi tersebut, namun yang paling sering Aku dengar ya, lagunya Bang Haji.
Bahkan sekelumit cerita dari Ibuku, ketika malam resepsi pernikahan, teman-teman Bapak memberikan kejutan. Tak ada rembugan malam itu, tapi mereka kompak berdandan mirip anggota musik Soneta! Lengkap dengan properti imitasi yang dibuat dari stereo foam. Sejarah foto tak bisa berbohong, hadirin tamu undangan sangat terhibur, melihat surprise malam itu.
Mirip hajatan malam itu, Aku senang mendapat hadiah palesan
Tiba-tiba guncangan Vespa begitu terasa, itu artinya kami sedang melintas di jalan kampung. Jalannya makadam, bergelombang, banyak batu dan kerikil, jika sedang hujan ya mirip kubangan, becek dan berlumpur. Jalan kampung ku belum diaspal atau dicor saat itu. Pembangunan belum masif seperti sekarang. Aspal baru masuk menjelang era millenium.
Sesampainya di rumah, Bapak bergegas memarkir motor di teras, sejurus kemudian berganti "kostum". Kostum yang sering Aku jumpai ketika beliau akan berangkat memancing, mirip baju "dinas", ya dinas pemancingan.
Entah berawal dari mana, Bapak mulai tertarik dengan olahraga memancing, olah raga yang notabene butuh kesabaran dan ketelatenan serta skill yang mumpuni. Tak banyak orang memiliki hobi memancing, alasannya sederhana, menjenuhkan! Berdiam diri ditempat yang sama, sambil menunggu joran melengkung, berharap umpan disambar mangsa.
Joran bening yang telah kami beli tadi segera dirakit oleh Bapak. Memasang senar, kail serta pemberat. Namun satu barang antik yang belum pernah Aku tahu selama ini dan membuat ku penasaran, pelampung! Benda yang ku lihat di etalase toko pagi itu ternyata pelampung. Bapak membelikan ku pelampung ukurannya imut, sudah mirip biting tapi agak "gendut".
Ringan dan warnanya mencolok. Kata Bapak sih pelampung ini bisa nyala kalau dipakai mancing di malam hari. Fungsinya untuk memperoleh "sinyal" ketika umpan kita digondol. Aku hanya diam dan mendengarkan celoteh Bapak siang itu.
Kami merakit pancing di terasan rumah. Di depan rumah sisi kanan dan kiri, ada pohon belimbing yang cukup besar. Layaknya pohon kembar! Tingginya hampir sama. Pelataran inilah yang sering kami manfaatkan, termasuk bermain atau kongkow bareng keluarga.
Ritual sebelum menyapu latar sudah ada. Halaman harus di siram dulu hingga basah, termasuk kembang "bawangan". Kembang mirip rumput, tapi kalau sedang berbunga sangat rupawan. Warnanya pink dan jumlahnya cukup banyak.
Kalau Kakek ku menyapu latar, guratan lidi di tanah sangat jelas terlihat. Mirip lukisan awan di langit yang sedang diterpa angin. Bergelombang! Tak satupun kerikil atau batu tersisa. Itulah sebabnya kami cukup betah bermain di pelataran rumah. Meskipun tak di plester kami nyaman berlama-lama di sini. Teduh.
Bapak asyik meng-install pancing, Aku dengan seksama memperhatikan.
Kail adalah bagian yang cukup rumit, selain ukurannya kecil, tak ada lubang untuk mengikat. Beda dengan yang Aku tahu selama ini. Bapak membeli kail pancing kekinian. Menggunakan teknik tali temali tertentu, hingga kail bisa dengan terikat dengan kuat.
Dari kemasan kail sebenarnya ada tata cara pengikatan, namun sepertinya Bapak sudah mahir dan diluar kepala untuk urusan tali temali. Tak sampai lima menit, Bapak sudah selesai mengikat satu kail. Luar biasa! begitu kira-kira ungkapan yang pas untuk beliau.
Aku lihat beraneka macam ukuran kail yang ada di tas pancingnya. Termasuk pelampung yang ukurannya segede jempol orang dewasa. Semakin gede mata kail, maka semakin gede pula pelampungnya. Ada pula jaring yang mirip bungkusan buah apel yang dijual di pasar buah Pandaan.
Usut punya usut ternyata jaring itu adalah tempat penampungan ikan sementara. Jadi ketika dapat ikan, Bapak memasukkannya ke jaring itu, agar tetap hidup dan segar hingga dibawa pulang. Jaring tadi disangkutkan di kayu yang juga ku dapati di tas Bapak. Ujungnya runcing, panjang sekira sepuluh sentimeter. Jadi posisi jaring tetap terendam di air.
Pingsan di hari lebaran ketiga
Masih segar diingatanku, Bapak mulai "bergejala" di saat lebaran tahun lalu, tahun 2022. Aku yang sowan ke rumah mertua bersama Bapak dan sepupu ku yang tinggal di Malang. Awalnya tak ada yang aneh, semua berjalan normal seperti biasanya. Kami mengobrol tentang kegiatan kami selama lebaran.
Bahkan Aku yang yang sore itu berjanji akan menjemput Bapak di rumah adiknya, tak menjumpai Bapak di sana. Info sepupuku, Bapak keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Dari arah jalannya Bapak, sepupuku sudah bisa menebak, mungkin Pak Poh-nya sedang ke minimarket. Dan benar saja, Bapak sedang mengantri di kasir.
Memakai batik coklat, bercelana hitam dan sandal selop juga berwarna coklat. Masker kain ada sablon Dinkes Kabupaten Pasuruan, mengenakan topi warna biru bertulis Billabong. Dan jam tangan yang cukup gahar di tangan sebelah kiri.
Nampak dari seberang jalan beliau tersenyum, sambil menenteng dua kantong kresek. Diangkatnya kantong itu, seperti memberi kode bahwa beliau baru selesai berbelanja. Beliau agak sedikit heran keberadaan kami yang tiba-tiba berada tepat di seberang minimarket. Aku dan sepupuku hanya bilang, wong sakti yang kemudian disambut tawa lepas Bapak.
Bapak membeli satu kresek snack untuk cucunya, dan satunya lagi isinya minyak, gula dan mie instan untuk besan. Hanya sekira lima belas menit, kami sudah sampai dirumah mertua ku. Cukup dekat, hanya berbeda kecamatan itupun kecamatannya bertetangga.
Sampai tiba saatnya kami dijamu Bapak dan Ibu mertua, makan malam. Menunya khas lebaran, opor ayam dan soto daging. Bapak yang memang doyan makan tanpa sungkan mencicipi semua makanan yang disajikan. Selesai makan kami bercengkrama kembali, masih di meja makan.
Tiba-tiba Bapak bersin dengan sangat keras dan tak sadarkan diri. Aku sangat terkejut, sebelumnya Aku tak pernah mendapati Bapak seperti itu. Kaget bercampur panik, Aku segera membopong Bapak ke kasur dibantu sepupu dan mertuaku. Keringatnya mengucur deras, namun nafasnya biasa saja. Tak tersengal sedikit pun.
Kemeja batik Aku lepas kancingnya, ku oles sekitar dada dan perut Bapak dengan minyak kayu putih. Aku usap di kening, hidung dan telapak kaki. Perlahan Bapak mulai siuman, sambil mengingat yang baru saja terjadi. Seperti tertidur kata beliau.
Lega rasanya melihat Bapak siuman. Namun Aku masih bertanya-tanya kondisi Bapak saat itu yang mendadak pingsan. Untuk mengetahui kondisi tubuh beliau, Aku membawa Bapak ke klinik terdekat. Beruntung semua baik-baik saja. Tensi dan denyut nadinya normal.
Sepanjang perjalanan Aku mencoba mencari tahu, semalam Bapak makan dan minum apa? Apakah semalam Bapak begadang? Atau ada keluhan lain sebelum kami berangkat?
Bapak waktu itu hanya menjawab semalam begadang hingga larut pagi. Ya, Bapak bermalam di rumah Adiknya di Lowokwaru. Kebetulan berlangganan TV kabel dan WiFi. Bapak yang demen nonton acara satwa, begitu excited tanpa terasa pagi menjelang. Selepas Subuh baru merebahkan badan. Hanya tidur dua jam katanya. Maklum, kondisi juga mendukung, Adiknya pada ngumpul di momen lebaran. Sementara Aku bermalam di rumah mertua.
Cukup beralasan dari cerita Bapak malam itu. Aku hanya memberi sedikit masukan, agar tak terlalu larut tidurnya. Secara usia Bapak sudah tidak muda lagi, meskipun secara fisik, semua terlihat baik-baik saja. Menginjak usia tujuh puluh tahun, kulit Bapak tak nampak keriput. Hanya dibagian leher yang kelihatan sedikit mengkerut, selebihnya masih terlihat kengkeng.
Aku baca obat dari dokter, hanya diberikan vitamin dan obat pereda sakit kepala. Mungkin imbas dari keteranganku ketika screening awal. Bahwa Bapak tiba-tiba pingsan dan semalam habis begadang. Dokter bilang kondisi Bapak sedang tidak fit, sehingga berdampak pada kekuatan tubuh untuk merespons kejutan, bersin. Sekali lagi Aku memakluminya.
Pikiran negatif tentang penyakit dalam, entah itu syaraf atau lainnya Aku buang jauh-jauh. Tujuan dan keinginan ku hanya satu, Bapak sehat dan panjang umur hingga bisa menyaksikan cucunya khitan.
Setelah kejadian itu, semuanya berjalan normal seperti biasa, hingga sekitar tiga bulan berikutnya..........
Vertigo dan memancing hingga larut pagi
Tepat di bulan Agustus 2022, cobaan itu datang. Bapak seperti sedang "kerasukan" untuk ikut lomba memancing. Tiga hari berturut Bapak pulang larut pagi, menjelang Subuh. Hari pertama, Adikku dibuat kaget, karena hingga jam dua pagi, Bapak tak kunjung pulang. Perasaannya bercampur aduk saat itu, karena biasanya tak sampai jam dua belas, Bapak sudah tidur di kamar.
Akhirnya Ibu lah yang tahu, Bapak pulang sekira jam tiga pagi. Ibu tahu karena sedang sholat malam. Sempat kaget karena seperti mendengar suara pintu yang sedang dibuka. Tak mau penasaran Ibu segera bangkit melihat ke arah pintu. Dan benar saja Bapak pulang sambil membawa hasil pancingan malam itu, ikan lele, begitu kata Ibu menirukan ucapan Bapak.
Keesokan harinya diulangi hal yang sama. Tiga hari berturut-turut! Adikku yang gemes melihat tingkah polah Bapak, sempat menegur, agar jangan larut pagi, namun permintaan itu tak di gubris. Hanya kaos dan celana yang menempel. Angin malam diterjang tanpa mengenakan jaket, diusia yang mulai senja. Ya, memang tak pernah ada keluhan, tak pernah sakit hingga bed rest, tapi setidaknya berikhtiar untuk menjaga kesehatan.
Tak langsung nge-drop dan sakit
Setelah kejadian itu, kondisi Bapak nampak tak ada masalah. Selang sekira seminggu setelahnya, kondisinya mulai turun. Tiba-tiba Bapak terserang demam dan muntah. Tak seperti biasanya, gejala ini terjadi hampir seminggu lamanya. Aku yang saat itu panik, meminta tolong Adikku untuk segera membawa Bapak ke dokter. Lagi-lagi Bapak menolak ajakan kami. Dalihnya hanya sakit biasa, masuk angin!
Disaat bersamaan, Ibuku juga jatuh sakit. Entah faktor kelelahan atau tertular, gejalanya sangat mirip. Demam dan muntah. Aku mulai berpikir, jangan-jangan Bapak dan Ibuku keracunan makanan? Coba ku tanya Adik, seminggu belakangan menu yang dimakan biasa saja, tak ada yang aneh, artinya tak ada masalah dengan makanan yang dikonsumsi.
Masih penasaran, lantas Aku coba gali lagi informasi dari Ibu, awalnya Bapak makan apa? Apakah makan masakan yang sama? atau berbeda menu? Beliau berdua ternyata mengonsumsi ikan. Ibuku makan ikan tongkol, sedangkan Bapak menghabiskan dua belas ekor lele hasil lomba mancing!
Adik dan Ibuku tak doyan lele, itulah sebabnya Bapak melahap semua lele yang terlanjur dimasak saat itu. Sisanya dihibahkan ke saudaraku.
Kemudian Aku mencoba googling tentang kandungan ikan lele. Ternyata ikan lele ini termasuk ikan yang tinggi protein dan lemak. Artinya sangat tidak dianjurkan untuk penderita kolesterol! Dan Bapak termasuk kolesterolnya tinggi. Dari check up terakhir, yang perlu diperhatikan adalah gula dan kolesterol.
Demam dan muntah tak redah, malah semakin menjadi. Adikku yang sendirian di rumah merawat Bapak dan Ibuku merasa tak sanggup, hingga akhirnya Aku pun memutuskan pulang kampung. Selama perjalanan, komunikasi dengan Adik ku tak henti-hentinya, setiap jam Aku tanya perkembangan kedua orangtuaku. Sambil berharap dan berdoa agar kedua ortuku segera sehat.
Adikku sempat memberi kabar kalau semalam Bapakku pingsan, bukan sekali dua kali, intensitasnya cukup sering. Aku masih bersyukur masih ada orang baik yang mau menemani Adikku malam itu. Adik ku yang panik melihat Bapak pingsan di kamar mandi, memberanikan diri menghubungi teman sekantornya, untuk meminta tolong membopong Bapak. Aku tak bisa membayangkan kondisi malam yang "mencekam" itu.
Aku hanya bisa mendengar cerita dan tangisan Adik malam menjelang pagi. Tidurku juga terjaga malam itu, tak nyenyak. Standby dengan handphone yang selalu ku genggam. Mulai hari itu, deringan telpon menjadi "teror" bagiku, teror yang membuat pikiranku tak tenang, pingin rasanya pulang, menemani Adikku merawat kedua ortuku.
Perjalananku pagi itu terasa sangat lama, seperti waktu berjalan lambat. Entah berapa kali Aku bolak-balik ngecas HP, lantaran "memantau" kondisi Bapak dan Ibuku. Adik ku mengambil izin karena kejadian semalam. Mata terpejam tapi hatinya tak tenang. Dan pusing pun menyerang.
Pikiran bercampur aduk, sedih, galau, tegang, takut kehilangan, tak ingin ditinggalkan, meracau dan kacau! Tak separah ini, ya Allah, berikan kesembuhan dan kesehatan untuk kedua orang tuaku.
Dari kejadian semalam sebelumnya, Ibu jauh lebih baik. Tak demam, tapi masih mual. Nafsu makan juga sedikit " membaik" meskipun sepotong roti tawar dan air putih hangat yang bisa dimakan. Tak ada gejala yang aneh.
Sementara Bapak sudah tak demam, makan pun tak ada kendala, namun satu yang masih membuat hati tak tenang, tiba-tiba kejang dan disertai keringat yang sok-sokan (bercucuran dengan sangat deras). Itu penjelasan Adikku siang yang tak kan terlupakan. Ada yang tak biasa dengan kondisinya Bapak.
Dua belas jam perjalanan dengan kondisi hati tak karuan, begitulah gambaran saat itu. Ku rekam detik demi detik dengan rapi. Ku simpan setiap cerita dalam pikiran. Akhirnya sampai juga di tanah kelahiran.
Rumah tampak redup, cahayanya temaram, rupanya penghuninya sedang istirahat. Perlahan Aku masuk rumah, Adikku yang sedari pagi chattingan denganku, ternyata masih melek. Bergegas cuci kaki dan tangan, pulas, Bapak dan Ibuku tertidur pulas, Alhamdulillah.
Bapak dan Ibuku tak tahu menahu kalau Aku pulang, berharap kejutan ini bisa sedikit menjadi motivasi dan hiburan ditengah ujian yang beliau hadapi, sakit. Aku hanya bisa memberikan semangat, agar Bapak dan Ibu bangkit dan sehat seperti sediakala.
Nasi bebek yang mulai dingin tiba-tiba ada dihadapan ku. Adik menyuguhkannya untuk ku, ya memang itu yang sementara bisa dia lakukan, beli makan diluaran. Tak ada mood untuk memasak, juga waktu yang tak bisa dirayu, Adik sibuk merawat Bapak Ibu.
Mimik muka Adik ku tampak muram. Ada kesedihan bercampur kecapekan. Tak salah jika dia pun akhirnya tumbang, demam! Suaranya juga sengau, sesekali batuk. Malam itu Adik bercerita panjang lebar tentang Bapak dan Ibu, yang membuat Aku dan Adik khawatir adalah kondisi Bapak.
Setelah asyik ngobrol, kami pun tertidur. Memasuki tengah malam, tiba-tiba aku mendengar lirih suara orang sedang mungkuk, mata yang baru terpejam ini terbelalak mendengar suara itu. Sambil mencari dari arah mana sumber suara, ternyata Ibuku sedang mual. Lompatlah aku dari kasur, berlari menuju kamar beliau.
Sedikit terkejut melihat aku di rumah. Seperti mimpi kata beliau. Memang sedari awal aku merahasiakan kedatangan ku, adik juga demikian, begitu kira-kira persekongkolan ku dengan Adikku. Melihat wajah Ibuku cukup menenangkan hati, meskipun beliau belum fit seratus persen, setidaknya Aku bisa "mengawal" beliau ketika sakit. Aku cium tangan dan kening Ibu, sambil mendoakan beliau agar lekas pulih.
Aku hanya membuntuti beliau dari belakang, menemani ke kamar mandi. Ku pastikan demam tak ada lagi, coba ku pegang tangan Ibu, dan benar suhunya sudah normal. Mual masih melanda, itulah penyebab Ibu masih mungkuk. Ditambah lidah juga masih satu rasa, pahit!
Di kamar belakang, aku coba tengok bapak dari balik pintu, beliau tertidur pulas. Alhamdulillah, semoga semuanya kembali berjalan normal.
Tak lama Aku ngobrol malam itu, agar Ibu bisa beristirahat dengan maksimal untuk pemulihan kesehatan beliau. Aku melanjutkan tidur dan beristirahat. Berharap ketika membuka mata ini, kedua orang tuaku sehat wal 'afiat.
Suara Adzan Subuh membangunkanku
Tarhim Subuh mulai berkumandang, itu artinya tak kurang dari tiga puluh menit suara adzan akan diperdengarkan. Suara ayam berkokok saling bersahutan, ditambah pekikan burung beo membuat riuh suasana pagi itu. Rumah orangtuaku berjajar dengan Pak Dhe, atau kakak dari Ibuku. Beliau punya banyak hewan peliharaan. Jadi suara burung, ayam dan kucing sudah akrab di telinga.
Bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan setelah semalam hanya cuci muka. Ternyata Bapak sudah bangun. Sekali lagi Aku mencium tangan dan kening, kali ini Bapakku. Sejurus kemudian beliau menunjukkan tongkat berbahan stainless, di ujungnya ada tiga kaki, tertata mirip kaki ayam. Ternyata Bapak berjalan dengan menggunakan alat bantu.
Bapak tak kuat menahan sakit pada kakinya. Persendiannya seolah tak mau menekuk, kaku. Ku perhatikan, ada bengkak pada pergelangan kaki kanannya, kaki yang seharusnya paling kuat untuk menopang berat badan. Untuk itulah beliau sekarang menggunakan tongkat untuk berjalan. Beliau ingin ke masjid, ikut jamaah sholat Subuh, tapi aku melarangnya, sholat di rumah saja, pintaku saat itu.
Melihat beliau ingin ke kamar mandi untuk wudhu cukup kesulitan. Hal paling susah menurut beliau adalah bangkit dari duduk untuk kemudian posisi berdiri sempurna. Ada kesakitan yang teramat sangat di dengkul. Akhirnya ku coba membantu beliau ke tempat wudhu.
Ingin rasanya air mata ini keluar sederas-derasnya, namun tak ku lakukan, agar Bapak semangat untuk sembuh. Nafas ku terasa sesak, namun harus ku tahan, agar beliau tak putus asa dengan keadaan. Semua telah berubah, ucapku dalam hati. Kata orang waktu itu ibarat pedang, Aku setuju. Waktu itu seperti kedipan mata, dan Aku pun tak menyanggah.
Rasanya baru lebaran kemarin Aku melihat senyum lebar beliau, rasanya baru kemarin Aku dipeluk dan dicium beliau, rasanya baru kemarin beliau menjadi wali nikahku, rasanya baru kemarin beliau hadir di wisuda sarjanaku, rasanya baru kemarin beliau resmi jadi Kakek, setelah penantian waktu yang tak singkat. Namun, fisik yang mulai renta itu mulai hadir, hinggap di sekujur tubuhnya, Akung! Semua rasanya baru kemarin.
Aku mencoba berpikir jernih, semuanya akan berakhir dengan indah, Bapakku sembuh. Itulah yang membuatku terus berharap. Selepas sholat Subuh, kopi hitam tiba-tiba sudah siap di meja makan. Rupanya Ibu seolah tak sedang merasakan sakit, kopi spesial itu selalu ada ketika Aku pulang. Takarannya pas, rasanya puas. Itulah yang mahal bagi anak rantau sepertiku.
Selepas beliau sholat Subuh, aku mencoba bicara dengan beliau, tentang apa yang sedang dirasakan, namun tak berhasil. Hanya sakit kaki yang dirasakan, tak ada lainnya. Tak percaya dengan cerita Bapak pagi itu, ku simpan saja, diam saja, amati saja, pikirku. Kalau sudah waktunya, pasti Aku bisa tau dengan sendirinya, sesuai cerita Adikku.
Seolah tak ada sakit yang sedang diderita, kecuali kaki yang sulit untuk berdiri sempurna. Bapak menutupi rasa sakit yang sebenarnya, sebagaimana kebanyakan orang tua lainnya. Obrolan pagi itu berhasil "dibelokkan" Bapak. Kita malah sibuk mencoba alat charger aki yang baru beliau beli.
Bapak memang rutin manasi mobil Katana di parkiran depan rumah. Mobil yang Ibu beli selepas Aku nikah. Mobil itu hampir tak pernah dipakai semenjak Aku merantau, mangkrak. Alhasil, akinya bermasalah. Sering keluar masuk gerai sterek aki, Bapak akhirnya membeli charger.
Nyelimur kalau kata orang Jawa, mengalihkan perhatian utamaku untuk tahu sakit apa Bapakku sebenarnya. Entah mengapa Aku begitu antusias dengan charger itu. Masih terbungkus dengan rapi alatnya, meskipun berkali-kali dipakai. Aku masih ingat, kardusnya ditali dengan pita, mirip bungkus kado. Bapakku memang jago kalau simpan menyimpan barang, sangat rapih!
Aku diajari cara penggunaan alat itu. Melihat beliau membawa tongkat dan cukup kesulitan untuk berdiri, akhirnya Aku hanya mengikuti arahan Bapak cara untuk mengisi daya aki. Beliau duduk persis di sebelahku, di kursi plastik warna merah yang mulai berubah warna itu. Dengan seksama beliau mengarahkan ku agar aki terisi sempurna.
Sambil menunggu daya aki terisi penuh, Aku masih tetap berusaha agar Bapak menceritakan keluhannya, tapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya waktu itu datang dan menjawab! Tetiba badan Bapakku penuh peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Kaos yang beliau kenakan basah kuyup. Keringat tampak seperti butiran air yang menyapu dahi, hingga telapak kaki, mirip orang mandi.
Bapak sedang mencoba bertahan dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Akhirnya Aku menuntun beliau ke kamar, meminta beliau untuk berbaring, namun menolak. Beliau meminta ku untuk mengantar beliau ke ruang televisi. Aku usap keringat beliau dengan tissue, sambil bertanya apa yang sedang beliau rasakan saat itu, puyeng, begitu jawab beliau. Seperti mau ambruk rasanya.
Perlahan keadaan mulai membaik, sisa peluh juga mulai hilang. Aku cek suhu tubuh beliau sudah kembali normal. Aku hanya bisa memberikan saran sembari menenangkan beliau, sambil menunggu agar beliau mau ke rumah sakit, untuk mengetahui sakit yang diderita Bapak.
Tak berselang lama, sekira satu jam tiba-tiba kambuh. Kali ini Bapak kehilangan kesadaran. Sejenak terdiam seperti orang melamun, sejurus kemudian bola mata Bapak melirik ke atas, menyisakan bagian putihnya saja yang tampak.
Dalam posisi duduk, tongkat yang beliau pegang terlepas begitu saja. Posisi kedua tangan beliau tak beraturan, seperti sedang menahan guncangan yang luar biasa. Kepala tertunduk dan ada suara erangan yang keluar dari mulut Bapak. Coba ku kasih efek kejut dengan cubitan tak diresponse. Nafasnya sedikit terengah, keringat mulai bercucuran. Mulutnya tertutup rapat dan menggigit kuat.
Aku yang panik mencoba memanggil Adik, untuk melihat kondisi Bapak, tapi tak banyak yang bisa kami perbuat, hanya menahan tubuh Bapak agar tidak jatuh ke lantai. Doa terpanjat saat kejadian, semoga kondisi ini segera berakhir. Tak tega melihat Bapak seperti ini.
Hampir sepuluh menit lamanya, kemudian beliau muntah dan Bapak kembali tersadar. Tubuhnya penuh peluh. Seolah tak terjadi apa-apa, Bapak memintaku untuk menuntun beliau ke kamar untuk ganti baju dan celana karena muntahannya.
Setelah kondisi sudah bersih, kembali ku coba bertanya tentang yang dirasakan saat itu. Bapak hanya menjawab puyeng tak beraturan. Seolah tubuh mau ambruk dan tak terkendali, dari posisi tangan memang seperti berpegangan dengan erat, agar tak jatuh.
Setelah mencoba merayu beliau, akhirnya bersedia untuk dibawa ke rumah sakit. Aku dan adik pun membawa Bapak ke faskes 1 untuk mendapatkan surat rujukan ke RS. Sesampainya di Puskesmas/ Faskes 1, Bapak mendapatkan tindakan. Kami mengutarakan kondisi Bapak yang sebenarnya. Dari screening awal, Bapak di diagnosa menderita gejala vertigo.
Apakah ada treatment khusus agar vertigo bisa sembuh? Aku mencoba menggali informasi dari dokter. Dari sisi medis penderita vertigo bisa dicegah dengan obat-obatan, sehingga harus rutin mengonsumsi obat, apalagi gejalanya sering timbul.
Ada kurang lebih empat macam obat selepas ke dokter. Ada obat vertigo, pereda nyeri dan mual, serta ditambah vitamin. Bapak yang jarang sakit, tiba-tiba diresepkan obat sebanyak itu, sedikit bingung, tata cara mengonsumsinya. Meskipun ada aturan pemakaian, Bapak lebih nyaman menulis dengan bahasanya sendiri.
Tak terasa, sudah tiga hari menemani Ibu dan Bapak yang sedang sakit di kampung halaman. Itu artinya Aku harus segera kembali ke Ibukota. Tak tega meninggalkan beliau berdua dalam keadaan masih kurang sehat, namun yang patut Aku syukuri, Ibu dan Bapak jauh lebih baik kondisinya.

Mas...bp nikah th 1984...yg nikah duluan tnte lilik...selang se bln om Dwi..tnte Lies...tnte Erna ...baru bp smpean...y btul memang dulu bp...nyekolah kan tnte SMA saja...sudah baik mas sinopsis ny...Monggo dilanjut smpai bp gerah LAN sedone
BalasHapus