Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Jalanan

Kalau ingin melihat fenomena sosial, datanglah ke terminal. Jika ingin menyaksikan kerasnya perjuangan, silahkan ke terminal. Mau menyaksikan susahnya cari uang, ya monggo ke terminal. Mau lihat orang pulang kerja yang lelah dan capek, di terminal tempat yang pas. Ada banyak profesi di sini. Mengais rejeki di antara pengguna bus yang sedang lalu lalang, hilir mudik, kesana kemari. Nggak sampai setengah jam, terhitung ada tiga pekerja seni yang menghibur, dengan suara penuh harap dan musik yang sedikit tiarap.  Usianya? Gendernya? Lengkap! Bahkan anak belum genap lima tahun, sudah “dipaksa” untuk mengamen. Hitungan setoran, entah itu juragan, atau orang tuanya, tak jelas. Nyanyi sekenanya, ngasih amplop ke setiap penumpang, berharap belas kasihan. Kadang jengkel, melihat emak nya nongkrong di kejauhan, mengamati putra putrinya mengamen. Sungguh sangat disayangkan. Seharusnya di usianya, mereka masih butuh kasih sayang dan pendidikan, tapi apa daya mereka harus membantu mencari na...

Naik bus “jalur bawah” sangat menyiksa!

Selepas libur panjang, terminal Arjosari—Malang—sudah mirip pasar, ramainya minta ampun. Terhitung dari hari Sabtu sampai dengan Senin, kawasan pendidikan dan wisata ini, menjadi jujugan wisatawan. Banyak pelancong luar kota yang datang untuk berkunjung ke destinasi wisata, entah itu Kota Batu atau kawasan pantai selatan. Namun, satu yang tak bisa diacuhkan, pekerja asli Malang yang berkarya di luar Kota Bunga seperti Surabaya, Sidoarjo dan Pasuruan juga cukup banyak!  Situasi ini membuat terminal Arjosari cukup ramai jika dibanding hari-hari biasa. Orang pulang wisata dan kembali ke tempat kerjanya tumpah ruah sore ini, Senin, 12 Mei 2025. Cuaca yang sedari siang hujan, tak menyurutkan calon penumpang untuk “setia” menunggu bus AKDP yang siap mengantarkan rombongan ke tujuan. Tak pelak, jalur dari arah Ciliwung (dari arah Kota Malang) dan Singosari ke terminal Arjosari, macet di pertigaan Taspen.  Kawasan pertigaan ini memang kerap menjadi simpul kemacetan baik yang menuju ke...

Balada Pejuang Bus Antarkota

Pasutri itu tiba-tiba menepi, persis di bawah JPO. Awalnya kukira mereka hanya berdua, ternyata si kecil nyempil di boncengan tengah. Hujan memang tiba-tiba turun dengan derasnya, disertai angin yang juga cukup kencang. Laju kendaraan tertahan, tak bisa melaju secepat biasanya. Puncak jam “sibuk” Kota Pahlawan. Lima menit, sepuluh menit, hujan semakin menjadi. Keluarga kecil nampak bingung, mencari tempat yang nyaman untuk putranya. “Duduk saja di situ Bu, ada tempat kosong” Aku berseloroh. Sembari menggiring anaknya, “Iya, terima kasih Pak” sambil berlalu.  Membuntuti dibelakang si Bapak, sambil menenteng keresek tanggung warna putih, lengkap dengan kotak makanan warna cokelat, bertumpuk dua. Motor yang ditumpanginya pun dibiarkan tergeletak begitu saja, di tepi jalan, di bawah jembatan penyeberangan orang. “Di sana kering, nggak ada hujan, di sini langsung deras” Pungkasnya sambil menuding ke arah jalur yang dia lalui. Aku tersenyum, “Ya memang cuaca akhir-akhir ini mirip tahu bu...

Naik Bus? Bawa Santuy Aja Lurs!

Ada saja kelakuan penumpang bus, entah itu bus kota atau antarkota. Masih pagi, sudah ribut karena salah “terima”. Kondisi penumpang selepas libur Sabtu, Minggu Senin dan Selasa (10-13 Mei 2025) memang terbilang sangat ramai. Pagi itu bus AKDP atau bus kota, jumlah penumpangnya membludak. Tak pelak, demi mengejar waktu, calon penumpang rela untuk berdesakan, yang penting sampai di tujuan, tak terlambat.  Saat berangkat dari terminal, jumlah penumpang memang dibatasi, tidak terlalu penuh, meskipun satu atau dua orang terpantau tak kedapatan kursi alias berdiri. Area penumpang berdiri memang cukup “longgar”, untuk mengangkut penumpang di halte-halte kecil sepanjang rute tujuan. Jam masih menunjukkan sekira setengah tujuh. Raut wajah para penumpang terlihat ceria setelah libur empat hari lamanya.  Tiba di halte pertama selepas terminal, pengguna transportasi umum saat itu cukup meriah. Mereka berburu bus yang lewat, sekaligus berpacu dengan waktu, meskipun begitu, awak bus yang ...

Perjalanan yang tak pernah usang

Hamdalah , bisa kembali beraktivitas di tanah kelahiran. Diberi kesempatan untuk menikmati ibukota Jakarta, tak dimiliki semua pekerja profesional (red: karyawan). Genap lima tahun, akhirnya “dikembalikan” ke East Java , kalau kata orang “ Jowo Wetan ” alias Jawa Timur. Masih segar diingatan, ketika teman-teman di pabrik melepas kepergianku ke kantor pusat, sedih. Namun yang pasti kami selalu mendoakan yang terbaik satu sama lain.  Tawaran yang ku terima dari manajemen, adalah bagian dari restrukturisasi organisasi. Ya beruntung masih ditawari, daripada tanpa pekerjaan. Prosesnya memang tak mudah, tapi bersyukur, akhirnya restu itu ku terima, setelah hampir setahun penantian. Meskipun dalam hati bergumam, “semakin lama ditunda, semakin bagus pula”, toh ya aku masih bekerja di tempat yang sama. hehehe Kata orang, setiap pilihan itu mesti ada rasa “sakitnya”, tergantung masing-masing orang menerjemahkannya. Termasuk aku yang saat itu galau tingkat dewa. Menuju Jakarta, meninggalkan ...