Motor Matic
Dulu yang ku tolak itu kini ku telan sendiri! Bahkan bisa dibilang aku gengsi untuk mengatakan “iya” tentang sesuatu yang baru. Refusal atau penolakan terhadap apapun yang asing atau hal baru, memang sah-sah saja. Namun, mengambil keputusan dengan cepat tanpa tau fakta itu sesat.
Aku ingat betul bagaimana barang baru ini belum menjamur seperti saat ini. Bisa dibilang, keberadaannya masih sulit dijumpai saat itu. “Ah, apaan, body nya saja ringkih dan terlihat aneh” dalam hati bergumam.
Maklum, itu baru pertama aku melihatnya. Ditambah lagi “pengaruh” pendapat pada umumnya, “Pakai itu barang, udah mirip manusia setengah-setengah yang akan dinas malam”. Pria itu terkekeh setelah melontarkan kata-katanya.
Sadar atau tidak, aku mengiyakannya [...]
Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan mereka cukup mudah dijumpai saat mengaspal. Meskipun satu atau dua gelintir, belum mendominasi.
Dan sempat terlontar, aku tak akan menggunakannya kelak. Rasanya memalukan saat itu.
Aku lupa bahwa perubahan itu tak bisa dihindarkan. Dunia akan terus berjalan. Semesta akan terus bergerak, sampai nanti waktunya tiba untuk “istirahat”.
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan. Teknologi berubah, kebiasaan berubah, dan manusia pun ikut menyesuaikan diri. Semuanya berubah.
Sampai saat ini pun kita sedang dalam periode yang sama. Entah kapan berakhir. Bumi juga sedang menjalani takdir. Pun begitu manusia.
Memang butuh waktu lama untuk menguasai jalanan negeri ini. Perlahan mereka mulai menyingkirkan dominasi pendahulunya, motor bebek maupun sepeda lanang (semacam Tiger ataupun Megapro).
Kini aku berdamai dengan keadaan, berada dalam barisan motor matic yang berjajar di jalanan, bersama gengsi yang sudah kutanggalkan.
Kosmetik
Sambil menahan tawa, aku melempar canda, “Sekarang gaya riasan wajah semakin monoton ya? ”. “Kok bisa?” tanya kawanku sebelah.
“Coba lihat, terik begini wajah mereka bersinar terang” ucapku. “Hahaha benar juga sampean” kawanku tertawa.
Kosmetik bermacam jenisnya. Aku pun tak paham satu persatu merk atau kegunaannya. Namun fenomena ini cukup menggelitik karena anak sekolah pun mengenal barang satu ini.
Dandanan menor, sampai-sampai antar bagian tubuh tak “nyetel”! wajah, tangan dan kaki bisa beda warna. Bibir dan pipi memerah, wajah full dengan blok warna putih. Hasilnya? Bayangkan sendiri lah.
Dulu penggunaan kosmetik cukup terbatas, entah karena belum semasif iklan saat ini, atau memang orang dulu lebih suka natural, apa adanya. Bedak tipis, lipstik sekadarnya.
Penggunaan kosmetik yang berlebih, atau make-up tebal, memang bisa dengan sekejap mengubah wajah seseorang. Namun, siapa sangka kebiasaan ini bisa berbahaya bagi penggunanya?
Resiko kesehatan. Sebagus apapun merk kosmetik, tetap ada bahan kimia dalam pembuatannya. Jerawat dan kulit perih, adalah salah duanya. Mau tampil anggun, tapi kesehatan dikesampingkan, buat apa?
Psikologi. Kebiasaan makeup membuat seseorang lebih pede tampil di tempat publik. Namun apa jadinya jika wajahmu harus “istirahat sejenak” dari sentuhan makeup? Minder dan tidak pede. Parahnya lagi, takut disingkirkan dari geng atau kelompok.
Orang bule saja mati-matian berjemur agar kulitnya terlihat eksotis, sementara kita malah sebaliknya, lantas cantik yang seperti apa yang sedang dikejar? Sungguh dunia dengan segala misterinya.

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Silahkan tinggalkan komentar
Thank you for visiting
www.besongol.xyz
Please leave the comment