Langsung ke konten utama

Jam Waktu: Antara Angka dan Petunjuk Alam

Pernah mendengar istilah jam waktu? Kata yang sedikit rancu, tapi cukup menarik untuk diulas. Kata asing ini bukan ku dengar dari motivator, juga bukan dari orang yang bergelar doktor, kata itu diperdengarkan ditelinga oleh teman kantor. 

Obrolan santai itu terjadi selepas sholat Dzuhur. Waktu tepatnya lupa, entah berapa tahun yang lalu, yang jelas aku masih bekerja di Kota Seribu Warkop Giras, Gresik. 

"Masih muda, tapi jabatannya sudah tinggi, sudah gitu hartanya juga melimpah". Entah apa yang sedang kami bicarakan, tetiba terlontar pendapat itu. Salah satu teman senior tiba-tiba, " Itu namanya jam waktu, Mas" beliau menimpali. 

Sontak saja aku langsung balik bertanya, "apa itu jam waktu, Pak?". Dengan agak sedikit gugup beliau mencoba menjawab. " Jam waktu itu mirip dengan kesempatan atau peluang", "lalu apa bedanya, Pak?" sahutku penasaran. 

Berbeda dengan takdir

Kalau dibilang takdir, bukan sih Mas. Saya bisa bilang antara kesempatan, kesiapan dan "tangan Tuhan" bertemu dalam momen yang terbaik tepat. Coba sampean lihat, berapa teman sekolah yang sudah "jadi"?

Waktu yang diberikan sama, artinya kesempatan pun seharusnya sama kan? Yang mungkin berbeda adalah kesiapan. Menggunakan waktu dengan seksama, membaca peluang, dan berani mengambil tindakan adalah kesiapan. 

Mungkin kalau dalam matematika, waktu, kesempatan dan kesiapan itu berbanding lurus. Bukan saling menggantikan, tapi saling mengisi untuk mendapatkan "formulasi" yang tepat. 

Kalau ketiganya sudah bereaksi, maka tinggal tunggu campur tangan Tuhan, berpasrah. Bukan kegagalan hari ini yang membuat hancur, tapi keputusan untuk berhentilah yang membuat orang gagal sampai di tujuan.

Berkaca boleh, tapi jangan lama-lama

Mayoritas orang bernyawa itu selalu berkaca pada orang lain. Entah itu teman, saudara bahkan artis ibukota. Parahnya lagi tanpa filter, loss alias head to head. 

Mereka lupa kalau setiap individu memiliki jalan yang berbeda-beda. Ibaratnya sama-sama jual jamu, mulai dari resep, cara mengolah, sampai cara memasarkan produk pun berbeda. 

Kalau pun semua proses dari awal hingga akhir tiada beda, lantas apakah tingkat keberhasilannya sama? Pasti berbeda! Usaha boleh sama, tapi urusan rejeki, pasti beda! 

Sesekali melihat kesuksesan teman dan saudara boleh saja, untuk motivasi. Namun jangan terlena dengan kondisi orang lain. Kalau sampean sudah pernah tau usaha, kesakitan dan perjuangan menuju puncak, bisa jadi kata yang terlontar, "opo aku yo iso lan kuat ngelakoni rekoso koyo dekne? (Apa aku bisa dan kuat menjalani perjuangan seperti dia?"

Berkaca itu sebentar, kalau lama, bisa jadi sampean sedang melamun dan meratapi nasib.

Bagaimana dengan waktu? 

Seniorku dengan sabar menjawab setiap pertanyaan yang ku lontarkan. Bibirnya terangkat sebelah, gigi gingsulnya tak bisa sembunyi. Aku tetap serius menunggu jawabnya. 

Mengapa harus ada jam dan ada waktu? Jam hanyalah penanda, ia adalah alat untuk mempermudah berkomunikasi tentang waktu antara manusia satu dengan lainnya. Tak terbatas di situ, bahkan dengan bagian belahan bumi lain.

Coba kalau jam di seluruh belahan bumi itu sama, apa yang terjadi? Kekacauan! Makanya jam selain berfungsi sebagai penunjuk waktu, ia juga bisa digunakan sebagai parameter.

Kalau sudah berbicara tentang parameter, maka yang keluar adalah angka, bukan kata atau warna. Jam adalah waktu yang di sepakati bersama.

Angka itu mutlak

Berbeda dengan huruf atau abjad, meskipun secara tulisan sama, namun ketika diftong-nya (pengucapan/pelafalan) berbeda, bisa jadi maknanya akan berubah. 

"Sampean bisa kasih contoh Mas?" tanya senior ku. Aku tak langsung menjawab, meskipun pertanyaan yang disampaikan aku paham. 

Beliau hanya tersenyum melihat aku kebingungan. "Nyerah, Pak" sambil aku terbahak karena tak mampu menjawab pertanyaan yang rumit itu. 

Padahal  sudah kasih jawaban di pertanyaan saya tadi, ada dua kata. Bisa dan kasih. Aku hanya tertegun sambil bergumam "Iya juga ya, kenapa terlalu jauh berpikir aku tadi".

Berbeda dengan angka. Angka berapapun kalau digandeng dengan angka lain, atau dirinya sendiri, maka cara baca dan hasilnya akan bervariatif.

Uniknya lagi, semua angka yang dibagi dengan nol, maka hasilnya tak terhingga. Coba buktikan di kalkulator, hasilnya pasti error. Atau "tidak bisa dibagi dengan nol. Atau coba angka nol dibagi dengan angka berapapun, hasilnya pasti nol. Nol itu bukan netral, tapi tak bernilai.

Kami bertiga bubar ketika bel kantor berbunyi, itu artinya kami harus bergegas kembali beribadah. Sholat itu ibadah, berkerja juga beribadah. Semangat buat pejuang ibadah (tak hanya rupiah). 

QOTD: Sujud. Ketika berbisik ke Bumi, Langit Mendengar. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semesta Berdaya: Monolog Kersen di Tengah Krisis Ekologis

Masa keemasan dan Nostalgia Bukannya ingin menyombongkan diri, aku adalah tumbuhan favorit di era tahun 90-an, bahkan hingga awal milenium. Keberadaanku sangat dicari, terutama anak-anak. Mereka harus bersaing dengan kompetitor: burung, unggas dan berbagai satwa lainnya.  Aku termasuk pohon yang sangat mudah beradaptasi, terbukti aku bisa tumbuh di lanskap apapun—kadang di atas atap sekali pun, aku mampu bertahan hidup. Dari sisa feses hewan pun, aku bisa tumbuh dan berkembang biak. Di mana pun, aku cukup mudah dijumpai.  Namun, seperti makhluk hidup lainnya, jika aku boleh memilih, aku akan menunjuk tempat yang teduh, dengan suplai air yang melimpah. Konon, buahku sangat dinanti. Dari selentingan kabar yang beredar, ada khasiat istimewa: mencegah penyakit beri-beri. Konflik Manusia dan Burung Meskipun mulanya aku bagian dari rantai makanan burung-burung kecil, namun akibat ledakan jumlah manusia, kini habitat burung harus bertarung dengan mereka. Membludaknya populasi manusi...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Bali The Last Paradise

Boarding di Soekarno Hatta Menjelang Pagi Hari pertama, langsung gas. Tak kendor sedikitpun meski mata terasa berat. Kantuk melanda sebagian peserta. Efek berangkat dini hari, bahkan rombongan flight pertama (jam 05:00) sudah stand by di bandara Soetta sejak pukul 03:00 dini hari! Hebat bukan? Ya, peserta harus berada di titik kumpul sesuai arahan dari travel agent dua jam sebelum pesawat lepas landas. Hal ini untuk mempermudah baik panitia, agen perjalanan dan peserta koordinasi, dan pastinya tak ketinggalan pesawat!  Berangkat di pagi buta memang tak mudah bagi sebagian peserta (termasuk saya pribadi hehehe ). Dibutuhkan kemauan, semangat dan tekad yang luar biasa untuk bangkit dari tempat tidur, bersih badan alias mandi dan gosok gigi, jangan lupa pakai baju dan semprot parfum yang wangi! 😂 Beruntung itinerary sudah di share komite dari jauh hari. Jadi tak perlu bingung dan bimbang, bawaan yang “wajib” dibawa pada saat workshop berlangsung pun sudah lengkap diinformasikan,...