Ada dua hal baru yang sedang ku coba hari ini, praktek di lapangan sebagai penumpang.
Pertama, nyoba naik Patas abal-abal. Seperti Senin biasanya, sebagai pekerja antar kota yang laju setiap hari, membaca momen itu penting.
Suatu hari pernah ngobrol dengan bapak-bapak yang kit pack-nya sama, bawa ransel, berjaket dengan penutup kepala, serta masker menempel di mulut.
Percakapan itu muncul setelah kami sama-sama pindah bus karena ternyata kru busnya belum lengkap. Imbasnya harus nunggu lama, sedangkan denting waktu terus berjalan.
Saya kira bus ini tadi Patas, Pak, karena tidak di jalur atau koridor yang benar, sambil menunjuk arah ke jalur Wilangun.
Kalau Senin mah bebas, Mas. Siapa yang siap, itu yang berangkat duluan. Karena kendala kalau Senin Subuh seperti ini, antara kru atau armadanya yang tidak siap.
Aku hanya mengangguk, sembari menggali informasi. Saya juga sempat ditawari naik bus Patas di depan, tapi khawatir di getok.
Meskipun kondekturnya sempat bilang sama dengan tarif reguler. Gapapa Mas, sudah biasa itu, tapi kalau bisa uang pas, biar ga ada “salah tarif”. Beliau memberikan tips.
Benar saja, hari ini aku mencoba menerima tawarannya. Setidaknya ada beberapa catatan setelah mencoba naik Patas abal-abal.
Pertama, waktu tunggu lebih lama. Mereka susah payah menggaet penumpang, karena jelas tertulis Patas di kaca depan kemudi. Mayoritas ragu untuk naik, takut tarifnya dua kali lipat dari harga normal.
Kedua, penumpang dengan ongkos “reguler” tak akan dapat tiket! Karena bayar separuh. Pertanyaannya, kalau ada apa-apa, bagaimana tanggung jawabnya? Padahal setiap penumpang kendaraan umum wajib bertiket.
Ketiga, jangan bayar dengan uang lebih, karena akan ditarik sesuai tarif Patas. Seperti mas-mas sebelah saya. Sodorkan uang lima puluh ribu rupiah, kembali sepuluh ribu plus tiket.
Masalahnya satu, kenapa ada Patas? Sedangkan rute dan jam keberangkatan hampir sama, Patas pun ngetem untuk cari penumpang. Secara umum, layanannya sama, tak beda sedikitpun. Hanya jumlah kursinya aja dua-dua di sisi kanan dan kiri.
Percobaan kedua, naik feeder wira-wiri dari Terminal Lidah Kulon. Ternyata dari TLK, feeder ini lanjut mentok sampai halte Lakarsantri. Lumayan jauh, memutar.
Butuh waktu hampir setengah jam untuk kembali ke Halte Lidah Kulon B, macet! Dua kendaraan pengganti angkot ini, mengalami trouble.
Satu di seruduk motor dari belakang, satunya harus nge-ban lengkaplah sudah. Padahal itu di waktu puncak sibuk, pekerja pada pulang kantor.
Surabaya, menjelang senja 15 Juni 2026
![]() |
| Wira-wiri sedang nge-ban |

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Silahkan tinggalkan komentar
Thank you for visiting
www.besongol.xyz
Please leave the comment