Langsung ke konten utama

BoonPring Penghilang Pening

Bermula dari "provokasi" ibu-ibu dasawisma, bapak-bapaknya pun latah, ingin piknik bareng! Rencana melancong pun dibahas sat-set, express, cepat! Hanya dua minggu berselang, tibalah saatnya kita berwisata.

Pagi-pagi sudah ditugasi untuk nempel nomor urut mobil peserta. Total ada 10 mobil MPV, ya tanggung renteng lah, BBM diisi sendiri urusan perut dan tiket masuk, sudah ada donatur, alhamdulillah.

Sudah mirip petugas pajak yang lagi menyisir rumah warga untuk cek pajak kendaraan alias STNK hehehe. Janjian jam 6 pagi di depan balai RW, namun tak satupun orang tampak batang hidungnya.

Wajar sih, Malang sedang dingin-dinginnya. Mending tarik selimut, daripada harus bangun pagi-pagi. Dari HP terpantau, suhu rata-rata sekitar 17 derajat, kalah gak tuh AC? 

Beberapa kali memantau dari depan rumah, kondisi gang utama, masih saja mamring. Geliat mulai terlihat sekira jam tujuh. Koordinator sang empunya gawe baru saja beberes, mengumpulkan konsumsi dari donatur dan tetangga.

Loading jam tujuh lebih lima menit

Tak perlu kecewa dengan molornya acara, itu sudah biasa. Normalisasi spare waktu satu jam untuk setiap acara, lantas siapa yang dirugikan? Jelas orang yang disiplin, on time!

Sudahlah, namanya juga acara bersantai, bersenang-senang, healing kalau kata nyonya saya. Satu, dua, tiga mobil peserta mulai keluar dari garasi.

Dari rumah koordinator, Pak Kardi, terpantau jajanan begitu banyak. Mulai dari snack anak-anak, minuman, hingga paket pop mie yang masih tersegel rapi. Cocok untuk menghangatkan badan seusai berenang.

Satu barang yang pantang ditinggal ketika acara beramai-ramai, alas atau tikar! Puluhan banner ukuran tanggung, ditambah karpet, seluruhnya masuk ke mobil koordinator, termasuk air minum.

Serunya lagi, bawa dua galon air dan kompor lengkap dengan tabung melon. Panci air seukuran dandang nasi tak lupa dibawa, berikut gayung airnya. Bawa mie seduh, terus ga ada air panas, apa iya mau dimakan kering? hehehe.

Meluncur ke Turen jam 07:30

Setelah seluruh akomodasi siap, berikutnya ya apalagi kalau gak woro-woro warga untuk bergegas. Loading berjalan cukup singkat, tak sampai setengah jam. 

Sesuai rundown seharusnya kami berangkat jam enam pagi. Namun, tak masuk akal kalau berangkat sepagi itu, lha wong destinasinya baru open gate jam 8 pagi. Ah iya, kena prank!

Enam mobil berangkat beriringan. Paling depan, koordinator wisata, mengekor di belakangnya donatur tiket masuk, Pak Catur. Mengekor dibelakangnya tim hore 😅

Jalanan lengang, tak seperti minggu-minggu biasa. Ya mungkin efek tanggal berkepala dua menjelang tiga, alias tanggal tua. Semoga dugaan saya salah.

Benar saja, sepanjang jalan, pemandangan warga yang sedang kerja bakti, memasang bendera dan bersih desa. Asap mengepul di pinggiran jalan. Ya ini yang bikin jalan lengang, semua sibuk menyambut hari ulang tahun Republik Indonesia. 

Estimasi waktu perjalanan dari jantung Kota Malang ke BoonPring sekitar 45 menit. Dengan jarak tempuh sekitar 50 km. Sesuai jadwal, tujuan pertama ke Eco Wisata, BoonPring. Nama yang awam di telinga.

Akses ke wisata alam ini cukup mudah, hanya saja menjelang lokasi, beberapa titik jalan terpantau berlubang. Ditambah jalanan menurun dan berkelok tajam, meskipun tak se ekstrim kelokan di jalur Kota Batu. Itupun hanya sebentar saja, normal.

Touchdown jam delapan di BoonPring

Hampir satu jam perjalanan, akhirnya rombongan wisata erte pitu sampai di lokasi tujuan pertama, Eko Wisata BoonPring. Tentu saja bongkar muat harus segera di eksekusi. 

Meskipun matahari tampak bersinar terang, hawa semriwing masih terasa. Lumayan keringat tak keluar setetes pun meskipun harus membawa beban ke gazebo tujuan. 

Tak perlu bayar tiket masuk, cukup bayar parkir saja. Free pas dari sponsor. Seharusnya tiket masuk per kepala dikenakan tarif Rp. 10.000,-. Terbilang cukup terjangkau dengan wahana yang ditawarkan. 

Kolam renang di sisi kiri jalan terlihat mencolok di antara rindangnya pepohonan, biru cerah. Ada tiga kolam renang, dengan satu kolam khusus dewasa. Dua kolam renang lainnya untuk anak-anak yang hanya setinggi lutut orang dewasa.

Rupanya dari mata air, karena tak sedikitpun bau kaporit atau bahan kimia lainnya. Airnya terus terisi, dari pipa seukuran tiga dim. Sangat segar! 

Diantara berita kekeringan yang mulai melanda di beberapa wilayah Jawa Timur, di sini keberadaan air sangat melimpah. Kolam ikan berada di jantung wisata BoonPring.

Dimanfaatkan untuk sepeda air dan speedboat. Harga per sepeda air Rp. 20.000 untuk 4 orang. Sedangkan kapal speedboat hanya Rp. 5.000/orang dengan kapasitas kurang lebih 10-15 orang.

Meskipun hanya mengitari Pulau Putri dua kali, namun sensasinya tetap beda. Pengunjung bisa memberi makan ikan di telaga ini. Airnya sangat jernih, sampai dasarnya terlihat. Sampah dedaunan rontok ke dalam danau mini ini.

Menikmati udara sejuk dengan latar jadul

Tak perlu khawatir panas kalau berkunjung ke BoonPring. Panasnya mentari masih bisa dijinakkan dengan udara sejuk dan hutan yang mengelilinginya. 

Dari namanya saja sudah bisa ditebak. Boon dan Pring. Boon mungkin mewakili kata kebun, sedangkan Pring jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bambu. Jadi secara istilah bisa di sebut Kebun Bambu.

Memang di area ini di kelilingi pohon bambu yang cukup mendominasi. Bahkan di beberapa titik, air mengucur deras dari akar bambu ini.

Kreativitas warga desa Sanan Kerto ini layak diapresiasi. Keberadaan Pasar Wisata, membuat konsep wisata alam di sini berbeda dengan yang lain.

Untuk membeli makanan dan jajanan tradisional, pengunjung pasar ini wajib menukarkan uang tunai dengan uang kayu. Setiap uang kayu, dihargai lima ribu rupiah. Mulai dari nasi tiwul, polo pendem dan dawet beras ada di pasar ini.

Bukan latar yang istimewa, namun sederhana dan menyatu dengan alam. Pengunjung bisa menyantap makanan, lengkap dengan dangdutan. Makan diantara rindangnya pohon dan angin sepoi membuat enggan melangkah. Betah!

Pilihan wahana juga bervariasi. Anda bisa menjajal naik kuda, berjalan diatas air dengan bola raksasa, dan juga naik motor trail mini. Tak percaya dengan kisah kami? Datang saja sendiri dan buktikan!

Welcome spot BoonPring, tempat selfie utama. 

Spot foto gratis tanpa biaya

Speedboat sedang melintas di telaga

Pulau Putri: Satu-satunya pulau di danau mini

Patung Singa yang khas dengan Malang

Perbekalan warga erte pitu, Malang


Arena kolam renang, lengkap dengan Arena bermain anak. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.  Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan!  Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat.  Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya ...

Masjid Merah Pandaan: Wisata Unik di Jawa Timur yang Layak Dikunjungi!

Playground Eat and Play Layar handphone tiba-tiba berdering, dari nadanya memang bukan panggilan telepon, tapi pesan singkat yang masuk. "Sudah otw kah?", pertanyaan singkat yang mengingatkanku pada janji. "Sudah di parkiran" jawabku singkat lengkap dengan emoticon senyum lebar. Pesan super "penting"itu datang dari emak-nya anak-anak alias nyobes (singk: nyonya besar) . Libur sekolah sudah lewat hampir dua minggu, namun sore ini baru berencana jalan. Hampir empat bulan bocil tak main ke playground , layaknya rutinitas yang kami jalani selama merantau ke Jakarta. Setiap bulan, minimal sekali, "ritual" sambang tempat bermain di Blok M Square, Eat and Play. Selain taman kota yang jadi andalan kami sekeluarga. Jika dihitung, lebih "hemat" daripada harus pergi ke wisata ke Bogor atau Bandung. Dari namanya saja jelas, eat and play. Selepas main dengan puas, yang jelas perut dan mulut akan timbul rasa lapar dan dahaga hahaha Hal lumrah ketik...

Pengamen, Pengantar Paket, dan Pekerja Urban

Suasana pagi itu tak terlalu cerah. Mendung tipis menghalangi mentari pagi, sendu begitu orang kebanyakan menyebutnya. Meskipun udara pagi terasa begitu dingin, namun sebagai “pekerja keras”, dilarang kendor untuk menjemput rejeki. Nyaris tak ada yang istimewa dengan hari sebelumnya. Diantara sekian banyak penumpang di pagi hari, 20-40 persennya adalah orang yang sama, repetitif. Namun inilah yang membuat istimewa. Guratan cerita akan selalu ada tersimpan rapi di ingatan. Termasuk pagi ini di atas bus kota.  Ada kebiasaan sederhana yang bisa diamati selama perjalanan singkat di dalam bus kota. Hadirnya TWS atau headset nirkabel, membuat muda-mudi sekarang lebih memilih “menyumpal” telinga, daripada ngobrol dengan sebelahnya. Tak sedikit juga yang scrolling layar smartphone mereka, sekedar menikmati algoritma sekian, entah itu medsos atau portal berita. Namun dari sekian kebiasaan, ada satu kebiasaan yang menjadi perhatian, berdzikir.  Ibu-ibu berjilbab itu naik dari halte yan...