Langsung ke konten utama

Penggalan Cerita Kehidupan Kota

Seorang ibu dan putra kecilnya, menerobos pagi yang masih gelap. PJU masih menyala, kuning. Selintas baju yang dikenakan sama merahnya. 

Berjalan begitu cepat, hingga kaki mungilnya tak mampu mengejar. Berhenti si Ibu sambil mengulurkan tangan. “Ayo Nak, buruan” mungkin kata-kata itu yang terlontar. 

Tak ada jaket, mereka berdua menembus dinginnya Malang pagi itu. Di lengan kirinya, si Ibu menenteng beberapa tas plastik, dan tempat duduk. 

Kursi plastik dengan empat kaki yang jenjang, juga berwarna merah. Merah, artinya berani. Termasuk menerjang gelap dan dingin Subuh hari. 

Seolah tak mau membebani lelaki kecilnya, semua barang bawaan melekat di tubuh sang Ibu. Bergegas, bukan menyeret, demi rezeki menjelang pagi.

Jalan menurun dan menanjak, tak mudah. Namun, itulah perjuangan, yang terpenting hijrah saja dulu, untuk hasil pasrahkan saja pada-Nya. 

Pintu gerbang pabrik terbuka, menunggu pekerja datang. Saat itu waktu yang pas menggelar barang dagang. 

Daripada di rumah sendiri, tak ada teman, si Kecil diajaknya berjualan. Itu cuma dugaanku. 

Dari arah berlawanan, seorang bapak tua mengendarai motor, rambutnya gondrong, dengan mulut penuh asap lengkap dengan jaket tebal. 

Motor warna merah itu juga membawa perlengkapan yang sama, mirip dengan si Ibu dan anaknya tadi.

Bedanya, dia datang sendiri dengan motor Honda. 

Malang, 15 Juni 2026


Asap hitam pekat keluar dari knalpot kendaraan. Berjajar: kontainer, truk hi-blow, hingga dump truck. Kecepatan tak sampai 20 km/jam. Jalan menanjak tajam dan panjang.

Bahkan sudah ratusan truk terjebak di jalur ini, tak kuat mengangkut beban. Tak jarang harus ambil "nafas" dulu sebelum lanjut jalan. 

Tubuh mungil dan jaket tebal, terlihat  riang,  sedikit berjoged, berjalan menanjak bersama truk besar dan asap pekat. Bukan udara segar, bukan nyanyian burung  yang didengarkan. 

Polusi bercampur debu dan tentu saja desir mesin yang sedang berjuang di tanjakan. Di depannya seorang lelaki paruh baya, menuntun sepeda jengki butut beserta keranjang di depannya.

Ada selimut, bantal dan alas yang sepintas mirip perlengkapan tidur. Putri kecil itu berjalan persis dibelakangnya.

Jangan ditanya, bagaimana berjalan di tanjakan menembus asap pekat. 

"Jual Nasi Bungkus", di bagian boncengan sepeda jadul itu terpampang. Tulisan kuning dengan background merah menyala itu tampak lusuh dan kumal, tapi masih bisa terbaca.

Tumpukan nasi terbungkus kertas coklat tertata rapi di dalam keranjang. Dari situlah ada harapan.

Beruntung tak jauh dari titik aku melihatnya, dua manusia yang sedang berjuang itu menemukan "singgasananya".

Berteduh di pohon rimbun, lengkap dengan batu besar di bawahnya. Sebotol air mineral keluar dari keranjang, gadis kecil itu nampak terengah. Sambil duduk menghadap jalanan yang mulai riuh. 

Harapan itu selalu ada, selama mentari masih hadir menghangatkan pagi yang membeku. 

Pandaan, 21 Juni 2026


Surabaya begitu terik hari ini, padahal katanya semalam habis hujan deras. Ya memang bukan kabar burung, bahu jalan menggenang, sudah mirip kubangan kebo (kerbau). 

Memang aku tak sedang di tengah kota yang selalu sibuk dengan harinya. Menampung jutaan orang, entah dari kota sendiri, atau kota tetangga. Tengok saja Suroboyo Bus tiap hari penumpangnya berjejalan.

Pinggiran kota tepatnya. Namun, jangan berpikir sepi dari aktivitas, sama saja! Bedanya, tak ada gedung tinggi menjulang layaknya di Jalan Tunjungan atau Mayjend Sungkono.

Mereka punya kesibukan sendiri, berdagang. Kanan-kiri jalan sangat mudah dijumpai lapak kaki lima yang khas. Ada yang bikin tenda seadanya lengkap dengan gerobak dorong, ada yang mangkal dengan motor dengan payung raksasanya.

Bahkan tak jarang yang berjualan dengan menggunakan elsapek. Ada timbangan, papan reklame dan tentu saja buah dan barang pecah belah. "Jual perabot rumah tangga, serba 5.000-an", "Jeruk segar, baru panen hanya 10.000-an/kilo".

Bukan tentang siapa yang terbaik, tapi siapa yang konsisten berbuat baik



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semesta Berdaya: Monolog Kersen di Tengah Krisis Ekologis

Masa keemasan dan Nostalgia Bukannya ingin menyombongkan diri, aku adalah tumbuhan favorit di era tahun 90-an, bahkan hingga awal milenium. Keberadaanku sangat dicari, terutama anak-anak. Mereka harus bersaing dengan kompetitor: burung, unggas dan berbagai satwa lainnya.  Aku termasuk pohon yang sangat mudah beradaptasi, terbukti aku bisa tumbuh di lanskap apapun—kadang di atas atap sekali pun, aku mampu bertahan hidup. Dari sisa feses hewan pun, aku bisa tumbuh dan berkembang biak. Di mana pun, aku cukup mudah dijumpai.  Namun, seperti makhluk hidup lainnya, jika aku boleh memilih, aku akan menunjuk tempat yang teduh, dengan suplai air yang melimpah. Konon, buahku sangat dinanti. Dari selentingan kabar yang beredar, ada khasiat istimewa: mencegah penyakit beri-beri. Konflik Manusia dan Burung Meskipun mulanya aku bagian dari rantai makanan burung-burung kecil, namun akibat ledakan jumlah manusia, kini habitat burung harus bertarung dengan mereka. Membludaknya populasi manusi...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Bali The Last Paradise

Boarding di Soekarno Hatta Menjelang Pagi Hari pertama, langsung gas. Tak kendor sedikitpun meski mata terasa berat. Kantuk melanda sebagian peserta. Efek berangkat dini hari, bahkan rombongan flight pertama (jam 05:00) sudah stand by di bandara Soetta sejak pukul 03:00 dini hari! Hebat bukan? Ya, peserta harus berada di titik kumpul sesuai arahan dari travel agent dua jam sebelum pesawat lepas landas. Hal ini untuk mempermudah baik panitia, agen perjalanan dan peserta koordinasi, dan pastinya tak ketinggalan pesawat!  Berangkat di pagi buta memang tak mudah bagi sebagian peserta (termasuk saya pribadi hehehe ). Dibutuhkan kemauan, semangat dan tekad yang luar biasa untuk bangkit dari tempat tidur, bersih badan alias mandi dan gosok gigi, jangan lupa pakai baju dan semprot parfum yang wangi! 😂 Beruntung itinerary sudah di share komite dari jauh hari. Jadi tak perlu bingung dan bimbang, bawaan yang “wajib” dibawa pada saat workshop berlangsung pun sudah lengkap diinformasikan,...