Langsung ke konten utama

Era teknologi: keterbukaan yang menelanjangi privasi

Susahnya menemukan ruang privasi di era digital

Di era digital arus informasi yang sangat deras, dan cenderung susah dikendalikan. Dampaknya, orang akan sulit mengelak apabila ketahuan berbohong atau melakukan kesalahan. 

Jejak digital! Ya, monster "mematikan" bak kartu truf bagi siapapun pelaku kejahatan. Rekam jejak, baik di medsos maupun kanal online lainnya, kini menjadi senjata ampuh untuk saling "serang".

Seolah tak ada tempat untuk bersembunyi dan kabur dari realita sosial. Perang terbuka di medsos menjadi tontonan yang lumrah. Kata-kata kotor, umpatan, ujaran kebencian, tak lagi bisa di filter

Kontrol sosial menjadi lemah tanpa kehadiran negara. Konfrontasi yang frontal tak terelakkan. Kekhawatirannya ketika informasi yang disampaikan adalah berita bohong, kemudian menyebar menjadi fitnah dan berujung chaos

Provokasi di media sosial, terbukti ampuh untuk menggerakkan masa. Hal ini tentu saja akan berbahaya jika ditunggangi kepentingan kelompok tertentu hanya untuk mengambil keuntungan pribadi.

Memang setiap zaman ada untung dan rugi

Pesatnya perkembangan teknologi saat ini tak serta merta membawa bencana sosial. Sudah berapa banyak orang yang waktunya lebih efisien, daripada harus antri di rumah makan? Atau antri tiket di loket konser? 

Kemudahan yang di dapat saat ini, membuat hidup masyarakat semakin efektif dan efisien. Belanja saja tinggal search barang yang dimaksud, dan pembayarannya pun tak perlu masukkan pin, hanya perlu sidik jari! 

Bandingkan dengan kondisi dua atau tiga puluh tahun yang lalu. Terbatasnya moda transportasi, perbankan dan fasilitas umum lainnya, membuat hidup ini terasa lambat dan susah. Namun, tidak ada istilah kesepian, karena semuanya dilakukan manual dan melibatkan interaksi antar individu. 

Bukankah sejatinya manusia itu makhluk sosial? Tentu saja. Namun jangan lupa, manusia juga makhluk individu yang mudah beradaptasi. Dua sisi yang bertolak belakang.

Semua bisa jadi public figure

Kalau dulu publik figur hanya terbatas pada pejabat negara, artis, tokoh politik, pemuka agama dsb. Namun seiring "bebas" berekspresi di era medsos ini, membuat pergeseran budaya yang signifikan.

Konten bisa dihasilkan dalam hitungan detik. Tak perlu melalui proses filtering dan editing, video atau konten cepat viral. Bahkan, tak perlu keterampilan khusus, yang penting boom, langsung terkenal.

Kehebohan ini akan semakin terasa meriah jika didukung oleh influencer dan followers-nya. Pesan berantai, bisa dikatakan seperti itu. Hanya dengan menekan tombol like and share, konten akan cepat tersebar.

Lantas bagaimana dengan aturan mainnya? Inilah yang sering ditabrak oleh pengguna medsos. Kebijakan privasi dan disclaimer menjadi prioritas ke sekian, yang penting konten meledak. Urusan hukum dan pelanggaran, dipikirkan belakangan, yang penting beken!

Menjadi selebritis dadakan tak hanya nyaman, tapi penuh resiko. Sudah berapa banyak Youtuber yang harus meregang nyawa ditangan fansnya sendiri? Atau bagaimana dengan kesehatan mental artis karbitan ini? Tak jarang pelarian mereka ke hal yang ekstrim, karena popularitasnya memudar.

Apakah sama keterbukaan dengan ketelanjangan?

Siapa diantara kita yang saat ini tidak punya alamat email? Bisa dipastikan mereka bukan pengguna smartphone! Meskipun pada saat membuat email bisa menggunakan data acak, namun tak berarti kita bisa lolos dari permintaan data pribadi!

Anda dengan mudah terlacak melalui smartphone. Bahkan titik koordinatnya pun  presisi. Akun anonim, juga bisa ketahuan dari aktivitas atau transaksi belanja online. Misalnya pakai platform tertentu, sudah pasti data seperti KTP atau identitas pengenalan lainnya yang merujuk, siapakah Anda sebenarnya? 

Era keterbukaan informasi "memaksa" pengguna teknologi untuk "menelanjangi" diri sendiri. Sudah berapa miliar data individu yang dijual di dark web? Lengkap dengan alamat dan nomor telepon! 

Semakin gencar berselancar, algoritma semakin paham siapa kita sebenarnya? Karakteristik, kebiasaan sehari-hari, tanpa kita sadari! Diam-diam kita sudah "telanjang" tanpa harus ditelanjangi. Dan itu fakta. 

Tak hanya visual, provokasi bisa lewat narasi

Kekhawatiran pemerintah tentang berita bohong (hoax) atau ujaran kebencian tak berlebihan. Kecepatan arus informasi, sangat tidak berimbang dengan tools yang tersedia. Alat penyaring ini seolah tak "berkutik" dengan input yang mereka terima.

Meskipun video pendek dan visual "lebih meyakinkan" untuk memperoleh perhatian publik, namun narasi (tulisan) yang berkembang, jauh lebih berbahaya, mengapa?

Tentu saja, media berbasis tulisan atau narasi masih cukup populer untuk dijadikan rujukan, terutama bagi penulis atau kuli tinta. Meskipun jumlah pembaca dengan viewer video jauh ketimpangannya. Anda cenderung team viewer atau reader

Tulisan bahkan bisa menjadi buku apabila diolah menjadi satu tema utama. Lantas bagaimana jika yang dikutip adalah informasi yang salah?

Privasi hanya berubah pola

Kalau dulu kerahasiaan itu cenderung mengarah ke siapa diri kita, maka saat ini mulai bergeser, seberapa jauh kita membuka diri di jagad maya. Tombol suka dan bagikan menjadi tolok ukur dalam bermedia sosial. 

Algoritma akan menyimpulkan pengguna A menyukai tema tentang parenting dari jejak digital mereka. Tak heran kalau timeline yang berseliweran akan mengerucut ke tema yang disuka. Mirip otak manusia, lebih suka hal yang berbau repetitif karena mudah diingat. 

Jaman dulu ada ungkapan, "mulutmu harimaumu", "lidah tak bertulang", keduanya bertujuan memperingatkan bahwa betapa berbahayanya mulut dan lidah ketika mengeluarkan kata-kata tajam, menghina, menghardik, membentak dan umpatan kasar lainnya. 

Saat ini justru kedua jempol yang memiliki andil untuk menyebarkan sebuah tulisan, foto atau video. Semudah jempol menari di atas layar gadget. Jika dulu mau mengutarakan pendapat mesti berpikir beribu kali, sekarang sambil rebahan dan buang hajat pun, masih bisa "mengumpat".

Era ber-medsos mengubah definisi ruang kerahasiaan menjadi keterbukaan. Justru yang harus di pertahankan adalah sisi kemanusiaan di tengah gempuran dunia maya. 

Perlu batasan antara emosi sesaat dengan logika (akal waras). Hindari konten negatif yang justru akan menggiring kita ke "pembenaran" di kehidupan nyata.

Otak dan hati menjadi senjata menghadapi serbuan konten dunia maya, untuk tetap menjadi manusia seutuhnya. 

Image made with Canva


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.  Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan!  Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat.  Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya ...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Piknik dan Olahraga di Hutan Kota Terbesar di Kota Malang

Malang semriwing Pagi ini Malang hawanya semriwing , bahkan sejak semalam. Ditambah anginnya yang cukup kencang, merontokkan dedaunan tanaman di depan rumah. Meskipun Agustus adalah puncak kemarau, namun fakta di lapangan, hujan masih saja turun dari intensitas ringan hingga sedang.  Hujan tak merata ini, sudah cukup mendukung hawa anyeb  di Kota Pendidikan . Kemarau tak selalu kering kerontang. Salah satu cara terbaik untuk melawan dingin pagi ini ya tentu saja berjemur. Beruntung mentari pagi ini cukup terik, dengan mendung tipis menggantung di atas langit. Mumpung pada off di weekday dari rutinitas, spontan aku mengajak keluar bocil dan emaknya. Tak jauh-jauh, kami meluncur ke Lapangan Rampal .  Anak wedok memilih mengenakan sepatu dengan kaos kaki panjang, menutup hingga persis di bawah lutut. Sepatu putihnya itu menantang warna kaos kakinya yang kontras, merah menyala! Lucunya dia menggunakan daster tanpa lengan. Emaknya langsung komplain, "Sebentar ku ambil jaket"...