Langsung ke konten utama

Kado Sumbang: Merawat Ingatan Tragedi Simpang Kraft Aceh

Renovasi membuat salah langkah

Lama tak berkunjung ke Perpustakaan Kota, padahal tak perlu waktu lama untuk menjangkaunya, hanya dua puluh menit dari tempat tinggal. Perpustakaan yang berada di kawasan Jalan Ijen, Kota Malang ini, letaknya cukup strategis.


Selain berada di kawasan elite, taman baca ini masih satu kompleks dengan Stadion Gajayana dan Mall Olympic Garden (MOG). Geser ke Barat, ada Universitas Negeri Malang dan Universitas Merdeka.


Sayangnya meskipun secara letak geografis cukup mendukung, namun tak sebanding dengan jumlah pengunjung perpustakaan. Lahan parkir luas, nan teduh karena dikelilingi pohon raksasa.


Pintu masuk utama sedang ditutup saat itu. Sedang ada pemeliharaan lantai. Pengunjung dilewatkan pintu samping. Saya dan keluarga termasuk yang kecele, buru-buru masuk dari pintu utama, eh lha kok ditutup. Sedang renovasi.


Terhitung baru kali ketiga sejak jadi member berkunjung ke perpus Malang. Ada perpustakaan khusus anak, di lantai dasar. Lengkap dengan mainan tentu saja. Di lantai dua, ada pojok Braille dan perpustakaan umum. 


Seperti khasnya perpustakaan, sebelum memulai membaca, pengunjung bisa melakukan penelusuran judul buku atau penulisnya. Ada informasi letak buku yang akan dibaca. Beberapa layar komputer tersedia di sana.


Atau kalau tak terburu-buru, bisa saja langsung ambil sesuai kemauan, random. Memang rak ditata sedemikian rupa berdasarkan temanya. Tentu sebelum baca, harus di data dulu, scan barcode ke petugas. Lalu buku siap di lahap!


Jurnalisme Sastrawi, Buku Lawas yang Masih Relevan Hingga Kini


Entah kenapa tiba-tiba secara acak, saya ambil buku berjudul Jurnalisme Sastrawi. Dari sampulnya terlihat cukup simple, sebuah botol plastik bening lengkap dengan tutupnya. Antologi liputan mendalam dan memikat.


Apa itu jurnalisme sastrawi? Apakah salah satu cabang ilmu jurnalistik? Atau hanya tata bahasa dan penyajiannya yang membedakan dengan ilmu jurnalis lainnya?


Membaca pembukaan bukunya saja begitu rigid dan urut. Sampai dengan puluhan halaman. Buku ini ditulis oleh mahasiswa yang bersekolah di luar negeri dengan kecemasan akan perkembangan jurnalisme di Indonesia.


Apalagi menengok sejarahnya, pasca kemerdekaan, penulisan berita antara era kolonial dan masa kemerdekaan, terputus. Artinya tidak ada kesinambungan antar masanya. Restart alias mulai dari awal.


Pola penulisan jurnalisme sastrawi tak jauh dari rumus 5W+1H. Teknik menulis yang mulai dikenalkan pada abad 20 oleh seorang penulis dan penyair Inggris, Rudyard Kipling.

 

Isi buku ini memang kumpulan dari beberapa karya tulis wartawan yang “dianggap” mewakili buku Jurnalisme Sastrawi.


Salah satu karya wartawati Chik Rini dengan judul Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft. Tulisan ini layak diacungi jempol, sudah mirip cerpen atau novel kelas wahid. Padahal isinya fakta tentang tragedi pilu di Aceh, awal tahun milenium.


Mulai dari tokoh yang diceritakan, hingga setting tempatnya sangat detail. Gaya penyampaiannya mengalir, keterlibatan setiap tokoh juga nyata, sehingga pembaca diajak larut dalam tulisan Chik Rini.


Urutan kejadian dan waktunya juga digambarkan dengan sangat apik. Bagaimana kerusuhan bermula, hingga ending dari liputannya juga menyentuh hati. Fakta yang ditulis mirip film fiksi.


Bagaimana rasa haus berubah menjadi trauma dan kesedihan bagi wartawan RCTI yang bertugas. Berdinas di daerah konflik sudah menjadi hal biasa, termasuk liputan di Timor-Timur (saat ini Timor Leste) dalam menghadapi referendum, di Aceh pun sama. 


Bedanya Aceh tak lepas dari NKRI hingga kini.


Konflik ini bermula dari ketidakpuasan masyarakat Aceh terhadap perlakuan “Jakarta” (pemerintah pusat) terhadap mereka. Ada beberapa pabrik besar seperti pupuk dan pabrik kertas, namun justru rakyatnya menderita. Bahkan, banyak yang hidup jauh dari kata layak.


Hasil bumi tak bisa mereka nikmati, kecuali kerusakan alam. Dari sinilah perlawanan dimulai. Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Setiap dakwah pemuka agama di sana, selalu menyelipkan ceramah tentang jihad.


Ketidakadilan menjadi motivasi mereka untuk lepas dari Indonesia. Mereka semakin curiga ketika setiap proyek strategis nasional, selalu ada tentara atau ABRI yang berjaga. Kehadiran mereka seperti teror yang disengaja.


Puncaknya salah satu anggota tentara yang biasa ikut pengajian yang dicap “radikal”, hilang secara misterius, Sersan Dua Aditia. 


Tugas rahasia itu rupanya terendus oleh kelompok masyarakat Aceh Merdeka. Mereka menganggap anggota Arhanudal itu memata-matai kegiatan dakwah dan pengajian. 


Sejak saat itu tentara semakin rajin masuk ke kampung. Menyisir setiap tempat yang dicurigai tempat tugas terakhir. Warga yang tak nyaman mulai gusar. Mereka merasa terancam dan terintimidasi. 


Akhirnya kedua kelompok, warga dan militer sepakat berdamai. Malam sebelum kejadian ada selentingan kabar bahwa kampung Bangka Kaya akan diserang aparat. 


Ditambah lagi informasi tentang pembakaran meunasah (mesjid) di Simpang Kraft. Provokasi penganiayaan aparat terhadap ulama juga digaungkan dari pengeras suara masjid dari kampung sebelah. Bara sedang di sulut! 


Tak pelak emosi warga terakumulasi secara cepat mendengar kabar tersebut. Keesokan harinya, masa dari berbagai wilayah, perlahan mulai berkumpul di Simpang Kraft.


Ada rombongan empat kompi yang bersiaga di dekat persimpangan itu. Mereka berpencar di semua sisi di Simpang Kraft. Salah satunya dari satuan Arhanuds yang standby di sebuah lahan kosong yang berseberangan dengan deretan ruko.


Rupanya konsentrasi massa ini membuat warga sekitar yang tak tau apa-apa, ikut nimbrung di dalamnya, tak terkecuali anak-anak pulang sekolah.


Sorak-sorai menggema, rakyat menuntut referendum. Salah satu koordinator aksi naik ke atas truk untuk berorasi. Faisal namanya.


Awalnya semua berjalan baik-baik saja.


Aparat yang berjaga di antara kerumunan itu tetap tenang, hanya berjarak dua puluh meter dari kerumunan massa. Panas sangat terik, tak ada awan sedikitpun yang mencegah sinar matahari menghujam permukaan bumi.


Mereka bersorak dan berteriak “Hidup Referendum” “Merdeka, Merdeka”. Cangkul, parang, kayu dan tombak menyembul tinggi di atas kepala ketika kamera menyorot mereka. 


Reporter RCTI yang berada di lokasi pun dengan sigap mengambil video, merekam setiap kejadian saat itu. Tak ada wajah tegang dari petugas yang berjaga. Tentara hanya tersenyum melihat tingkah para demonstran. 


Bahkan mereka (tentara)terlihat bertukar api untuk menyulut rokok dengan demonstran. Meskipun kata kasar dan hujatan terlontar dari kerumunan massa. 


Jam menunjukkan pukul dua belas. Tak sedikitpun masa terlihat surut, malah bertambah. Suhu pun semakin membara, bahkan saking panasnya, Ali Raban (wartawan RCTI) terpaksa meminta air minum ke peserta demonstrasi, seorang anak sekolah dasar menggenggam botol minum yang isinya tak utuh lagi menyodorkan padanya.

"Tratatatatatata" tiba-tiba berondongan peluru mengarah ke demonstran. Disusul tembakan-tembakan berikutnya dari kompi yang sedang siaga saat itu. Massa pun berlarian tunggang langgang. Situasi berubah mencekam. 

Tembakan dari jarak dekat menghujam demonstran secara membabi buta. Situasi tak terkendali, terlihat beberapa tumpukan manusia di jalanan. Wartawan RCTI yang ada dalam segerombolan orang tadi juga menjadi sasaran. 

Banyak diantara demonstran tiarap. Menghindari peluru tajam yang terus meletus ke arah mereka. Wartawan yang pernah malang melintang di area konflik itu, mengira demonstran yang tergeletak di jalanan hanya akting, Pura-pura tumbang agar tak menjadi sasaran tembak. 

Namun, seketika wajah dan hati mereka tergetar, mendapati anak kecil yang menyodorkan minum untuknya, bersimbah darah. Bagian kepalanya lubang tertembus peluru tajam aparat. Kekacauan itu hampir setengah jam lamanya, tak meredah. 

Sebuah tragedi yang memilukan. Rakyat yang tangan kosong, harus dihadapi dengan peluru tajam. Setidaknya dari data Kontras, ada 7 korban anak yang tak berdosa jadi korban. 46 tewas, 156 luka tembak dan 10 orang dinyatakan hilang. Ajaibnya tak satu orang pun ditetapkan sebagai tersangka! 

Selamat hari kemerdekaan Indonesia. Negeri yang penuh sumber daya melimpah. Semoga rakyatnya Gemah Ripah Loh Jinawi! Aamiin. . 

Indonesia sedang mencari jalan keadilan. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.  Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan!  Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat.  Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya ...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Piknik dan Olahraga di Hutan Kota Terbesar di Kota Malang

Malang semriwing Pagi ini Malang hawanya semriwing , bahkan sejak semalam. Ditambah anginnya yang cukup kencang, merontokkan dedaunan tanaman di depan rumah. Meskipun Agustus adalah puncak kemarau, namun fakta di lapangan, hujan masih saja turun dari intensitas ringan hingga sedang.  Hujan tak merata ini, sudah cukup mendukung hawa anyeb  di Kota Pendidikan . Kemarau tak selalu kering kerontang. Salah satu cara terbaik untuk melawan dingin pagi ini ya tentu saja berjemur. Beruntung mentari pagi ini cukup terik, dengan mendung tipis menggantung di atas langit. Mumpung pada off di weekday dari rutinitas, spontan aku mengajak keluar bocil dan emaknya. Tak jauh-jauh, kami meluncur ke Lapangan Rampal .  Anak wedok memilih mengenakan sepatu dengan kaos kaki panjang, menutup hingga persis di bawah lutut. Sepatu putihnya itu menantang warna kaos kakinya yang kontras, merah menyala! Lucunya dia menggunakan daster tanpa lengan. Emaknya langsung komplain, "Sebentar ku ambil jaket"...