Langsung ke konten utama

Menghibur Ndasmu! Perayaan Agustusan yang Kehilangan Makna

Upacara bendera dan dangdutan

Sebelum dangdut masuk “istana”, saya begitu menikmatinya. Sampai sekarang pun sama, namun berbeda ketika dangdut digunakan “lagu wajib”, saat acara sakral seperti upacara bendera. 


Sejak bocah kecil yang viral karena “lagu dewasa” dinyanyikan, sejak saat itu saya mulai kehilangan selera. Meskipun lagunya sedang hits, namun menurut saya tak layak ditampilkan di panggung kemerdekaan. 


Apalagi itu acara inti. Setelah khidmat mengenang jasa pahlawan, langsung disuguhkan joget-joget nggak jelas. Rasanya arwah pahlawan malu melihat penerusnya seperti itu.


Tak seperti pepatah, isuk dele, sore tempe


Herannya peserta juga larut dalam acaranya, begitu cepat berubah, karena tak butuh waktu seharian untuk berubah, cukup hitungan menit!


Dari tahun ke tahun, undangan untuk tamu yang sedang viral selalu muncul. Hedonisme mulai menjamah negeri, termasuk peringatan detik-detik proklamasi.


Menurut saya, acara yang pantas disajikan ya karya dan prestasi terbaik karya anak bangsa. Putra-putri terbaik bangsa layak diberikan apresiasi dan panggung untuk lebih dikenal.


Sayangnya itu belum terjadi. Komite peringatan hari besar nasional masih sibuk dengan hiburan, yang penting happy, viral dan senang di apresiasi. Wah keren ya acaranya, menghibur! Kalau saya boleh mengambil kata Pak Presiden Prabowo, “Menghibur Ndasmu!!”


Masih menurut saya, sejujurnya dari tahun ke tahun pelaksanaan upacara di istana negara, mulai kehilangan marwahnya. Penuh gimmick, settingan dan jilatan!


Konsep upacara bendera harus tetap sakral. Waktu yang tepat menjelaskan capaian pemerintah. Bukan war ticket mirip konser. Terus dengan bangga, bilang, “peserta war ticket perayaan HUT RI capai lima ratus ribu orang”, hanya senyum baca running text itu, geli, gemes dan pingin marah!


Penduduk NKRI hampir tiga ratus juta! Nolnya delapan! Bukan lima seperti yang digembar-gemborkan, sepintas banyak, tapi coba hitung persentasenya dengan jumlah penduduk, nol koma enam belas persen!


Pesta rakyat yang unfaedah. 


Setiap gelaran upacara selesai, malamnya atau keesokan harinya lanjut pesta yang lebih meriah! Mirisnya gejala ini sudah ada di pelosok daerah.


Saya bukan tidak senang dengan karnaval, pesta budaya atau apapun sebutannya. Saya prihatin dengan cara merayakannya. Dulu, ide karnaval memang untuk melestarikan budaya. 


Mengenalkan pada generasi muda, generasi penerus bangsa. Selalu ada tema dalam gelarannya. Entah itu tema perjuangan, adat istiadat atau keragaman budaya lainnya.


Sejak sound horeg viral dan dangdut koplo merajalela, saat itu kita mulai lupa esensi pawai budaya. Dulu sebelum sound horeg viral, orkes Melayu atau dangdut koplo laris manis. 


Agustus itu bulannya orkes. Demi mendatangkan artis biduan, berikut pemain orkes dan sound sistemnya. Panas dingin diterabas, yang penting senang, bisa joged dan nyawer. Belum lagi tawuran akibat minuman beralkohol, lengkap!


Hedon yang tak disengaja, tapi sudah menjadi budaya


Terlepas apapun alasannya, budaya itu semakin melekat di masyarakat. Agustus dijadikan bulannya pesta. Mahal tak masalah, yang penting bersenang-senang. Lupa dengan inti acaranya. 


Sound horeg, terutama di Jawa Timur sudah jadi pilihan utama untuk merayakan kemerdekaan. Bahkan di kampung saya, rela sewa puluhan juta demi menggetarkan seisi kampung. 


Satu set sound horeg tak cukup, per RT! 5 RT berarti 5 set. Mau menolak, sudah kesepakatan warga, suara terbanyak. Tidak ada pilihan, ikut saja! Hasilnya? Telinga panas! Otak dan fisik capek, karena dipaksa mendengarkan kebisingan dari berbagai penjuru. Kapok!


Saya hanya berpikir, bagaimana operator dan penarinya bisa sekuat itu telinga dan tubuhnya? Pakai headset? Suaranya memang tak tak terdengar, lantas bagaimana dengan getarannya? Bisa dihindari? Tidak!


Bahkan anggota dewan pun nyawer dangdutan!


Malam tirakatan di kampung biasanya diisi dengan doa bersama atau bermuhasabah. Bagaimana gotong royong, guyub, rukun senantiasa tercipta antar tetangga. Bahkan di momen inilah sebetulnya peringatan kemerdekaan yang sesungguhnya.


Ada yang menyebut barikan deso, ada yang ruwat deso, sedekah deso apapun bahasanya, semuanya baik, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat kemerdekaan.


Warga biasanya berkumpul di balai RT, RW atau di ruang pertemuan desa dengan membawa makanan dan minuman. Ramah tamah antar sesama warga dan tak jarang, bikin panggung kecil untuk pentas seni. 


Dulu sering saya mendengar dan membaca, temanya tak jauh dari kata-kata Gebyar Pentas Seni Kemerdekaan. Berbeda dengan sekarang, temanya selalu mengikuti pusat dengan bahasa langit yang tak semua paham!


Malam itu flare merah menyala. Terlihat dari kejauhan, asap tebal membubung. Pemuda pemudi larut dalam prosesi kirab tumpeng. Lirih suara MC dengan bahasa Jawa halus mengiringi langkah rombongan.


Tumpeng mungil yang tak sebanding dengan ukuran meja dan pemanggulnya itu diarak menuju panggung utama, diletakkan persis di tengah. Setelah berhasil menerobos kerumunan warga yang turut memeriahkan malam tirakatan.


Sambutan demi sambutan dilalui dengan hikmat. Rupanya ada anggota dewan dari Kota Malang yang hadir. Dari sambutannya si Ibu sih katanya dari Dapil situ, termasuk RW yang sedang punya hajat. Membidangi keuangan dan koperasi.


Tutur katanya halus, khas pejabat dan anggota DPR. Santun. Sampai pada waktunya MC mulai memanggil penampil pertama. Saya cukup terkejut, bukan drama kolosal kemerdekaan, lagu nasionalisme atau tarian daerah, tapi dangdut! 


Judulnya gadis manis Kota Malang. Lha kok nyanyinya, “U.. u.. u apa” Duh gusti, dangdut lagi. Lagi-lagi dangdut. Sekali lagi, bukan saya benci dangdut, justru saya suka, tapi ya mbok pada tempatnya kalau dangdutan itu. 


Penyanyinya duet. Usia perkiraan masih sekolah dasar. Suaranya tak merdu, malah fals. Musik kemana, suara kemana, tak nyambung. Tapi ya wes lah. Hiburan gratis. 


Ujug-ujug anggota dewan larut mendengar musik yang jedag-jedug, berdiri dan berjalan sambil mengibaskan uang lima puluh ribuan. Disawer lah penyanyi dadakan itu.


Ada dua orang penyawer, satu lagi bapak-bapak warga sekitar. Masing-masing lima puluh ribu. Dua kali musik dangdut, dua kali pula nyawer. Ah basi!


Berbeda dengan yang dialami peserta berikutnya. Suaranya bagus, lagunya tentang nasionalisme, tariannya juga keren, melestarikan budaya negeri tercinta, namun tak dapat apresiasi selayaknya pelantun lagu dangdut. Semoga dugaan saya salah. 


Saya khawatir cita-cita generasi ini lebih memilih jalan pintas untuk menjadi sukses. Nyanyi-nyanyi, joged-joged, dapat uang. Sayangnya hidup tak seindah perayaan upacara detik-detik proklamasi.


Hemat saya, Agustusan tak melulu tentang pesta. Ada marwah yang harus dijaga, ada nilai yang harus tertanam kuat, persatuan. Kalau ada pejabat yang mengaku paling nasionalis dan cinta NKRI, lantas kemudian ketahuan nyolong uang negara, masih layakkah kita akui sebagai warga negara Indonesia?


Hukuman yang tak setimpal, hanya akan menjadi luka. Luka bisa sembuh, tapi ingatan itu abadi. Indonesia bukan milik penguasa!


Penutupan panggung yang keren, teatrikal penyobekan bendera di Hotel Yamato, Surabaya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekal yang Tertinggal, Hati yang Pulang

Pagi tanpa kompromi Pagi masih belum disapa mentari sempurna, masih gelap, redup, sepi. Namun, jalan sudah basah, padahal semalam tak turun hujan. Persis di tikungan jalan keluar kampung. Ternyata penjual nasi-lah yang menyiram. Memang tepat di belakangnya mengalir sungai yang cukup jernih dengan debit air yang melimpah.  Meskipun sudah memasuki kemarau, tapi hujan tak pernah sungkan untuk datang. Orang bilang saat ini sedang “kemarau basah”. Kadang untuk memilih nama saja, kita kesulitan. Jangankan hati, bahasa saja orang tak sanggup menerjemahkan!  Pagi ini terburu-buru untuk berangkat, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati sunyinya Subuh. Emakku sedang asyik mengajakku ngobrol, sampai lupa bahwa elf yang akan membawaku ke kota pahlawan, lima menit lagi akan berangkat.  Arloji yang melingkar di tangan kiriku seolah tak kenal kompromi dengan waktu. Tak pernah molor, tak juga dipercepat, pas! Arloji tak pernah ingkar janji, kecuali baterainya minta ganti atau waktunya ...

Pura-pura Banyak Gaya

Rocky Gerung dan Menkeu Baru Kalimat menggelitik dan penuh satire ini membuat bibir ini mengembang, meskipun sedikit mengering. Bahkan kulit ari-nya terasa terkoyak karena tawa ini tanpa suara, perih. Seharian duduk di depan komputer dengan "rutinitas" yang cukup menguras isi kepala. Video ini sontak membuat kacau otak, harus mereset fokus yang sedang saya lakukan dengan keras.  Siapa lagi kalau bukan ulah Rocky Gerung , si " Raja Debat ", sekaligus akademisi yang tak pernah "terbawa emosi". Namanya melejit karena begitu vokal mengkritisi kebijakan ataupun statement penyelenggara negara! Bahkan kontroversi "mengkritik" sekelas presiden pun, pernah beliau lakukan. Keren sih!  Sikap kritis yang mulai terkikis seiring "perubahan politik" dinamis. Berani beda, ketika koalisi parpol di pemerintahan semakin "gemuk". " Koalisi keroyokan " ini bukan tak beresiko, karena mayoritas parpol akan "diam" ketika jatah d...

Piknik dan Olahraga di Hutan Kota Terbesar di Kota Malang

Malang semriwing Pagi ini Malang hawanya semriwing , bahkan sejak semalam. Ditambah anginnya yang cukup kencang, merontokkan dedaunan tanaman di depan rumah. Meskipun Agustus adalah puncak kemarau, namun fakta di lapangan, hujan masih saja turun dari intensitas ringan hingga sedang.  Hujan tak merata ini, sudah cukup mendukung hawa anyeb  di Kota Pendidikan . Kemarau tak selalu kering kerontang. Salah satu cara terbaik untuk melawan dingin pagi ini ya tentu saja berjemur. Beruntung mentari pagi ini cukup terik, dengan mendung tipis menggantung di atas langit. Mumpung pada off di weekday dari rutinitas, spontan aku mengajak keluar bocil dan emaknya. Tak jauh-jauh, kami meluncur ke Lapangan Rampal .  Anak wedok memilih mengenakan sepatu dengan kaos kaki panjang, menutup hingga persis di bawah lutut. Sepatu putihnya itu menantang warna kaos kakinya yang kontras, merah menyala! Lucunya dia menggunakan daster tanpa lengan. Emaknya langsung komplain, "Sebentar ku ambil jaket"...