Langsung ke konten utama

Topeng: Antara Ngopi dan Melamun

"Bro, weekend kita jalan kemana?" "Ngopi bareng yuk, Sob?", "Bagaimana kalau kita hiking tipis-tipis, nyari hawa segar?". " Jogging rame-rame yuk di car free day!" Atau ajakan lain yang sifatnya "kolektif", pastinya familiar dong dengan kalimat-kalimat itu? 

Sewajarnya manusia memang hidup secara berkelompok dan berinteraksi satu sama lain. Manusia memang tercipta saling bergantung, tak hanya dengan sesama, tapi juga dengan sekitarnya, termasuk alam. 

Saking sosialnya, terkadang jelema lupa untuk menjadi diri sendiri. Takut ditolak, takut tak "sefrekuensi", takut berbeda pendapat, dan masih banyak ketakutan-ketakutan lain, yang menjadi momok masing-masing individu. 

Makhluk sosial itu lebih memilih berdamai dengan keadaan diluar dirinya, demi satu tujuan, penerimaan! Mereka cenderung bertahan dan menerima begitu saja kondisi yang dihadapi. Beruntungnya Tuhan memberikan kemampuan adaptasi yang luar biasa itu! 

Banyak bertanya daripada menjawab

Entah sudah berapa buku dan teori yang mengatakan bahwa manusia itu makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Hingga kini, pendapat itu tak terbantahkan. 

Namun, ketergantungan yang berlebihan membuat seseorang akan sulit berkembang. Di level sekolah atau kuliah, siswa atau mahasiswa yang aktif, akan memiliki nilai plus, dibanding mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang) dan 3D (datang, duduk, diam). 

Itupun berlaku di kehidupan nyata! Tengok saja berapa pekerja atau karyawan yang justru sukses setelah resign? Tak banyak, namun apa yang mereka lakukan? Eksperimen! Yap, benar!

Mereka tak hanya bekerja untuk perusahaan, namun berusaha mencari informasi sebanyak dan sedetail mungkin. Update skill, menambah jaringan, belajar bernegosiasi, dan tentu, keberanian! 

Mayoritas, level mereka sudah menemukan jawaban, bukan melempar pertanyaan! Bukankah jawaban atas pertanyaan dari orang lain adalah perspektif dan cara pandang dari sisi penjawabnya? Bisa berdasarkan informasi dari orang lain dan pengalaman yang sudah dijalani. 

Jawaban orang lain tak bersifat mutlak. Ada baiknya Anda mulai menemukan jawaban sendiri, meskipun terkadang masih salah. 

Saya masih ingat dawuh guru sekolah dasar saat ulangan atau THB (Tes Hasil Belajar), "Ayo kerjakan sendiri, nggak usah nyontek temannya. Salah nggak apa-apa, namanya juga belajar". 

Manusia adalah Persona

Manusia dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai personality, dari kata persona, dari bahasa Latin yang berarti topeng. Sederhananya, karena manusia itu pandai menyesuaikan diri, maka "keterampilan" untuk berperan dalam "panggung" berbeda, mereka akan dengan cepat beradaptasi. 

Menjadi profesional, mereka akan cenderung berbicara secara data dan kata yang formal. Based on SOP, bertanggung jawab dan berintegritas. Interaksinya akan berubah ketika nongkrong di kafe, aura "keakuan" muncul dengan vulgar. Cekikikan, tertawa lepas, bahkan misuh-misuh. 

Topeng akan mengikuti peran dan kondisi. Bukan hal yang salah untuk memakai topeng berbeda, namun problemnya adalah ketika topeng yang Anda kenakan overdosis atau berlebihan. 

Memuaskan orang lain agar dapat diterima dalam circle tertentu memang perlu, namun yang perlu diingat adalah batasan atau constraint. Ada waktunya Anda, mendeklarasikan siapakah diri Anda sebenarnya. Tugas Anda bukan hanya untuk menyenangkan semua komunitas atau keluarga. 

Ketidaknyamanan cenderung dihindari manusia manapun. Termasuk penolakan. Pada akhirnya manusia akan menekan dan mengabaikan sesuatu yang sebenarnya "beban" bagi dirinya sendiri. Ada saatnya Anda melepas topeng, dan menjadi pribadi seutuhnya. 

Ketika diri sendiri bukan lagi prioritas, saat itulah masalah perlahan akan datang. Normalisasi terhadap keadaan yang dipaksakan, perlahan menjadi rintangan tersendiri. Akibatnya, menemukan jawaban siapa aku saja susah.

Memakai topeng itu ada jeda

Dalam pementasan pun setiap lakon memiliki waktu atau durasi dalam mengenakan topeng. Bisa jadi engap, bisa jadi panas dan keringatan. Pun begitu dengan topeng sosial. 

Berikan jeda agar topeng itu tertanggal, lalu biarkan diri Anda menikmati "kesendirian" untuk menjadi aku. Self-aware, bukan hanya self reward yang dibutuhkan.

Jadilah diri sendiri meskipun sesaat, ini diperlukan agar Anda menemukan siapakah sebenarnya diri Anda. Nikmati setiap detik kesendirian Anda. Bisa dengan berjalan kaki, berdiam di ruangan, menikmati film atau lagu kesukaan Anda.

Biarkan keseimbangan itu terjadi. Ada saatnya menjadi lakon dalam panggung, ada kalanya Anda jadi diri sendiri, meski satu jam untuk melamun.

Tulisan ini bagian dari rangkuman buku Aku yang Sudah Lama Hilang, Karya Nago Tejena, M. Psi. 

By: Randy Herlambang
Ditulis 04 Juli 2026 
Lereng Pawitra, East Java. 
Puncak Pawitra dari Lore Omah Cafe and Resto, Trawas., Mojokerto

Salah satu halaman yang menjadi leverage untuk menulis dan merangkum. 





Komentar

Posting Komentar

Terima kasih telah mengunjungi www.besongol.xyz
Silahkan tinggalkan komentar

Thank you for visiting
www.besongol.xyz
Please leave the comment